dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Friday, 10 May 2013

Belajar Memaafkan dari Baginda Rasulullah

Belakangan ini lagi seneng bikin postingan curcol. And that's this blog is for dari awal saya buat. Bedanya, kalo dulu curcolnya dhz sentris, kali ini curcolnya agak melebar menjadi dhz sentris dan beberapa ikhwah sentris :p

Pic courtesy: here

Berkali-kali saya mengasihani para pembenci. Entah kasih(an) atau kasih (sayang) yang layaknya diberikan kepada para pembenci ini. Keduanya mungkin.



Saya kasihan melihat mereka. Membenci karena lebih banyak mendengar dari sumber yang pincang sebelah. Bolehlah jika saya katakan, mereka benci karena tidak tau, atau tak mau tau, atau mereka benci karena, pokoknya benci!

Semakin kasihan melihat mereka. Mulut sembarang berbicara. Jemari dengan lentur ikut mengetikkan kata-kata prasangka. Sementara yang mereka benci tengah sibuk bekerja, sepenuh cinta, dalam rangka kebaikan bersama. Bahkan kebaikan untuk yang membenci. Hanya saja mereka tidak tau. Tak ada media mainstream yang sudi memberi tau.

Terlalu melimpah benci di hati mereka, hingga yang tampak: membenci adalah satu-satunya pekerjaan mereka. Hanya saja, benci mereka itu tidak dibayar. Oh, barangkali terbayar dengan puasnya hawa nafsu karena telah membenci. Entahlah, saya tak berpengalaman. Kamu mungkin tau rasanya? Membenci dan selalu ingin mencaci karena kamu tak tau, kamu tau kan rasanya?

Ah, bagus deh kalau tak tau. Berarti bukan kamu yang membenci :3

Namun, jika pun kamu yang membenci, selain mengasihani, saya kini tengah belajar memaafkan dari Baginda Rasulullah.

Ketika Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dilempari dan dihina di Thaif, malaikat penjaga gunung datang, mengucap salam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”.

Lalu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jangan! Tetapi aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata-mata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun”.

Sungguh menakjubkan teladan kekasih Allah :') 

Jika biasanya saya mendoakan orang tua, suami, para sahabat, kerabat, dan saudara seperjuangan, tampaknya kini para pembenci pun harus saya tambahkan dalam daftar doa, agar anak keturunan mereka kelak mau menjadi generasi yang cerdas, dan tidak sembarangan menaruh benci.

Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Ni'mal maula wa nikman nashiir.


18 comments:

  1. sama kayak mas Raw. nggak suka membenci.

    ReplyDelete
  2. kalau semua orang di dunia ini seperti rosulullah...pasti gak ada permusuhan dan masalah..

    ReplyDelete
  3. kalau semua orang di dunia ini seperti rosulullah...pasti gak ada permusuhan dan masalah..

    ReplyDelete
  4. Rasulullah merupakan suri tauladan kita semua. Terima kasih telah berbagi. Salam.

    ReplyDelete
  5. mari kita bergandengan tangan dan katakan NO untuk membenci dan katakan YES untuk cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. cinta cinta cinta....buktikan dengan cintaaaaa

      Delete
    2. saya gandengannya jangan deketan sama Akang ya, takut ketularan gokilnya

      Delete
  6. berat sepertinya, tapi kita mencoba meneladani beliau semampu dan semaksimal mungkin

    ReplyDelete
  7. Sabar dan mudah memaafkan adalah ilmu yang mudah diingat namun sudah untuk dijalankan :)

    ReplyDelete
  8. Hampir semua orang2 panutan sudah memberi contoh.. sialnya, pengikut2nya masih ada yang membangkang, tulah manusia...

    ReplyDelete
  9. membenci itu mudah tapi memaafkan orang yg membenci kita itu sulit di jalani....
    Bgtulah manusia....

    ReplyDelete
  10. Betapa teladan kita, Rasulullah Saw., itu sangat luar biasa ya...

    ReplyDelete
  11. tapi Mbak, terkadang memaafkan rasanya kok ndak ikhlas gitu yah? biasanya ini udah terlalu menyakiti hati seorang perempuan...kata bang haji TERLALU

    ReplyDelete
  12. saya tidak terlalu pusing dengan masalah yang ada disekitar, lebih baik menikmati apa yang tersaji, jauh lebih memberikan sensasi :)

    ReplyDelete
  13. saya hanya teringat sebuah nasihat, disaat emosi menguasai hati karena melihat, membaca dan mendengar sesuatu yang tak menyenangkan, hingga muncul amarah dan kebencian , maka sebaiknya segera ber-wudhu,
    karena amarah dan kebencian sesungguhnya adalah sifat-sifat setan, dan setan terbuat dari api, musuh dari api adalah air...oleh karena itu segeralah ber-wudhu..agar hati dan jiwa menjadi teduh tenang dan tentram....salam :-)

    ReplyDelete
  14. Indahnya perdamian...jng ada permusuhan

    ReplyDelete