dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Tuesday, 2 February 2016

Bukan Pelit Nilai


Dear adek2 mahasiswa kesayangan miss dini angkatan 2015/2016. Congrats untuk yg dapat nilai A, B, maupun C. Again, nilai is just a matter of numbers and letters. Nilai bukanlah ukuran kecerdasan. But please note this: hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Kalau merasa hasil tidak sesuai dengan usaha yang sepertinya sudah maksimal, it means you need to change your perspective a lil bit. Bagi kami (saya dan rekan2 guru lainnya), memberikan nilai 80, 90, A+, B- dst adalah hal mudah. Tinggal ubah data di excel, ganti 60 menjadi 90, voila! Muncullah angka A di siakad dan transkrip kalian kelak. Pertanyaannya, apa kita layak dengan nilai itu? Apa kita yakin nilai A di transkrip/siakad tersebut bisa kita pertanggungjawabkan?

Tapi miss, teman saya yang biasa2 saja nilainya kok bisa A? UASnya kok bisa tinggi? Ada 2 kemungkinan: 1. Karena dia rajin, mengulang materi dengan sungguh2 ketika akan UAS, 2. Karena dia mencontek saat UAS. Orang rajin bisa mengalahkan orang pintar. Orang mencontek tak akan selamat di akhirat. Please do remember that. Oh, 1 kemungkinan lagi: lucky guess, alias tebak2 tapi benar.

Tapi lagi miss, saya aktif di kelas, tak pernah absen, rajin bertanya, sudah mengerjakan perbaikan dari soal di blog miss dini, tapi kenapa nilai saya C? Kemungkinan besar karena jeblok banget di UAS. FYI, ada yang nilai UASnya harus saya katrol sekian puluh poin dari nilai aslinya demi bisa minimal C, lulus, sehingga tidak perlu mengulang tahun depan. Kalau tetap ingin perbaikan supaya nilainya lebih baik, well that's your choice.

Once again, nilai is only a matter of numbers and letters, nilai hanyalah bonus. Jadilah mahasiswa yang studying-process oriented, bukan mahasiswa yang scored oriented. Berorientasi pada proses belajar dan ilmu yang didapatkan selama di kelas, jangan jadi mahasiswa yang berorientasi nilai tapi ketika ditanya "Where are you from? What do you think about education in Indonesia?" etc lantas diam melongo. Jangan gampang menuduh guru atau dosen pelit nilai, kalau sebagai mahasiswa, kita pun malas dan tidak antusias belajar, jarang hadir di perkuliahan, dan telat mengumpulkan tugas.  

Nilai yang tertera di buku rapor dan transkrip nilai yang menyertai ijazah kita kelak itu nanti hanya membantu di langkah pertama ketika akan, sebut saja, melamar kerja. Di lapangan pekerjaan, no one cares about your scores. Yang orang-orang pedulikan adalah skill, attitude, dan kinerja kita. Nilai sempurna tapi tidak punya skill, attitude nol, dan malas-malasan, then just get ready to be left behind.

Tolong bantu saya agar ringan langkah saya menuju syurga, karena tujuan utama saya pindah dari Sekadau ke Pontianak untuk kembali berkarir lewat jalan mengajar adalah agar ilmu yang Allah titipkan pada saya menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi amalan yang tak terputus ketika saya meninggal kelak.

Semoga nyampe di hati dan jangan merajok yesh sama miss dini kalo nilainya ndak sesuai dengan ekspektasi. I give you what you deserve :) Dan, kalau memilih mengulang di semester depan, belajarlah dari kekeliruan di semester kemarin. Good luck, dan semoga dapat A :D

Friday, 10 April 2015

Vacation Project: A Present to My Dad

5 years ago this month, April 8, I was officially getting my S.Pd degree after accomplishing the skripsi examination. I announced the good news to my dad as a birthday present for him. Here it is, pak. Your only daughter finally finished her study.

Today, I was crying on my way to his grave, imagining how happy he would be to know that today I’ve registered for my thesis examination, my so-called Vacation Project. Insya Allah I will do the exam next week, April 17, 2015. And the process to the exam is done in the day he was born, April 10 :’) So, this is also a present for him.

Nothing along the process of doing the project will be so smooth as I experienced today without the willingness and power of Allah The Almighty. Which maybe the power is delivered because He granted my father and my mother’s prayers. Also my husband’s. And close friends’. “Then which of the Blessings of your Lord will you both (jinns and men) deny?” (ArRahman : 13).

I feel like to copy paste the acknowledgement page of my thesis for this post but I think it also won’t be enough. Nobody can reimburse their kindness to me but Allah. So, let’s just wait, I believe Allah will give them all His blessings in various ways :)

This won’t be the end of my journey in pursuing my passion. I don’t know how, but I believe there will be the next steps I will go through. Insya Allah.

Friday, 13 March 2015

To be remembered

Beberapa pekan lalu, saya mendapat kabar yang bikin shock. Salah seorang teman seangkatan saya di kampus, Hardiana, dipanggil Allah dalam usia yang masih muda. Seumuran saya. 27, atill young, no? Perantara ajalnya adalah sakit anemia aplastik dan maag kronis. Berita itu mengingatkan saya bahwa maut tak kenal usia. Kematian tak mensyaratkan kita harus tua dulu. Begitulah.

Hal pertama yang terlintas ketika mendengar kabar beliau telah tiada adalah senyum dan candanya yang khas. Meski kami teman sekelas semasa kuliah, tapi kami bukan teman akrab yang rutin berjumpa dalam kurun waktu tertentu. Tak juga rutin berkirim pesan lewat berbagai aplikasi messenger atau layanan sms. Apalagi berbagi kabar lewat panggilan telepon. Tak pernah. Namun ketika kami berjumpa di kampus, khususnya ketika tak ada lagi proses belajar mengajar rutin seperti di semester -semester awal perkuliahan, Hardiana selalu dengan hangat melontarkan canda dan berbagi tawa riangnya dengan saya. Tak akan pernah saya lupakan.

Maka ketika saya dan teman-teman mendapat kabar duka itu, saya merasa seperti kehilangan teman akrab. Sedih. Tak menyangka. Meski pastilah tak sesedih keluarga dan kawan-kawan akrabnya.

So that is how we remember her. Hardiana yang ceria. Hardiana yang sanggup membuat kami merasa seperti teman akrabnya. You will always be remembered, Hardiana :')

Kelak ketika kita tiada, seperti apakah kita akan diingat? Tak bisa dibuat-buat. Orang-orang akan mengingat kita apa adanya kita. Jadilah diri sendiri. Jadilah yang terbaik dari diri kita sendiri. Bukan semata untuk dikenang orang-orang. Tapi supaya di akhirat sana Allah berikan rahmatNya agar kita bisa berkumpul di syurga bersama mereka yang kita sayangi.