dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday 17 October 2011

Senang Saling Mengingatkan

Senang Saling Mengingatkan
Berinteraksi di dunia maya itu sungguh membuat perasaan campur aduk. Kadang kala senyum sendiri baca timeline beberapa teman, tak jarang pula merasa cukup kesal. Yap, karena list following saya terdiri dari beragam macam manusia yang latar belakang, usia dan isi kepalanya beda-beda: aktivis dakwah, penulis, penyiar radio, PNS, guru, siswa/i dan mahasiswa/i, beragam deh pokoknya. Dengan variasi manusia tersebut, tentu saja isi timeline jadi sangat berwarna.

Selayaknya manusia biasa, di balik warnawarni timeline saya pun kadangkala terselip khilaf dari para pekicau. Hanya saja yang membuat saya 'manas tak belawan' alias kesal gregetan dan tak kuasa mau berkata apa adalah kesalahan yang muncul tapi di sengaja. Nah! Ini tak cuma terjadi di dunia twitter saja toh? Yoih. Dalam hidup seharihari pun yang seperti ini terjadi juga. Bahkan barangkali pernah kita *ya, kita: saya dan temanteman* lakukan. Seseorang yang mukallaf (sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah) memilih untuk berbuat/ucapkan yang salah. Sedih ya :(

Contoh kecil deh. Sudah tau kalo shalat 5 waktu itu wajib hukumnya, fardhu 'ain. Masih pula sengaja tak dikerjakan. Atau contoh yang lebih sederhana lagi. Sudah tau 'Alhamdulillah' itu seharusnya ya 'Alhamdulillah', eeh malah sengaja ditulis salah-salah. Yang lebih menyakitkan lagi, sudah tau Rabbnya adalah Allah bukan owwoh, tapi kenapa sering sekali salahnya itu diulang-ulang? Apa dipikirnya lucu mempermainkan nama Rabb yang memberikan nafas untuknya setiap waktu? Tak khawatirkah Allah murka?

Firman Allah: 
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)
Na'udzubillah, tsumma na'udzubillahimindzaliik. Jangan sampai kita jadi bagian dari kaum yang bersenda gurau dengan Allah, dengan ayat-ayatNya dan RasulNya. Hal ini barangkali terkesan sepele untuk beberapa orang. Tapi perhatikanlah konsekuensi dari apa yang dianggap senda gurau dan olok-olok itu: 'kamu telah kafir sesudah beriman', Astaghfirullahal'adziim. 

Hal lain yang menyedihkan adalah, kesalahan yang disengaja ini dilakukan dengan riang gembira, menyesal sedikitpun tidak sesudah ditegur. Maka saya pun bertanyatanya tadi malam: Masih perlukah kita koreksi yang demikian ini? Saya berusaha untuk berpegang pada firman Allah Q.S Al Ashr ayat 1-3 yang dulu bersama temanteman sekelas saya baca setiap akan pulang sekolah. Watawwa shaubil haq, watawwa shaubis shabr. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan mereka yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
Juga dalam QS.Ali Imran:20, Asy-Syura:48, An-Nahl:82, Al-Anfal:38, An-Nahl:125, Al-Ma'idah:92, At-Taghabun:12. Semuanya tentang kewajiban menyampaikan yang lurus, yang haq:
QS.Ali Imron:20 "....KEWAJIBAN kamu hanyalah menyampaikan" 
QS.Asy-Syura:48 "...KEWAJIBANMU tidak lain hanyalah menyampaikan"
QS.An-Nahl:82 "... KEWAJIBAN yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan "

QS.Al-Anfal:38 "KATAKANLAH PADA ORANG-ORANG KAFIR ITU"
QS.An-Nahl:125 "...SERULAH pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah & pelajaran baik"
QS.AlMaidah:92 "...KEWAJIBAN Rasul Kami, hanyalah mnyampaikan dengan terang"  
QS.AtTaghabun:12 "...KEWAJIBAN Rasul Kami hnylah mnyampaikan dengan terang"
Namun sepertinya tak semua manusia MAU menerima firman Allah itu. Ketika diingatkan malah marahmarah, 'Ngapain lo ngatur-ngatur idup gue, atur aja sana idup lo, dasar sok alim lo'. Saya jadi ilfil kalo digituin. Huhuhu, emang agak kurang tangguh sih ya. Tapinya kalo sudah sekali, dua kali, tiga kali dikasi tau masih begitu juga, maka saya istirahat dulu lah ngasi taunya. Kasi giliran orang lain untuk mengingatkan. Toh saya sudah lakukan yang sebaiknya saya lakukan. Sisanya, urusan yang bersangkutan dengan Rabbnya. Jika Allah berkenan lembutkan hatinya untuk ambil hidayah yang sudah tersedia, yah pasti nyangkut. Kalo tidak, eh bukan tidak, mungkin belum. Mungkin tersentuhnya dengan cara lain.

Memang tak seorang manusiapun sempurna. Tapi bukan berarti kalimat truistik itu jadi alasan kita untuk enggan memperbaiki diri kan ya :) *ah ini sebetulnya ditujukan untuk saya sendiri juga, note to myself :D* Well. Kalau sudah dalam kondisi seperti itu. Saya pasrah sajalah. As people said, life is truly a choice. You decide what to do, and face the risk of what you have done :)
Anyway, melalui tulisan ini saya juga pengen ngasi tau kalo saya senang sekali kalo diingatkan. Sekali lagi, DIINGATKAN ya, bukan DISINDIR hehehe. Kan lebih enak kalo kita saling mengingatkan ya daripada saling sindir, sama-sama senang. Oh, dan jangan lupa *ngingetin lagi deh hehe* QS Asy Syams 8-10: Allah mengilhamkan suka kebaikan dan ketakwaan. Beruntung bagi yang mensucikannya. Merugi bagi yang mengotorinya. Wallahualam.

Tuesday 11 October 2011

Why wedonotgoblog

Designed by: Abang Priana Ashri

Tulisan ini, lagilagi, terinspirasi oleh seorang blogger yang beberapa hari lalu membuat twit berseri tentang perjalanannya di dunia blog, kemudian menggunakan tagar #wedonotgoblog. Kata beliau tersebut, tagar itu dipilih dengan pertimbangan wedonotgoblog adalah url salah satu blogger favoritnya. Awwww, merasa tersanjung deh heheheh. Thanks a lot again yaa untuk Eel Pecidasase.

Berhubung saya *sepertinya* belum pernah menjabarkan tentang alasan di balik pemilihan nama url ini, maka hari ini saya jadi kepengen deh ah mengabarkan pada dunia, kenapa url blog ini kok wedonotgoblog. Kenapa ga sekalian wearenotstupid? Ihihi, terlalu frontal ya :p

Seperti yang sebelumnya pernah saya ceritakan, Blog ini saya buat beberapa tahun setelah saya memutuskan untuk menutup blog lama saya. Kalau betah bongkar-bongkar file dari awal kemunculan saya di 2007, aduh kalau bisa jangan betah deh, malu-maluin soalnya ;p Sedangkan mau edit-edit tulisan lama itu pun saya males. Buanyaaak. Biarlah tertinggal di sana menjadi catatan sejarah hidup saya, sekaligus melihat perkembangan diri saya secara psikologis maupun kualitas menulis.

So, why did I choose wedonotgoblog to be this url? Jadi begini ceritanya. Di penghujung 2007 itu, salah seorang teman saya suka bener dah nyebut kata 'goblok', pake qolqolah. Yaah kalo versi anak gaul masa kini kirakira ditulis: goblog. Jadi kalau dibaca, it sounds gobloggg, gitu deh. Kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa dengan kebiasaan teman saya itu. Walaupun kesal, anehnya kata 'goblog' ini senantiasa terngiang-ngiang di telinga. Sampe akhirnya saya mikir pengen mengabadikan kata 'goblog' menjadi url blog saya. Aneh ya, ga suka tapi pengen diabadikan ahahaha.

Alasannya adalah karena kata GOBLOG itu terdiri dari 2 kata, yaitu GO dan BLOG. Saya pikir, oke juga deh kalo dijadikan url blog. Namun sayang beribu sayang, url goblog.blogspot.com sudah ada duluan sejak Juni 2001. Tetap bersikukuh supaya kata 'goblog' menjadi bagian dari url blog saya, saya pun mulai berfilosofi dengan makna *seperti biasanya huehehe*. Yang sebetulnya tak spesial dan biasa-biasa saja, ingin saya berikan arti khusus.

Goblog itu kan maknanya bodoh, stupid, bego, tidak pintar, dan seterusnya ya temanteman. Pastilah tak satupun dari kita yang mau dikatai goblog, pun saya yakin tak satupun dari kita terlahir goblog. Semua manusia sudah dibekali dengan skill masing-masing di berbagai bidang toh. Maka, there you go, terlintas dalam pikiran saya kala itu sebaris kata: wedonotgoblog. Yang bisa bermakna: kami tidak goblog. Walaupun grammatically seharusnya wearenotgoblog sih ya ihihihi. Tapi entah mengapa saya merasa kata itu tak enak diucapkan.

Selain itupun, kalau dalam Bahasa Inggris, we do not go blog saya artikan sebagai, kami tidak ngeblog. Loh? Yaa, grammatically seharusnya go blogging sih. Tapi ntar kata 'goblog' malah ga nongol jadi url hehehe. Kenapa kok kami tidak ngeblog? Maksudnya mah kami tak sekedar ngeblog, kami juga main friendster *waktu itu friendster masih naik daun looh*, kami main game online, kami chatting via Yahoo Messenger, dan kami ngerjain tugas. Yang terakhir agak fiktif :p

Nah, begitulah temanteman sedikit alasan mengapa url blog ini namanya wedonotgoblog. Berkalikali blog ini ganti judul. Mulai dari ga dikasi judul sampai akhirnya merasa nyaman dengan nick saya di dunia maya: thekupu. Nick thekupu pun saya jadikan url di blog saya yang lain. Just for your information, total blog yang saya punya yaitu 7 buah: wordpress, multiply, dagdigdug, blogdetik, wedding blog, thekupu blogspot, dan tentunya wedonotgoblog tercinta ini.

Blog ini adalah blog utama. Alasannya ya karena sudah lama betul wedonotgoblog menjadi saksi bisu cerita dan curhat-curhat saya. Blog lainnya saya buat dalam rangka menjejakkan akun 'thekupu' dan 'hazelniez' di beberapa social media hehe. Baiklah. Semoga tulisan ini bermanfaat yaa. At least menambah semangat untuk rajin menulis, dan yang pasti rajin blog walking :D

Monday 10 October 2011

Tentang Anjing


Tak terasa, sudah sekitar 7 bulan saya tinggal di Kabupaten Sekadau. Tapi waktu 7 bulan ini belum membuat saya benar-benar mengenal daerah ini seutuhnya. Yaiyalah, sehari-hari saya lebih banyak di rumah. Mau kemana-mana mikir berkali-kali. Jalanan di Sekadau yang notabene jalan provinsi ini sungguh mengenaskan kondisinya. Kalau kemarau, debunya udah mirip kabut asap. Kalau turun hujan, jalanan berubah jadi mirip danau. Penuh lumpur. Malesin kan :(

Anyway, berhubung saya juga punya aktivitas di sini *walaupun tak sebanyak di Pontianak sih*, tetap saja harus keluar sesekali. Selain risih dengan debu dan jalanan yang aduhai, risih juga dengan keberadaan anjing-anjing yang jumlahnya lumayan banyak, dan entah siapa yang memeliharanya. Kenapa risih? Yaah, kalau yang melihara bisa menjaga anjingnya dengan baik dan benar sih oke-oke aja kali ya. Masalahnya adalah, hampir setiap hari anjing-anjing tak bermajikan itu warawiri di depan hunian kami, di belakang hunian kami, aiih pokoknya nongol dimanamana deh.

Meskipun begitu, risih saya terhadap hewan-hewan itu bisa ditolerir kok. Hanya sedikit khawatir kalo sampai dikejar aja hehehe. Selama si anjing ga maksain masuk dan minta pelihara sama saya, tiada mengapa deh. Soalnya kan, as we know together:

Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar (dari makhluk yang bernyawa)” (HR. Bukhari no. 448)

Lebih lengkapnya mengenai hal ini diceritakan dari Aisyah bahwasanya pada suatu ketika Malaikat Jibril berjanji kepada Nabi Muhammad SAW untuk menemuinya pada suatu waktu yang telah ditentukan. Namun pada saat waktu tersebut datang, Malaikat Jibril tidak juga datang. Kemudian Rasulullah berkata, “Tidak pernah Allah SWT dan utusannya (Malaikat Jibril) memungkiri janji.” Setelah itu Nabi Muhammad SAW melihat ada anak anjing di bawah meja dan bertanya kepada Aisyah, “Aisyah, kapan anjing ini masuk ke sini?” Aisyah menjawab, “Saya tidak tahu Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk mengeluarkan anjing tersebut. Tidak lama setelah dikeluarkan, Malaikat Jibril datang. Rasulullah pun bertanya kepada Malaikat Jibril, “Yaa Jibril, engkau berjanji kepadaku untuk datang dan aku telah menantikan kedatanganmu tapi engkau tidak juga datang di waktu yang telah ditentukan.” Malaikat Jibril pun menjawab, “Di dalam rumahmu ada anjing, dan itulah yang menghalangi saya untuk masuk. Kami (malaikat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar (dari makhluk yang bernyawa).” (HR. Muslim no. 5246)

Begitu, temanteman. Khawatir malaikat enggan masuk ke dalam rumah. Yaaah, bahkan tanpa anjing di dalamnya pun, belum tentu malaikat bersedia masuk. Tapi setidaknya, kita minimalisir sebab-sebab yang menghalangi malaikat untuk masuk, setuju? :D

On the other hand, walaupun anjing masuk kategori hewan yang liurnya adalah najis mughaladoh, dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, diceritakan tentang seekor anjing yang sekarat karena kehausan di padang pasir, lalu seorang pelacur lewat dan muncul rasa iba dalam hatinya melihat Makhluk Allah *anjing makhluk Allah juga toh?*. Lalu dia mencopot muzzah/sepatu botnya, kemudian dia turun ke lembah yang jauh untuk mencari air lalu dia kembali ke bukit tempat anjing itu kehausan.

Diberinya air minum untuk si anjing hingga lepas dahaganya. tanpa disadarinya ada malaikat yang memperhatikan perbuatannya. Diceritakan di hari kiamat, si pelacur sudah nyaris dilempar ke dalam api neraka karena dosa-dosanya, ketika sang malaikat menjadi saksi di hadapan Allah akan kebaikan budi si pelacur, dan si anjing pun dipanggil untuk dimintai saksinya. Akhirnya karena Sifat Rahman Allah, si pelacur pun masuk surga. Wallahualam.

Well then. Anjing tetaplah makhluk ciptaan Allah yang keberadaannya dilengkapi dengan maksud dan tujuan tertentu. Kitakita yang manusia ini tentunya harus pandai-pandai memperlakukan makhluk Allah yang satu ini sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku *eaaa jadi kayak iklan provider hihihi*. Yah, maksud saya, sesuai dengan landasan yang kita pegang, yaitu Al Qur'an dan Sunnah :)

Last but not least, thanks a lot again untuk Eel Pecidasase yang udah rikwes untuk menulis tentang anjing. Walaupun bukan seperti yang dirikwes di twitter, semoga tulisan ini menambah ilmu kita bersama :D

Wednesday 5 October 2011

Do what you Love, or Love what you Do

Modul Bahasa Inggris I

Rezeki Allah memang takkan pernah tertukar ya temanteman. Baru saja beberapa pekan lalu saya menulis bahwa saya memilih untuk belum mengamalkan ilmu saya di Sekadau, ternyata Allah berkehendak lain. 2 hari setelah saya menulis tentang F.A.Q. itu, teman melingkar suami saya mengabari bahwasanya Universitas Terbuka kelompok belajar Sekadau sedang perlu tutor Bahasa Inggris. Rasa kangen mengajar membuat saya akhirnya bertanya lebih detail tentang tawaran itu.

Setelah cukup sepakat dengan pemaparan temannya suami, saya dan suami pun datang ke kantor akademik Universitas Terbuka pokjar Sekadau yang ternyata jaraknya dekat sekali dari rumah kami. Tak sempat membuat surat lamaran, maka saya bawa fotocopy ijazah, transkrip nilai, dan Akta IV saja. Saya percaya dengan kalimat di awal tadi, bahwa rezeki Allah takkan pernah tertukar. Kalau memang rezeki, ga pake surat lamaran pun bakalan diminta untuk mengajar nanti. Kalau ada pelamar lain yang lebih baik, ya berarti belum rezeki saya.

Alhamdulillaah, ternyata 2 pekan setelah datang ke kantor UT Sekadau, saya dihubungi pihak UT, dikabari bahwa Sabtu, 1 Oktober mulai mengajar. Awww, I was so excited. Terakhir ngajar di ruang kelas itu waktu saya rikwes sama Linda untuk gantikan dia 1 kali pertemuan dengan mahasiswa semester 4 Poltekkes Gizi Pontianak, di kelas yang sebelumnya adalah kelas saya. Sekitar bulan Mei kalo ga salah. Senang sekali rasanya mengajar ketika kita memang INGIN mengajar, bukan harus mengajar. Dan demikianlah yang hari Sabtu itu saya rasakan. Saya ingin mengajar lagi.

And there I came. Mengajar mata kuliah Bahasa Inggris I untuk jurusan Ilmu Administrasi Negara dan Bahasa Indonesia. Wow, seru sekali. Feels like teaching my young learners in progsus Poltekkes Gizi! Usia mereka lebih tua dari saya, tapi semangat belajar mereka lebih tinggi daripada semangat belajar mahasiswa yang bahkan lebih muda dari mereka. Di situlah letak bahagianya mengajar, yaitu ketika yang diajak berbagi ilmu berminat untuk bisa, bahkan dengan kemampuan dasar yang kadang menggemaskan sekali.

Namun di situ pula tantangannya. Bagaimana saya sebagai tutor 'menghabiskan' buku yang tampak tipis tapi aslinya cukup tebal itu dalam waktu singkat, 8 kali pertemuan saja. Yah, judulnya juga tutor ya. Idealnya sih, ketika masuk kelas, mahasiswa sudah pelajari isi buku. Jadi, ketika masuk kelas, tutor tinggal jelaskan bagian mana yang mahasiswa belum paham. Tapi prakteknya, ketika tutor bertanya yang mana yang belum paham, jawabannya semua belum paham. Duh. Sungguh tantangan yang membahagiakan :D

Ternyata, inilah hikmah dari 3 tawaran mengajar yang 6 bulan terakhir tak saya terima. Allah sediakan sebuah pekerjaan serupa yang saya sukai, yang ingin saya jalani, sehingga ketika dalam perjalanan ke depan nanti saat saya barangkali akan mulai jenuh dengan pilihan yang saya ambil, saya bisa membaca ulang tulisan ini, mengembalikan mood dan semangat yang menguap. Saya tak mau jalani pekerjaan yang sejak awal tak mau saya kerjakan, atau menerima sebuah pekerjaan karena tak ada pilihan lain selain kerjaan itu. Khawatir tidak enjoy bekerja, ingin keluar tapi ga enak sama orang lain. Begitulah.

Mungkin tak semua orang bisa praktekkan pilihan ini, dengan alasan cari kerjaan jaman sekarang susah. Kalau temanteman termasuk yang sudah terlanjur begitu, cobalah sekuat tenaga untuk berusaha sekuat tenaga mencintai pekerjaan. Tapi jika memang sama sekali tak bisa, jangan terlalu dipaksakan daripada bekerja tapi makan gaji buta, atau daripada kerja tapi setiap hari mengeluh, sementara jutaan orang di luar sana pontang panting mencari kerjaan. Yah, intinya: do what love, or love what you do.

Well, then. As I said few days ago: Kerja ikhlas & riang, hati senang. Kerja ringan, penghasilan lumayan, alhamdulillaah.. Semoga rezeki yang kita dapatkan halal, berkah, dan diridhoi Allah SWT :)

Friday 30 September 2011

Belajar dari Melingkar

Photo by: Apri Adi
Kemarin malam akun @PKSJerman meramaikan timeline twitter saya dengan hashtag #melingkar. Pertama kali baca isi tweetnya, langsung nyambung bahwasanya yang dimaksud dengan 'melingkar' itu adalah ta'lim, kajian, mentoring, atau liqo'/halaqoh yang dilakukan rutin sepekan sekali baik itu di kantor, sekolah, kampus, atau lingkungan dekat rumah. Kenapa 'melingkar'? Ya iyes, karena kajian ini dilakukan dengan cara duduk lesehan dan melingkar. Yah, seperti foto di atas, hanya saja, kalo 'melingkar' ini tidak ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan), melainkan terpisah antara laki-laki dan perempuan :) Kalo foto yang di atas mah foto bersama teman-teman Khatulistiwa English Community (KEY) *skalian promo hehe*

Dari aktivitas melingkar ini, ada banyaaak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Di bawah ini hanya beberapa di antaranya:

1. Kedisiplinan. Jika kajian dijadwalkan mulai pukul 1 siang, maka kita harus melatih diri agar terbiasa hadir tepat waktu. Kalau mulainya tepat waktu, selesainya bisa tepat waktu juga. Umumnya, sekali melingkar perlu waktu antara 2-3 jam. Kalo ada agenda tambahan, bisa seharian :D

2. Ukhuwah. Persahabatan, persaudaraan, kasih sayang dan cinta kasih, tercakup semuanya dalam ukhuwah islamiyah. Kalau sudah bisa enjoy melingkar, sekali aja ga datang bakalan kangen abessss. By the way, mengapa kegiatan melingkar ini 'harus' sepekan sekali? Ya, untuk menyegarkan ruhiyah kita. Seperti hp yang butuh dicas *kok kedengaran kayak iklan ya?*, ruhiyah kita adalah bagian terpenting dari diri kita yang sangat perlu direcharge. Bertemu dengan saudara seiman sepekan sekali sembari menerima materi dari pembina kajian cukuplah untuk stok isi ulang semangat ruhani.

3. Kesabaran. Yang mengikuti kegiatan melingkar ini semuanya adalah manusia. Malaikat hanya bertugas mencatat niat baik mereka untuk bersedia hadir di majlis dzikir. Karna itulah, dalam kajian akan kita temukan hal-hal yang menguji kesabaran kita sebagai insan biasa. Tapi, ketika ukhuwah sudah sangat erat, belajar sabar ini jadi mudah dan menyenangkan. *aiih, kedengaran kayak iklan lagi deh ini hihihi*

4. Saling mengingatkan. Sama seperti poin 3 tadi, personil aktivitas melingkar adalah manusia semua. Manusiawi kan kalo sesekali berkata dan bertingkah laku keliru. Di sinilah teman satu lingkaran memaksimalkan fungsinya untuk saling mengingatkan. Watawwa shaubil haq, watawwa shaubisshabr.

5. Ikhlas. Ini yang akan dialami ketika terjadi semacam pertukaran pembina/murobbi kelompok kajian. Supaya kegiatan melingkar ini dinamis, paling tidak setahun sekali kelompoknya dirombak. Pembinanya diganti, personil *atau dalam tarbiyah disebut mutarobbi/binaan* juga ikut berubah. Dapet teman baru lagi deh. 

Anyway, ada beberapa peserta yang di awal-awal mungkin tak setuju kalo kelompoknya diubah. Abisnya udah kadung klop sih sama yang sekarang. Biasanya sih gitu alasannya. Anyway, di sinilah kita sebagai peserta kajian harus belajar ikhlas sembari meluruskan niat. Jika niat ikhlas lillahita'ala, siapapun personil dan pembinanya, yuuk mari melingkar sampai akhir hayat :)

Nah, itu baru 5 point yang bisa kita pelajari dari aktivitas melingkar. Sisanya akan lebih berasa kalau kita sudah 'terjun langsung' ke dalam lingkaran itu :D Tapi by the way, emangnya melingkar itu ngapain aja sih? Baiklah, untuk yang masih belum dapat gambaran aktivitas seperti apa melingkar itu, saya kasi sedikit gambaran deh ya.

Selayaknya sebuah kajian, melingkar ini juga ada susnan acara atau biasanya disebut baramij liqo. Umumnya, susunan acaranya seperti ini:

1. Pembukaan.

2. Tilawah, bergiliran setiap personil kajian, atau kalau bulan Ramadhan biasanya nyambung ke bacaan tilawah masing-masing.

3. Infaq. Infaqnya dimanfaatkan untuk kegiatan dakwah, penunjang agenda kajian seperti masak bareng *biasanya sih kelompok yang cewek sering nih agenda ini*, baksos, apa saja yang penting disepakati oleh semua anggota kajian.

4. Setor Hafalan, baik hafalan AlQur'an atau Hadits. Menurut beberapa kesaksian yang saya temukan dari hashtag #melingkar tadi malam, agenda yang satu ini nih yang paling disegani :p

5. Taujih. Yang ngasi taujih tak harus pembina kajian. Malah umumnya, kajian diberikan bergantian oleh setiap personil. Jadi, tiap pekan, beda taujih, beda yang ngasi taujih :)

6. Pembacaan Riyadush Shalihin/Kajian Shiroh Nabawiyah/Kajian Shiroh Shahabiyah/Info Dunia Islam. Point ini disesuaikan dengan kesepakatan tiap personil kajian. Kalau mau ambil semuanya, silahkeeun. Yang penting terlaksana dan berguna :)

7. Materi/Bedah Buku. Ini bisa disebut kegiatan inti melingkar. Jadi, pembina memberikan materi berdasarkan kurikulum, atau materinya bisa juga disesuaikan dengan kondisi dan situasi peserta kajian. Semacam tausiyah gitu deh. Saya pribadi, kalo udah sampai di point ini seringkali merasa seperti dilecutlecut dan ditampartampar semangatnya untuk bangkit dari rasa malas.

8. Diskusi. Bilamana ada materi yang kurang jelas dan ingin didiskusikan dalam forum, dibukalah sesi diskusi. Kalo ga ada, lanjuuut ke point berikutnya.

9. Qodoyah dan Rowa'i. Qodoyah itu semacam konsultasi atau curhat tentang problema yang sedang kita hadapi. Jika berkenan, boleh dibicarakan dalam forum, dan diikhtiarkan untuk dicarikan solusinya bersama-sama. Trus kalo Rowa'i itu penyampaian berita gembira. Jadi, kalau ada berita gembira seputar diri kita yang ingin disampaikan ke teman-teman, sampaikanlah di sesi ini.

10. Penutupan, selesai. Sampai jumpa pekan depan, kita ketemuan lagi pukul sekian di rumah si ini. Salaman, pelukan, cipikacipiki.

Intisari dari melingkar ini memang meningkatkan kualitas peserta kajian, utamanya dari segi rohani. Namun, tidak mengapa kalau tiap peserta sepakat untuk menambah program khusus seperti mabit (malam bina iman dan taqwa), tukeran kado, rihlah (jalanjalan, rekreasi), bahkan kalau mau ada program saling mengajari teman kajian belajar mobil pun silahkan :D Seru kaaan.

Tidak ada dalil yang menyatakan bahwa 'melingkar' itu wajib hukumnya. Hanya saja, jika kita niatkan melingkar ini untuk menuntut ilmu agama dan menjalin silaturrahim, maka melingkar jadi sangat penting sekali. Kalo kata Pak @BamzTeha, #melingkar itu berguna untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, bangsa & negara. Slogannya: perbaikilah diri sendiri dan serulah orang lain.Begitulah.

Demikianlah sedikit yang bisa saya bagikan tentang #melingkar. Kalau pengen lihat pendapat orang-orang tentang melingkar, langsung aja search #melingkar di twitternya ya. Tapi, buat yang pengen tau kisah awal mula dan pendapat saya tentang #melingkar, bolehlaah dibaca sendiri di halaman ini. Okedeh kalo begituh. Selamat bersenangsenang dalam lingkaran :D

Thursday 29 September 2011

Tentang Warnet @ & Ni

Designed by: Abang Priana Ashri

Seharusnya postingan ini muncul di blognya Abang Priana Ashri yang notabene penanggung jawab warnet yang akan saya tulis di sini. Tapi, berhubung beliau tersebut bukan tipikal blogger yang rajin update blognya sendiri, maka biar saya aja deh yang nulisin. Tentunya dengan izin bapak yang punya warnet @ & Ni. Markilai, mari kita mulai membahas tentang Warnet @ & Ni.

Warnet ini berdiri pada 1 Agustus 2009 di Kabupaten Sekadau, kecamatan Sekadau Hilir, Desa Sungai Ringin. Letak warnet @ & Ni tepatnya di Jl. Irian no. 137. Kalo orang Sekadau asli mengenal lokasi ruko warnet ini sebagai area pasar, karena memang dekat dari pasar Sekadau. Warnet ini menempati salah 1 dari 9 pintu ruko yang dimiliki oleh Ibu Suhaeni, yang adalah bibinya Abang Priana Ashri *halah, sebut aja suami saya kenapa sih ah ihihi*. Nah, sejejeran dengan ruko yang ditempati warnet ini, ada warung bakso, distro, toko helm, toko pertanian, gerai ponsel, penjahit, sampe warung kecil sederhana dan sekedar hunian saja.

Warnet ini termasuk salah satu warnet yang awal berdiri di Sekadau. Jadi, alhamdulillaah sejak pertama diresmikan 2 tahun lalu sampai dengan sekarang, sudah ada beberapa pelanggan setia yang senantiasa memenuhi tiap bilik kecil dalam warnet ini. Berhubung kadangkala roomnya kurang, suami saya pun menambahi fasilitas wi-fi untuk yang pengen ngenet pake laptop sendiri.

Di awal berdirinya warnet ini, suami saya juga cobacoba untuk langsung sekalian ekspansi ke usaha percetakan. Yah, itung-itung juga mengimplementasikan skill design yang suami saya miliki. Hobi yang bisa menghasilkan uang kan seru, ga berasa cape kerjanya. Sehingga, jadilah @ & Ni tak cuma warnet saja, namun jadi @ & Ni group. Pertimbangannya, siapa tau kelak di masa yang akan datang, tak cuma warnet dan percetakan saja bisnis yang akan dijalankan, tapi juga usaha di bidang lain. Aamiin.

Berdirinya warnet @ & Ni, selain atas berkat rahmat Allah Yang Maha Esa, tak lepas pula dari uluran tangan Bang Fadlie yang tubuhnya sampe terguncang demi ikut membantu Instalasi Jaringan warnet. Kisah lengkapnya boleh dibaca sendiri di blognya bangfad. Awww, setelah diliat-liat ke belakang, ternyata pengerjaan warnet ini lumayan dekat sama milad saya yang ke 22 hihihi. Oiya, kebetulan *aaah, banyak amat kebetulannya siiih yaa* Bang Fadlie itu adalah kenalan saya di plurk :D

Lalu, kenapa warnet ini dinamai @ & Ni? Sebagian dari temanteman barangkali berpikir bahwa @ & Ni adalah singkatan dari Aci @ Dini. Hihihi. Not a hundred percent wrong sih. Sekarang sudah boleh diartikan begitu :) Sejarahnya warnet ini dikasi nama @ & Ni adalah karena awalnya usaha ini merupakan usaha dengan investasi 3 saudara sepupu yang bernama: Aci, Nazwar dan Ilham. Maka, jadilah @ & Ni. Aci, Nazwar & Ilham. Tak cuma itu saja, berhubung ruko tempat eksisnya warnet ini adalah ruko milik bibi dari 3 saudara sepupu, yang kebetulan *ini kata manusia, kata Allah tak ada yang kebetulan* bernama SuhaeNi. Aci & SuhaeNi? Boleh deeeh.

Bukan itu saja filosofi di balik nama @ & Ni. Jika dilafazkan huruf per huruf, @ & Ni dibaca AdanNi. Nama kakek dari 3 saudara sepupu yang membawahi warnet ini adalah: Adeni. Mirip kaan? ;) Emang ga ada yang kebetulan deh di muka bumi ini. Eeeeh ternyata, Aci yang saat ini memegang tampuk kekuasaan *caelaaah bahasanyaaaa huahaha* warnet ini dikaruniai istri baikhati *uhuk* yang nama panggilannya Dinie. Voila! Jadilah @ & Ni itu Aci dan Dinie ihihihi.

Demikianlah sekilas tentang warnet @ & Ni. Sepertinya banyak betul kebetulan yang terjadi dalam cerita hidup kita, sebagaimana cerita mengenai awal mula berdirinya warnet @ & Ni ini. Namun, kebetulan berlaku hanya untuk manusia. Untuk Allah, sedikitpun tak ada yang kebetulan. Semua sudah dirancang dengan indah dalam Lauhul Mahfudz, tertulis rapi di buku takdir. Maka, kalau semuanya sudah terjadi atas izin dan ridho Allah, masihkah kau berhak katakan ini campur tangan manusia? Wallahualam bishowab :)

Wednesday 28 September 2011

Menertawakan Masa Lalu

Photo taken by: Rizki Fakhrurrazi

Slamat tinggaaal, masa lalu aku kan melangkaaah..


Ah, pasti tak asing ya dengan lirik lagunya 5minutes itu. Termasuk salah satu lirik lagu paling oke yang saya suka tuh. Kebetulan *ini kata manusia, kalau kata Allah sih tak ada yang kebetulan even only a leaf falls from a tree :)* beberapa hari lalu, dari distro sebelah, diputerin lagu ini. Duh, jadilah saya senyum jumawa sendiri. Teringat beberapa kisah di waktu lalu, kisah yang layak diingat tentunya. Yang jelek-jelek, sudah lama saya buang jauhjauh. Saya ambil hikmahnya aja deh :)

Bicara masalalu lagi, sungguh klasik, basi, dan saya pun sudah pernah secara jelas dan tegas menuliskan apa itu masa lalu di blog ini. Sungguh aneh menemukan beberapa manusia yang bisabisanya terkungkung dengan masalalunya. Masih agak mending kali ya kalau terkungkung sama masalalu sendiri, nah kalo terkungkungnya sama masalalu orang lain, sungguh kaasiihaan deh lu.

Itulah yang membuat kita seringkali sulit maju. Masih suka sibuk dengan masa lalu orang lain. Sibuuuk bener. Saking sibuknya, sampai lupa bahwa yang punya masa lalu sudah tak sudi lagi bahas kisah purbakala yang telah lewat. Dan yang lebih kasihannya lagi, saking sibuknya dengan masa lalu orang lain, kita *ya, kita: saya dan temanteman, baik sadar ataupun tidak* seringkali tak mau tau perkembangan macam apa yang sudah dibuat oranglain saat ini, terlepas dari masa lalu yang mereka miliki. Miris ya.

Mau diutak atik dengan cara apapun, masa lalu pasti akan menjadi track record hidup kita. Takkan bisa kita hapuskan cerita masa lalu dari catatan sejarah hidup. Tapi, mari kita sepakati kalimat yang saya jadikan status facebook kemarin:

there's nothing on your bad memory you should take, but the lesson ;)

Kita pelajari sejarah, kita ungkit masa lalu, tak lebih dari sekedar untuk ambil hikmahnya saja kan? Yup, itulah sebabnya Allah ciptakan 3 rentang waktu: kemarin, sekarang, dan akan datang. Yesterday, now, and future. Simple past tense, simple present tense, dan future tense. Just like a friend said in a social media, that life is X + X + X. Yesterday is an X, Now is an X, and Future is also an X. Yesterday is eXperience, Now is eXperiment, and Future is eXpectation. So, use your experience in your experiment to achieve your expectation.

So, people. Why are you so worried of your own past? Just laugh on your bad memory in your past, take the lesson, coz we have future to mend it better ;)

Monday 26 September 2011

Rezeki Allah tak terukur

Photo taken by: Ivvan Fardyan

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Alhamdulillaah saya masih bisa nulis lagi hari ini. Ah, sering sekali saya lupa bersyukur bahwa hari ini masih diberi nafas untuk mengukir sejarah baru, masih diberikan kenikmatan Islam yang tak tergantikan, terlebih lagi, masih diberikan nikmat iman yang tak semua manusia bisa rasakan. Sungguh, banyak betul kenikmatan dari Allah SWT yang sering kita lupakan. Terlupa karena kita terlalu sensitif dengan kekurangan yang ada pada diri kita sebagai manusia. Padahal, justru karena kekurangan itulah, maka kita disebut manusia, bukan malaikat.

Banyak sekali hal yang kita keluhkan, baik yang disadari dan yang tidak. Beberapa hari lalu, saya BBMan dengan teman sekelas saya waktu SMA. Saya berinisiatif untuk menyapa dia duluan, karena tiap liat recent updates yang dia buat, personal message-nya nyaris selalu mengeluh. Maka, ngobrollah kami. Saya sama sekali tidak memancing dia untuk mengeluarkan keluhannya ke saya. Berhubung dia ini adalah teman SMA, maka yang ditanyain ya halhal klasik seputar kehidupan, such as udah nikah ya? Iyeap, that's the first question I asked her after saying hello.

Orang yang sama-sama baru menikah, ya pertanyaan klasik berikutnya bisa ketebak donk ya hehe. Tinggal di mana sekarang, suami kerja apa, sudah hamil belum, bla bla bla bla. Ketika saya balik bertanya whether or not dia sudah hamil, dimulailah sesi pengeluaran uneg-uneg yang seringkali nongol di personal message BlackBerry-nya. Ternyata temen saya itu sakithati dengan omongan orang-orang di sekitarnya yang seringkali nanyain kenapa dia belum hamil. Saya pun jadi pengen tau, emang nikah udah berapa lama? Subhanallaah, ternyata sama dengan saya, Februari 2011.

Oke, saya mulai memposisikan diri sebagai dia. Mencoba memahami perasaan pengantin baru yang sudah menikah selama 7 bulan namun belum diamanahi Allah untuk hamil. Kecewa, sedih, cemburu melihat teman yang lebih lama nikah sudah hamil, pastilah perasaan seperti itu yang muncul dari hati. Perempuan normal mana sih yang ga pengen hamil setelah menikah dengan cara baikbaik dan halal? Baiklah, pasti itu yang temen saya rasakan. Menjadi semakin sakithati akibat omongan ga enak dari kiri kanan tentunya.

Saya pribadi pun sangat sering sekali ditanyai pertanyaan serupa. Sudah pernah saya bahas kan di postingan F.A.Q. beberapa pekan lalu? Yoih. Ingin sekali rasanya saya kasih jawaban: Alhamdulillaah, sudah. Tapi menurut Allah, kami berdua masih harus terus ikhtiar maksimal dulu sampai layak menjadi orang tua untuk anak-anak yang kami idamkan. Maka, belumlah Allah katakan 'kun' untuk pertemukan sel telur dan sperma dalam rahim saya. Toh, rezeki takkan tertukar. Kalau sudah waktunya wanita hamil, baik hamil yang halal maupun yang haram, maka hamillah seorang wanita.

Jika saja teman saya itu bertanya, pernahkah saya mendengar atau mendapat perlakuan miring dari orang lain perihal belum hamilnya saya? Alhamdulillah, TIDAK PERNAH. Atau setidaknya, tak saya anggap miring. Karena rasa-rasanya, tak ada guna memusingkan omongan atau perlakuan orang lain yang tak mengenakkan ke diri kita, kecuali kalau sudah sangat mengganggu kehidupan pribadi. Yang remeh temeh begitu anggap sajalah angin lalu. Kalikan nol, abis deh dia.

Nah, dari situ, sebetulnya kita bisa membuat check list untuk disyukuri setiap hari. Walaupun takkan pernah sanggup kita menghitung nikmat dari Allah, seperti firmanNya:

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).


tetap wajib toh kita bersyukur setiap hari? Maka bersyukurlah sekarang ini kita sudah menikah. Di usia yang relatif muda ini diberikan kelancaran menggenapkan setengah dien. Ketika beberapa teman kita di luar sana masih ada yang sibuk rampungkan studi, Allah berikan kelapangan untuk kita selesai lebih dulu. Saat di luar sana beberapa wanita sudah ingin betul menikah karena usianya sudah matang, Allah belum jua berikan jodoh untuknya. Atau, ketika setelah menikah masih ada beberapa pasangan yang belum bisa hidup berdua saja di rumah sendiri, Allah mampukan kita untuk itu.

Yang paling penting untuk disyukuri adalah: di balik belum hamilnya wanita yang sudah menikah secara sah, kita wajib bersyukur kepada Allah bahwa kita menikah tidak dalam kondisi hamil. Kasian anaknya euy kalo lahir dengan status hamil karena zina. Menurut para ulama, anak hasil zina tidak mendapatkan hak waris dan perwalian. Sehingga, kalo anak yang lahir perempuan, bapak kandungnya tak berhak menjadi walinya ketika menikah. Baca di sini ya :)

Ah, there are just too many things to be thankful. Terlalu banyak untuk saya tuliskan satu per satu di blog ini. So, kalau sampai hari ini masih juga merasa risau hati dengan hal-hal yang belum Allah beri, cobalah buat checklist untuk disyukuri setiap hari. Makin sering bersyukur, makin ditambah Allah nikmatnya. Itu janji Allah loooh:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.s. Ibrahim: 7)

Last but not least, postingan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang sedang menanti kehadiran penghuni baru dalam rumah tangga yang baru terbina, atau bahkan yang sudah bertahuntahun lamanya. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Tetap bersabar sambil berikhtiar yaaa.. Insya Allah, sebentar lagi :)

Friday 23 September 2011

Cinta tanpa batas

Photo by: Ivvan Fardyan

Kasih sayang orang tua itu limitless yah. Semakin saya sadari kebenaran kalimat tersebut setelah menikah. Teringat beberapa tahun lalu sebelum menikah, ibu saya seringkali mengingatkan: "Kita hidup bersama serumah kayak sekarang takkan selamanya. Akan ada waktunya nanti kakak tinggal dengan orang lain, entah dengan mertua atau hidup berdua dengan suami saja. Akan ada waktunya orang tua dipanggil Allah". Waktu itu, kalimat tersebut tak begitu saya anggap sebagai sesuatu yang berarti. Just let it uttered from my mother's mouth, came into my mind a while, then forgotten in minutes.

Tapi sekarang, ketika saya telah berada di posisi yang ibu saya katakan, saat masa hidup bersama orang tua usai sudah, kalimat tersebut sungguh sesuatu *halah, tersyahrini deh :p*. Sangat terasa berbeda hari-hari yang saya lewati tanpa melihat wajah mereka setiap hari. Apalagi, saya memang belum pernah hidup jauh dari orang tua. Perpisahan saya dan orang tua setelah menikah benarbenar menyisakan air mata. Air mata saya, air mata bapak, dan juga air mata ibu *sounds like judul sinetron jaman dulu ihihi*.

Dengan alasan cinta kasih dari orang tua yang tak terbatas itulah, dari sejak saya lulus SD sampai dengan memutuskan untuk menikah, kedua orang tua saya memberikan kebebasan seluasluasnya pada saya dan adik2 saya untuk memilih di mana kami akan sekolah, ekstra kurikuler apa yang akan kami ikuti, dan yang terbaru: kapan saya ingin menikah. Tentunya, kebebasan yang disertai dengan pertimbangan dari mereka. Untuk menikah misalnya. Saya sudah ingin menikah itu dari sejak lama *walaupun masang targetnya pengen nikah di usia 23 sih*, namun kedua orang tua saya ingin saya selesai kuliah dulu, barulah menikah. Well, we deal for that.

Untuk pilihan sekolah, kampus, pekerjaan, we are free choosing based on our own interest. Saya memilih MTsN 1, MAN 2, FKIP Bahasa Inggris Untan, menjadi penyiar Radio Volare, mengajar di sana di situ di sono dan di manamana, terserah asalkan tidak merugikan diri saya. Adik saya setuju untuk sekolah di MTsN 1, MAN 1, FKIP Bahasa Inggris Untan, ikut MTQ bidang fahmil Qur'an, sampai menghabiskan waktunya di kamar main Play Station daripada wara wiri di luar juga terserah dia. Kami yang memilih, kami yang bertanggung jawab atas pilihan kami. Mereka selaku orang tua memberikan support terbaik yang mereka punya.

Dan ketika saya sudah menikah, kasih sayang mereka tak juga berkurang. Malah rasanya bertambah. Saya yang tinggal di kota berbeda dari mereka, setelah menikah pun masih 'dimanjakan'. Lumayan sering dikirimi ini itu. Kalau minta sesuatu, besoknya langsung dikirim. Kalau ibu saya menemukan sesuatu yang berkaitan dengan saya, misalnya ngeliat bros warna pink pas lagi belanja, langsung deh tuh dibeliin. Atau ketika Ramadhan kemarin, ngeliat caikue yang biasanya jadi menu rutin untuk saya buka puasa, mewek dah beliau. Ah emak.. Begitupun bapak saya. Sejak menikah, saya makin sering smsan dengan bapak. Ah bapak...

Memang benarlah lirik lagu tersebut:

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.


Kasih bapak juga donk tentunya :)

Countless thanks to my parents, and yours too :)

Thursday 22 September 2011

Tutup aurat dimanamana


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tulisan ini saya buat karena saya cukup sering melihat beberapa muslimah yang sudah diberi kemudahan oleh Allah untuk berjilbab, tapi dengan mudahnya memajang foto tanpa jilbab di ranah publik. Barangkali tanpa pikir panjang, mereka jadikan foto tanpa jilbab sebagai foto profil di facebook, display picture di BlackBerry Messenger, atau avatar di twitter. Kalaulah yang melihat hanya sesama muslimah, tentu tak mengapa. Maka sebagai sesama muslimah, saya merasa cukup kesal. Karena, sayang sekali rasanya kalau aurat yang seharusnya kita jaga untuk yang boleh melihat saja, kita pertontonkan kesana kemari :(

Kewajiban berjilbab sudah cukup sering dibahas dimanamana. Di internet, dijadikan kultwit, dibahas di talkshow di TV maupun radio, banyak. Temanteman muslimah tentulah sudah tau bahwa Allah sudah dengan tegas berfirman dalam QS Al Ahzab:59 serta An Nur: 31 tentang perintah menutup aurat. Juga pastilah sudah pernah mendengar atau membaca beberapa hadits Rasulullah SAW mengenai hal ini. Salah satunya berbunyi: Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang lain dan para wanita yang berpakaian tapi auratnya terlihat, yang berjalan melenggak-lenggok, sedangkan kepala mereka bagaikan punuk unta yang miring. Mereka itu tidak akan masuk ke dalam surga dan juga tidak akan mencium bau surga. Padahal, harum semerbak surga itu dapat dirasakan dari jarak yang begini dan begini.” [Muslim 6/168]

Di luar pembahasan syurga dan neraka yang adalah hak prerogatif Allah, alangkah baiknya jika sebagai muslimah, kita lakukan usaha maksimal untuk perintah Allah yang satu ini. Menutup aurat tak hanya ketika berpergian ke luar rumah atau ke kantor saja, tapi juga ketika akan melakukan interaksi sosial dengan rekan yang statusnya mahram (tidak boleh dinikahi). Baik interaksi di dunia nyata, juga interaksi di dunia maya.

Sayang sekali rasanya jika saat ini kita yang sudah dikenal sebagai muslimah berjilbab, kemudian pajang foto tanpa jilbab. Barangkali maksudnya pengen ikut berbagi ke temanteman sesama muslimah kecantikan kita ketika ga pake jilbab itu ya. Tapi percayalah, alangkah baiknya kalau memang niatnya begitu, dibagikan lewat room chat pribadi saja. Karena, sekali lagi, menutup aurat di hadapan mahram adalah perintah Allah. Kecuali, kalau temanteman sudah masuk dalam golongan muslimah yang tak wajib lagi menutup aurat, sebagaimana firman Allah:

"Dan perempuan-perempuan yang sudah putus haidhnya dan tidak ada harapan untuk kawin lagi, maka tidak berdosa baginya untuk melepas pakaiannya, asalkan tidak menampak-nampakkan perhiasannya. Tetapi kalau mereka menjaga diri akan lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (an-Nur: 60)

Demikianlah temanteman. Hargailah diri kita dengan niat karena perkara ini, Allah yang perintahkan. Semoga kedepannya, kita yang muslimah dan juga temanteman muslim bisa saling mengingatkan untuk hal penting lainnya yang mungkin masih kita anggap sepele. Watawwa shoubil haq :) Selamat berjilbab cantiiik :D

Tuesday 20 September 2011

Mas, mas, jangan pake emas..

Photo taken by: Ivvan Fardyan

Wah, bulan ini banyak yang nikah ya. Bahagianyaaa. Semakin banyak yang laksanakan sunnah rasul, ibadah penyempurna setengah dien. Ya, menikah adalah ibadah, ibadah paling indah dan paling disukai ummat Rasulullah SAW. Ada sebuah riwayat: "Rasulullah saw. datang dan bertanya: apakah kalian yang mengatakan begini dan begini? Sesungguhnya saya lebih bertakwa dan lebih khusyu' kepada Allah swt. Di bandingkan kalian, akan tetapi saya tetap berpuasa dan saya juga berbuka, saya juga shalat dan istirahat (berbaring), dan saya juga menikahi perempuan, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari umatku". (Muttafaqun 'alaih, di sepakati oleh Bukhari dan Muslim).

Sayangnya, pernikahan masa kini sepertinya banyak sekali tuntutannya. Selain beberapa hal yang sudah pernah saya bahas di sini, tuntutan lainnya juga mau tak mau muncul dari masyarakat Indonesia yang masih enggan tinggalkan adat istiadatnya. Walaupun sebetulnya, adat istiadat itu bertentangan dengan hukum agama. Well, saya memang tidak ahli untuk urusan fiqih atau yang beginian. Tapi paling tidak, untuk tulisan kali ini, saya merujuk kepada ahlinya, mencari referensi hadits-hadits shohih yang mudah-mudahan bisa menambah khazanah kita tentang fiqih :D

Ada beberapa perkara yang sangat saya sayangkan dalam pernikahan di masyarakat sekitar yang seharusnya berjalan sakral, khidmat, bernilai ibadah di mata Allah, tapi 'terpaksa' dicampur adukkan dengan hal-hal tak perlu, bahkan tak jarang perkara yang kita sudah tau hukumnya haram. Contoh yang umum adalah cincin kawin.

Dalam sebuah pernikahan, tak afdhol rasanya kalau tak ada prosesi pemasangan cincin kawin, bahkan tukeran cincin. Dan sayangnya, cincin yang dipake biasanya emas. Nah, lakilaki pakai emas kan haram. Bukan saya yang bilang, tapi Rasulullah: Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih). Pembahasan komplitnya bisa dibaca sendiri di sini dan sini.

Sayang sekali kan kalau ibadah yang nilainya sama dengan separuh agama harus ternoda nilainya dengan perkara haram. Rugi aja gitu ya rasanya kalo sampai jadi tak berkah, atau berkahnya berkurang akibat suatu hal yang kita sudah tau hukumnya, tapi masih kita laksanakan :( Yah, semoga saja yang sudah terlanjur pake emas di hari akad nikahnya, waktu itu belum tau tentang hukum pakai emas untuk lelaki, dan kalaupun sudah tau, semoga diampuni Allah dan tetep diberkahi pernikahannya. Yang belum akad nikah tapi sudah berencana akan ada prosesi tuker cincin, ayoo coba bujuk lagi orang tuanya dan kasi pengertian ke mereka sekali lagi, oke. Atau, kalopun emang pengen menjadikan itu sekedar sebagai simbol pernikahan, yang lakilaki cincinnya jangan yang terbuat dari emas :D

Selain tukeran cincin, adat lain yang bertentangan dengan syariah Islam adalah prosesi tepung tawar. Kalo tentang ini, sebelum menikah dulu rupanya suami saya *waktu itu masih calon* sudah browsing sana sini. Maklum, kami berdua samasama dari suku melayu yang kalo adakan akad nikah, umumnya orang pake adat tepung tawar atau cucur air mawar. Maka, demi mencegah terjadinya campur aduk sunnah dalam pernikahan kami kala itu, dikasi deh beberapa artikel ini ke keluarga kami:
1. Jangan buat sunnah gado-gado
2. Hukum upacara tepung tawar
3. Video upacara tepung tawar yang ternyata aslinya dari Hindu

Itulah beberapa hal tentang pernikahan yang telah kami jalankan. Alhamdulillaah, ketika akad nikah kami, tak ada prosesi tukeran cincin. Hanya saya yang pake cincin. Bisa liat sendiri di foto di atas kan, tangan suami saya ga pake cincin hehehe. Dan juga, prosesi cucur air mawar yang tadinya keukeuh pengen ibu saya laksanakan, berhasil dicegah dengan bujuk dan rayuan maut calon mempelai pria yang saat ini telah menjadi suami saya :D Alhamdulillaah yaa..

Kami doakan, semoga teman-teman yang dalam waktu dekat berencana menikah, prosesi pernikahannya lancar, bebas dari campur aduk adat istiadat yang dalam syariah Islam hukumnya haram, serta penuh berkah. Pernikahan yang penuh berkah akan membawa berkah pula bagi sekeliling kita, tak hanya untuk kedua mempelai saja, Insha Allaah :)

Saturday 17 September 2011

Ngeplurk yuk


Dulu, saya mengklaim bahwa saya bukanlah internet user yang social butterfly. Eh? Bukannya saya suka kupukupu? Aaaah, pasti belom baca postingan saya tentang social butterfly deh yaa? Yuk dibaca dulu, skalian supaya tau apa siih social butterfly itu.

Nah, berdasarkan definisi itu, untuk saat ini kayaknya udah boleh deh saya mendapatkan predikat sebagai social butterfly. Yaa, berhubung saya ga punya deadline yang harus diselesaikan selain deadline harian seperti masak untuk suami hehehe. Sekarang ini, alhamdulillaah waktu yang saya punya sangat fleksibel. I manage my own time. No deadline, no feeling guilty of coming late. Karena itulah, mudah sekali bagi saya saat ini untuk berlaku seperti social butterfly. Ah yeeey.

Dalam rangka berekspansi dan meninggalkan jejak nama temanteman di jejaring sosial dunia maya, saya pengen ajak temanteman untuk ngeplurk. Apa pula itu plurk? Beberapa yang sudah lama warawiri di dunia maya barangkali sudah tau jejaring sosial yang penuh dengan emoticon warnawarni ini. Yoih, menurut saya, di situlah letak kelebihan plurk dibanding jejaring sosial lain seperti twitter. Kalo twitter sepertinya lebih mengedepankan autotext. Sedangkan plurk, emoticonnya animated dan lebih meriah.

Mirip twitter, plurk ini juga layanan jejaring sosial dengan fasilitas microblogging. Kita bisa plurking atau bikin thread dengan maksimal 140 karakter. Mirip-mirip twitterlah. Bedanya, kalo di plurk, komen tidak dalam bentuk reply ke user, melainkan bisa langsung tulis di kolom respon. Temanteman bisa liat sebagian contohnya di akun saya: thekupu. Selain emoticon yang membedakannya dari twitter, tampilan plurk juga lumayan unik. Kalau timeline twitter berjalan secara vertikal, plurk bertimeline horizontal, kecuali kalau pakai plurk mobile. Yang belum terbiasa akan agak riweh barangkali ya dengan model begini. Tapi lama-lama asik kok :)

Hal lain yang membuat plurker *sebutan untuk plurk user* betah untuk ngeplurk adalah sistem mengumpulkan point yang di dunia plurk disebut karma. Setiap hari akan ada penambahan karma yang membuat plurker bisa mendapatkan emoticon baru serta bisa ngumpulin badges. Karma juga akan bertambah jika setiap hari kita login, aktif merespon tret plurker lainnya, dapat rikwes untuk berteman, danlainlain. Untuk karma di atas 10, plurker bisa kasi judul di timeline, kayak akun saya, judulnya: dhz.thekupu. Karma di atas 25, dikasi emoticon baru. 40 ke atas, bisa ganti display name, dan 50 ke atas dapat special emoticon. Kalo sampe 100? Congrats! Welcome to nirvana club!

Tadinya, plurk hanya membatasi karma sampai 100. Tapi sepertinya banyak plurker yang kabur karena ngapain lagi ngeplurk kalo udah sampai batas maksimal. Maka, *ini tebak-tebakan saya aja nih hehe* developer plurk pun menambah kuota karma menjadi lebih dari 100. Malah, yang terbaru dan mengasyikkan juga untuk yang suka sama emoticon yang unyu-unyu, sekarang ada menu baru: my emoticons. Caranya, upgrade profile kita dulu sampai 100%, baru pilih sendiri mau emoticon dan keyword yang bagaimana. Pengen emoticon lainnya? Ke lab emot plurk aja deh ;)

Ngeplurk yuk aahh. Rasakan sendiri asiknya :D Saya sendiri udah ngeplurk dari 10 oktober 2008. Lumayan lama yaa. Kalo karma bisa dituker beras, berasnya udah 1 ton deh kayaknya ihihihi. Anyway, sampai hari ini saya masih kurang yakin bagaimana pelafalan kata 'plurk' yang benar. Apakah plurk as it is written, ataukah plark, ah ga tau deh. Bagaimanapun cara bacanya, see you on plurk yaaa...

Friday 16 September 2011

Segera selesaikan kuliahmu, nak..

Hari ini, si ganteng alias adik saya Nizamuddin Arriyadhi mulai menjadi mahasiswa FKIP Bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura. Sama dengan saya? Jurusan dan program studinya sama, tapi jam belajarnya beda. Yoih, adik saya ambil kelas reguler B. Sementara itu, salah satu siswa saya di kelas IPA MAN 2 Pontianak, sebut saja namanya Arif Cahyo Imanuddin *nama sebenarnya*, kuliah di jurusan dan prodi yang sama dengan saya, dengan jam belajar yang sama juga, kelas pagi alias regular A. Nah, pagi tadi keduanya nanya-nanya ke saya tentang dunia kuliah. A lot of things they asked.

Sebetulnya, bukan tadi pagi saja saya ditanyai tentang dunia perkuliahan, especially di FKIP Bahasa Inggris tempat saya menimba ilmu. Jauh hari sebelum saya selesaikan skripsi, sebagian siswa saya di MAN 2, di bimbel, di kursusan sudah cukup banyak bertanya tentang seperti apa kuliah nanti. Maka, saya yang saat itu sudah kuliah pun berbagi apa yang saya tau dan saya alami. Berdasarkan pengalaman pribadi tentunya :D

Bicara tentang kuliah, saya jadi teringat di awal-awal kuliah dulu, ada kalimat selewat yang mampir di telinga kami *saya, Linda, dan Fika yang dari awal kuliah sampe dengan selesai hampir selalu bersama-sama*. Sederet kalimat yang berbunyi: "Aaah, di awal kuliah sih emang rajin, semangat 45. Tapi liat lah nanti kalo udah di tengah-tengah menuju akhir, pasti ilang tuh semangat di awal." Sebagai mahasiswa baru, waktu itu kami percaya aja deh. Tapi, setelah kami jalani, alhamdulillaah kalimat tersebut, sama sekali tidak terjadi pada kami. Sempat agak lemes ketika kerjakan tugas, ya. Tapi tidak sampai kehilangan semangat sama sekali sehingga harus membuat kami berhenti kerjakan tugas maupun skripsi. Rugi doonk.

Memang, beberapa senior yang kami kenal, baik di fakultas yang sama maupun fakultas lainnya, kentara sekali mengalami penurunan semangat untuk selesaikan studi mereka. Yah, saya pribadi menilainya dari lamanya waktu studi mereka. Idealnya, kalo di Untan sih ya, kuliah itu bisa diselesaikan dalam waktu 3,5 - 5 tahun. Untuk mahasiswa di beberapa fakultas, selesai dalam waktu 3,5 tahun mah gampang. Tapi di fakultas tertentu lainnya, bisa selesai 4,5 tahun sudah bersyukur kepada Allah Yang Maha Esa.

Maka dari itu, jikalau ada beberapa rekan, baik rekan senior, seangkatan maupun junior yang selesaikan kuliah sampai lebih dari 5 tahun, saya golongkan sebagai mahasiswa yang semangatnya sempat meredup. Kenapa demikiaaan? Sebelumnya, maaf yeee untuk yang tersinggung hehehe.. Ini hanya analisa saya, sekaligus juga siapa tau bisa jadi sedikit motivasi untuk cepat-cepat hengkang dari kampus heheh.

Nah, kenapa sih seorang atau beberapa orang mahasiswa bisa sampai menurun semangatnya untuk selesaikan kuliah? Menurut saya pribadi, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan atau faktor eksternal.

Faktor internal antara lain:

1. Malas.
Ini sepertinya menjadi alasan paling banyak mendera mahasiswa tingkat akhir. Sewaktu kuliah, saya cukup sering nongkrong di kantin kampus dan mendengar langsung alasan ini dari beberapa teman. Ah, sebagian besar malah. Bahkan, saya pun pernah kok mengalaminya ihihi. Tapi alhamdulillaah segera terbangun dari rasa malas ketika teringat motivasi yang saya punya supaya bisa segera hengkang dari kampus tercinta.

2. Kurang memiliki motivasi.
Ini juga sebetulnya yang membuat beberapa mahasiswa tingkat akhir sulit lepas dari rasa malasnya. Punya motivasi itu sangat perlu. Waktu itu, ketika malas pelan-pelan menghampiri saya, dan saya mulai terlena, saya munculkan segera motivasi saya. Antara lain: Saya tak mau kecewakan orang tua. Kalau menuruti rasa hati siih, saya merasa waktu itu sudah dalam zona aman dan cukup nyaman.

Tanpa gelar s1, saya bisa mengajar di sanasini, saya bisa menjadi dosen, saya sudah punya kerjaan kok. Tapi, berhubung sayalah yang memulai belajar di FKIP Bahasa Inggris Untan kala itu, maka saya pula yang harus selesaikan studi saya. Membahagiakan kedua orang tua yang sampai hari ini selalu membuat saya bahagia. Selain itu, memberi contoh kepada adik-adik saya bahwa kalau kuliah nanti, jangan sampai berhenti di tengah jalan karena itu berpotensi menyakiti hati kedua orang tua kita. Begitulah beberapa motivasi yang saya punya. Oh 1 lagi, waktu itu saya pengen nikah ihihi. Walopun menikah tak perlu ijazah s1 dan tak penting lah gelar S.Pd di undangan walimah, tapi bagi orangtua saya saat itu, lebihbaik selesaikan kuliah dulu baru deh nikah. Alhamdulillah yahh, I got both now :D

3. Sibuk cari uang
Alasan yang ketiga ini sangat banyak saya temukan di kampus saya. Memang sulit mencari mahasiswa prodi Bahasa Inggris yang tidak mengajar. Rata-rata teman saya waktu itu, minimal mengajar di 1 tempat les. Bahkan ada yang mengajar di sekolah. Ah, yang ngajar di kampus aja ada kok :p Tak hanya mahasiswa prodi Bahasa Inggris saja yang rajin bekerja, dari fakultas dan prodi lain pun tentunya tak kalah banyak. Ada yang sambil bisnis suvenir, sambil kerja sebagai SPG, kerja sebagai administrasi kantor, jadi guru ngaji, sambil jadi penyiar, ah macem-macem profesi deh. Mahasiswa yang bekerja itu emang keren siih B-)

4. Time management yang buruk.
Keenakan cari duit, rupanya lupa untuk atur skala prioritas. Jeleknya, pengaturan waktunya jadi kacau. Lupa kalau masih kuliah. Lupa kalau nyusun skripsi itu melibatkan dosen yang jauh lebih sibuk daripada sekedar mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Salah seorang dosen pembimbing saya pernah cerita ke saya, ada mahasiswa bimbingannya yang ketika diminta untuk datang jam sekian untuk konsultasi skripsi malah bilang gak bisa karena tabrakan sama jadwal ngajar. Pliss deh. Kalau sudah seperti ini, sebaiknya ngajarnya dipending dulu deh. Kalo perlu, ketika sudah masuk fase nyusun skripsi yang memerlukan fokus lebih tinggi dan lebih banyak waktu untuk konsultasi dengan dosen, kurangi dulu lah jam kerjanya. Karena, tak bisa juga kita salahkan dosen untuk perkara yang sebetulnya menjadi kekurangan kita sebagai mahasiswa.

5. Cuti.
Cuti nikah, cuti hamil, cuti beasiswa, cuti program pertukaran pelajar, dan cuti-cuti lainnya membuat mahasiswa terpaksa jadi lama selesaikan studinya. Asalkan habis cuti jangan malah jadi lupa aja sih ya kalo masih ada kuliah yang harus dilanjutkan.

Itu beberapa Faktor internal yang saya rangkum menjadi 5 items. Kalau temanteman merasa bahwa tak satupun dari 5 faktor itu ada di diri temanteman, maka barangkali beberapa faktor eksternal ini yang jadi penyebab mandegnya studi:

1. Dosen sibuk
Namanya juga dosen, ya wajar kali ya kalo sibuk. Tapi kadangkala ada juga dosen *yang menurut pandangan mahasiswa* sibuknya udah kebangetan. Seperti lupa kalo punya bimbingan. Susah beuudz mau ketemuan doang. Sering mondar mandir ke luar negeri pula. Waduuuh, repot ya. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi dosen super sibuk begini. Buat appointment yang rapi dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalo semisal sampe 3x appointment dilanggar oleh dosen yang bersangkutan, mendingan segera ke pihak akademik atau pihak berwenang untuk minta diganti dosen pembimbing. Rugi donk menghabiskan waktu yang berharga untuk menunggu dosen sibuk yang tak kunjung bisa ditemui.

2. Riset yang dipilih terlalu sulit.
Ini juga pernah dialami beberapa teman saya. Judulnya ketinggianlah, sulit diaplikasikan di sekolah lah, ini lah, itu lah, blah blah blah. Hasrat hati ingin punya judul skripsi yang terkesan bombastis dan sophisticated, apa daya sarana dan prasarana belum memadai. Hasilnya, judul dirombak, riset ngulang dari awal. Aiih, ribet sendiri deh. Saya jadi teringat pesan papanya sahabat saya, Herlianti Anissa. Kata beliau, kalau untuk studi yang 'cuma' s1, jangan terlalu kedepankan idealisme lah. Nanti kalau mau s2 atau s3, silakan keluarkan semua idealismenya. Yaaah, asal jangan skripsi minta dibikinin orang lain aja. Kalo kayak gitu sih namanya curang dan memalukan.

3. Dosen menyimpan sentimen pribadi.
Hal ini pernah saya tanyakan di awal ospek dulu. Oscama namanya. Dalam auditorium Untan, dengan suara merdu *cieee, ini kata Linda loh ihihi* saya bertanya pada dosen atau bahkan dekan dari fakultas entah apa: "Pak, apakah ada dosen yang sentimen dengan mahasiswanya?". Pertanyaan saya mendapat tepuk tangan meriah dari beberapa senior yang nonton dari atas audit. Prok prok prok prok. Ge er deh saya jadinya :p Daaaan, ternyata jawaban bapak tersebut: "Tidak ada dosen yang sentimen dengan mahasiswa". Well, setelah alami sendiri proses perkuliahan, saya tidak bisa sepenuhnya setuju dengan jawaban bapak tersebut. Karena, jujur saja, memang ada dosen yang menyimpan sentimen pribadi pada mahasiswa. Terlihat dari perlakuan dosen pada mahasiswa kok.

Tapi, tentu sebagai mahasiswa, kita harus berfikir fair. Pasti ada penyebabnya kenapa seorang dosen bisa sampe sentimen ke mahasiswa. Tak mungkin dosen tiba-tiba sentimen. Barangkali ada sikap mahasiswa selama di kelas yang tidak berkenan di hati dosen. Nah, kalau temanteman merasa bahwa ada dosen yang menimbulkan gejala sentimen, sebaiknya segera caritau penyebabnya. Jangan biarkan berlarut-larut, karena harus diakui, selama di kampus 'nasib' ada di tangan dosen.

Bersikap baiklah selama di kampus. Biarin aja orang lain beranggapan kita cari muka kek, 'menjilat' dosen kek, ah terserah deh. Biarlah orang berkata apaaa. Toh, bersikap baik dan sopan sama dosen adalah salah satu akhlak mahmudah, sopan terhadap yang lebih tua #eaaaa :p

Begitulah, temanteman. Seperti apapun sulitnya perjalanan mengarungi bahtera di dunia kuliah, kobarkanlah terus semangat yang membara dalam tiap langkah temanteman. Buatlah catatan sejarah yang baik. Jika ingin dikenang sebagai seorang alumni fakultas dengan prestasi cumlaude, buatlah dari sekarang. Gelar yang hanya s1 memang bukan apa-apa. Tapi perjalanan menuju ke sana menjadi sebuah pertanda, bahwa kita menghargai proses belajar, bagaimana kita menghargai kejujuran, dan pada akhirnya kepuasan tersendirilah yang akan kita raih.

Selamat melanjutkan perjuangan di bangku kuliah. Semoga keluar dari kampus dengan hasil gilang gemilang.

Wednesday 14 September 2011

Orang dewasa belum tentu dewasa

Saya teringat pesan sebuah iklan rokok: tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Atau sebuah kalimat dalam wawancara yang saya simak sekilas: usia hanyalah sekedar angka. Begitulah. Tidak ada yang bisa menjamin semua orang dewasa bersifat dewasa. Adult doesn't mean mature. Sebagaimana seringkali juga kita saksikan di muka bumi, anak kecil masakini telah tumbuh 'dewasa' sebelum waktunya. Meskipun, yaah, kalimat barusan lebih sering bermakna negatif daripada positif.

Apa sebetulnya ciri-ciri seseorang bisa kita katakan dewasa? Beragam dan sangat relatif. Jika menurut saya seseorang yang hampir tiap menit ganti display picture dan personal message di BBM tidak dewasa, belum tentu menurut yang lain begitu. Atau, jika menurut suami saya terlalu banyak berkicau yang remeh temeh adalah hal yang tidak dewasa, belum tentu menurut saya begitu. Ah, memang agak sulit ketika kita harus menghakimi seseorang whether or not dia bersifat dewasa.

Anyway, saya rasa sebagian besar orang sependapat bahwa sifat dewasa itu diartikan sebagaimana paham waktu dan situasi dia harus berkata dan bertindak, untuk kemudian berani bertanggung jawab dengan segala ucapan dan perilakunya. Selain juga bertingkah laku sesuai dengan ucapannya, tentunya.

Bersifat dewasa, *kalau yang ini menurut saya ya hehe* berarti berani bersikap ksatria. Ketika merasa salah, ya akuilah bahwa ucapan atau perbuatan kita salah. Perkara oranglain bersedia memaafkan atau tidak, biarkanlah menjadi urusan hatinya dengan Sang Maha Pembolakbalik hati. Toh, mengutip Mario Teguh, setiap kesalahan bisa dimaafkan meskipun tidak semua kesalahan bebas dari tanggungjawab.

Bicara tentang maaf-maafan, di bulan Syawal ini memang sebaiknya tak elok mengingatingat perkara yang telah lalu, kecuali mengambil hikmahnya saja. Jika Allah saja Maha Pemaaf, masa siiih kita tak ingin menjadi lebih dewasa dengan 'mengadopsi' sifat Allah yang Pemaaf? ;)

Sebuah pertimbangan pula untuk memaafkan khilaf seseorang: Ketika muncul permintaan maaf, kadangkala tak sekedar sesali khilaf belaka, namun lebih karena utk hargai ukhuwah yang telah lama terjalin. Maka, jika pintu maaf belum terbuka, dan tak kau jumpakan aku untukmu lagi, jangan kau sesali setitik egomu ketika kau abaikan pinta maafku ;)

Setuju? Saya setujuuu. Meskipun saya sendiri, di usia 24 tahun ini, masih sedang menjajaki diri menuju tahap ideal tersebut. Marilah mari kita samasama berbenah sendiri, selagi hayat masih di kandung badan.

Now, or Never

Betapa drastisnya degradasi kualitas dan kuantitas menulis saya. Aje gileee. Saya sudah aktif ngeblog sejak saya SMA dengan url belomcukupumur *yang sekarang sudah saya hapus hehe*. Tenang, itu isinya tulisan-tulisan biasa kok. Sedikit pun tidak mengandung unsur berbahaya bagi anak di bawah usia. Asal muasal url itu adalah ketika salah seorang rekan senior di Radio Volare seringkali 'menjahili' saya dengan berkata: Ah, Dini belom cukup umur buat tau. Huahaha, sounds ngeri ya :p Anyway, waktu itu usia saya memang terhitung masih belia. Baru tamat SMP. Boleh deh dibilang belom cukup umur sama rekan senior bernama Aris Munandar itu :D

Nah, itulah asal muasal url blog lama tersebut. Beberapa tahun kemudian, saya buat blog ini dengan konten yang acakadul seperti sekarang. Tidak ada tema khusus dalam blog ini sebagaimana blog beberapa rekan lain. Ada yang khusus tentang masak, resep, IT, lifestyle, ah keren sekali. Blog saya, sejak awal kemunculannya memang ditujukan sebagai tempat mencurahkan ide dan rasa, menjadi tempat menguapnya emosi-emosi seorang Dini Haiti Zulfany. Meskipun saat ini, seperti yang diawal saya paparkan, kualitas dan kuantitas menulis saya jauuuuh menurun.

Lihat saja, di tahun 2007, ada 124 tulisan yang dengan pedenya saya publish. Meningkat sebanyak 9 postingan di 2008 menjadi 133 postingan. Di 2009, saat itu sepertinya saya mulai *sok* sibuk kuliah ya ahihihi, sehingga postingan menurun sebanyak 20 tulisan, sisa 113 postingan. Naaah, yang lebih *sok* sibuk itu di tahun 2010 dan tahun ini :(((( Parah benerrr, digabungkan pun hanya terkumpul 40 tulisan. 41 sama yang sekarang sedang saya ketik, huwaaaa drastis sekaleee.

Sungguh memalukan. Saya yang dulu semangat banget memprovokasi oranglain untuk rajin menulis di blog masing-masing, sekarang malah hilang dari peredaran dunia blog. Yang kayak gini pengen ikutan pesta blogger atau ikut kopdar komunitas blogger? Waduh, udah minder tingkat dewa deh saya sekarang. Maka dari itu, teman-teman sekalian. Demi mengembalikan produktivitas menulis saya, sekaligus mengembalikan fungsi blog ini sesuai fitrah, saya bertekad untuk akan rajin ngeblog lagi di masa yang akan datang. Duh, kayak lagi kampanye deh ya :p

Yoih mamen. Blogging, now or never. Now is the best time to have my wonderful blogging moment. Even with a bit different condition and atmosphere, I'll start writing something here, much or less, yang penting nulisss, yiiihaaa. Welcome back, Dinie :)