dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday 31 December 2009

Terakhir di 2009


Ada beragam kejadian sepanjang 2009, yang tak tertuliskan, tak terlukiskan, tak terungkapkan, dan berkesan! Saya tabung sebagian perasaan yang belum boleh dikeluarkan di dalam hati, akan saya keluarkan dengan perlahan namun pasti, nanti.

Saya bahagia, tentu saja. Berkalikali saya nyatakan, bahwa perasaan hanyalah perkara pilihan. Dan memilih menjadi bahagia dalam kondisi yang *barangkali* bagi sebagian besar kaum sensitif bukanlah sebuah kondisi membahagiakan adalah sebuah keputusan hebat yang di akhir tahun lalu telah saya tetapkan. Dahsyat betul rasanya malam itu. Bahkan kekuatan tulisan saya itu bisa saya rasakan lagi sekarang :D


Maka, sebagaimana yang telah saya tuliskan dalam postingan blog seorang penulis freelance, 2010 *dan seterusnya* adalah renewing the growth inside myself.

New Status.

New Life.

New Better Me.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tetap kata-kata itu:

Semangadlah!

Tersenyumlah!

Bahagialah!

Tentu, tak satu pun yang dapat ganggu bahagiamu jika Dia sudah ada di hatimu, hati kita semua, kawan.

Tuesday 22 December 2009

22, menua.


Duapuluhdua.
Semakin hari semakin tua.
Tak terasa, semakin menua.

Duapuluhdua.
Penuh cinta, cinta tak pernah tua.
Sedangkan jiwa belum lagi paripurna.


Duapuluhdua.
Bukan satu, namun bersatu menjadi satu.
Ada dua, tapi duapuluhdua, maka jalan berdua.

Duapuluhdua.
Kalau lelah, tak usah diam saja.
Kalau lelah bicaralah, dan laksanakan.

Sesadarnya kita, setiap hari semakin menua.
Terserah, duapuluhdua, duapuluhtiga, duapuluhempat, duapuluhlima, seterusnya.


Selesai, dan ini bukan puisi, hanya suarahati yang sedikit tertahan.

Sunday 20 December 2009

Rileks dengan menangis

Tears must have advantages.

Itu adalah kalimat terakhir di postingan saya ketika saya menangis dengan nyaman. Bukan karena saya barusan saja menangis maka saya menuliskan kalimat itu, tapi karena memang air mata adalah representasi sederhana dari perasaan para wanita, baik wanita yang mengaku tegar maupun wanita yang benarbenar tegar. Yeah, woman...

Tears, words from the unspoken heart.

Dan benar saja, menangis memang bisa membuat tubuh menjadi lebih santai. How come?


Berita lengkapnya bisa di baca di sini.

"..dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." (An-Najm : 43)

Saya memang tak tau menangis jenis apa yang bisa membuat tubuh menjadi lebih santai. Tapi saya yakin, dengan alasan apapun kita menangis, perasaan dan hawa tubuh setelah menangis akan menjadi jauh lebih nyaman. Bahkan, sebuah tangisan penuh keinsafan memiliki kemampuan untuk memadamkan api Neraka.

Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Dan apabila air matanya mengalir ke pipi maka wajahnya tidak akan terkotori oleh debukehinaan, apabila seorang daripada suatu kaum menangis, maka kaum itu akan di rahmati. Tidaklah ada sesuatupun yang tak mempunyai kadar dan balasan kecuali air mata. Sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka."

Airmata keinsafan. Airmata pertaubatan. Airmata benar-benar memiliki kekuatan komunikasi yang canggih.

Peristiwa tangisan, sebagian pernah saya abadikan di sini, sini, dan sini. Oh iya, dan juga tangisan untuk Palestina. Serta yang paling baru, sebuah fakta bahwa hujan cukup sering mengiringi airmata.

Rileks betul sekali setelah menangis. Bersyukurlah jika temanteman masih bisa menangis dengan tulus.

"..dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis." (An-Najm : 43)

Wednesday 16 December 2009

Woman...


Pahami dan cermati contoh dialog di bawah ini:

Situation:

Connie is very interested in a red blouse in the catalog she just received. She tells John that she wants to get one....

Connie: Look at this catalog, John. I think I want to get this red blouse.
John: Don't you have one like this in blue?
Connie: Yeah, but I don't have a red one.
John: Do you need every color in the rainbow?
Connie: (Looking at her husband dumbly.) Yes!
John: (The husband shakes his head.) Tsk...tsk...women!

Apakah temanteman paham maksud dari dialog yang saya copy dari sini ini? Baiklah...


Saya yakin sebagian akan membatin: "wanita, hobi banget belanja". Atau, "wanita, suka banget muter-muter di mall, lama banget puasnya". Dan barangkali, "wanita, maunya apa sih!?" Atau punya persepsi lain setelah membaca contoh dialog di atas?

Andrea Hirata pun, dalam salah satu novelnya di tetralogi Laskar Pelangi, sempat memaparkan pandangannya betapa wanita adalah sesosok makhluk yang sulit betul untuk dipahami maunya apa. Konon, jangankan pria, wanita sendiri juga seringkali tak tau apa sebetulnya yang diingini. Oh really? Ah, woman... You're all beautiful hehe..

Saya sebetulnya malah ingin sekali bertanya, apa sih yang menyebabkan sebagian kaum adam sepertinya agak cukup sering mengeluh *atau sepertinya begitu* dan berkata, "Woman...". Kenapa sulit betul memahami maksud kami? Padahal isyarat melalui non-verbal language dan beberapa kalimat implisit sudah banyak sekali dipaparkan, mereka bermain-main di depan mata. Kenapa kok masih gak ngerti-ngerti juga?

Baiklah. Kaum adam saya persilahkan untuk berkata, "Woman.." untuk postingan saya kali ini. Kaum hawa, ngerti kan maksud saya? Yaa, memang begitu maksud saya. Bahwa ada masanya kita para wanita tak ingin semua keinginan disampaikan dengan kalimat terang benderang. Bahwasanya kadangkala kesal betul melihat *dan harus menghadapi fakta* bahwa lawan jenis kok susah betul sih memahami maksud kita sebagai wanita. Padahal, maksud wanita itu sangat sederhana: dimengerti.

Sayang sekali, bagian itulah yang sepertinya tetap saja membuat sebagian besar lakilaki seringkali mengekspresikan kebingungannya akan maksud wanita dengan 1 kata: "Woman...

Sunday 13 December 2009

Keju masih enak

Pertama kalinya blog ini menyajikan resep makanan, dan itupun jenis makanan ringan, adalah awal Juli lalu. Pisang keju. Makanan ringan yang proses bikinnya sangat sederhana. Sebagaimana yang saya paparkan di postingan waktu itu, meskipun saya belum bisa memastikan apakah bakalan ada resep berkeju versi kedua atau tidak, maka saya bersyukur atas kalimat tersebut karena kali ini saya hadir kembali dengan sebuah variasi keju yang kedua.

Nasi Tim Keju. Well, well. Ini nemu juga dari situs iklan keju terkenal sih hehe. Tapi karena udah laper, dan udah mulai bosan dengan nasi goreng campur keju cheddar yang dipotong dadu *bentuk dadu loh, bukan warna dadu*, maka mari simak bersama apa saja yang kita perlukan untuk membuat sepiring nasi tim keju. Here it is...


Pertama, siapin bahan-bahannya, tentu saja. Ini dia:

100 gr beras dicuci, tiriskan
50 gr potongan buncis dan wortel
2 sdm mentega
1 sdm bawang bombay cincang
1 siung bawang putih cincang
1 btr telur ayam
250 ml air
50 gr keju cheddar, parut *Masih ingat kunci penting di sini? Jangan malas memarut keju!!*
Sedikit garam dan merica halus, tambahkan gula (kalo suka)

Apakah temanteman tipikal manusia milenium yang suka hal-hal instan, namun tetap ingin mencoba resep ini tanpa harus belanja ke pasar beli setengah ons buncis dan wortel? Baiklah jika begitu. Belanja aja ke fresh mart atau hypermart atau toko semacam itu yang menyediakan sayuran beku siap pakai. Ada banyak macam kok. Supaya nasi tim kejunya nanti lebih berwarnawarni, boleh juga beli yang mized frozen vegetables. Insya Allah tersedia di sana. Kalo ga ada barangkali temanteman salah masuk toko ehehehe :D

Sudahkah lengkap semua bahan-bahan tersebut? Kalau begitu, mari teruskan ke cara pembuatan. Begini prosedur buatnya:

1. Lumerkan mentega dalam wajan, tumis bawang bombay dan bawang putih cincang, aduk, masukkan potongan buncis dan wortel, aduk.
2. Masukkan kocokan telur yang telah diberi garam dan merica.
3. Masukkan beras, aduk-aduk, tuangi air, masak sampai air habis, beri keju parut, aduk rata, angkat.
4. Ambil 2 buah mangkuk pyrex kecil, tuang adonan nasi tim lalu kukus sampai matang selama kurang lebih 30 menit, angkat dan sajikan.

Menurut sumbernya, untuk 1 resep nasi tim keju ini, terkandung energi sebesar 1.464 Kalori dan Kalsium sebanyak 1.130 mg. Nasi tim keju seperti ini juga bagus untuk anak-anak yang susah atau kurang suka makan sayur.

Nah, gampang kan buatnya? Sekali lagi, percayalah, keju itu enak...

Tuesday 8 December 2009

Walimah masa kini

Temanteman saya persilahkan untuk beranggapan bahwa saya *sepertinya* akan menikah dalam waktu dekat ini. Tapi sebelum anggapan itu muncul, saya hanya ingin menyampaikan bahwa tidak ada statement setendensius itu yaa di halaman ini hehe. Tapi lagi, jika anggapan seperti itu sudah terlanjur muncul saat temanteman membaca judul tulisan ini, tak ada yang bisa saya lakukan selain mengatakan 'amiin'. Jadi, kalo ternyata dalam waktu dekat saya menikah, barangkali saja itu adalah ijabah Allah untuk doa *anggapan* temanteman baik dari dalam hati maupun dari ucapan kan yaaa...

Saya selama ini mikirnya nikah tuh yang gampang-gampang aja. Ada wali, 2 orang saksi yang adil, ada mempelai pria dan wanita yang berniat menikah karena Allah, mahar yang tidak memberatkan suami, ijab kabul, sah, resmi, beres. Not that simple, tentu saja. Rasulullah SAW menganjurkan pasangan yang sudah menikah untuk mengadakan walimah. Walimah, sebagai ungkapan rasa syukur pada Allah, sekaligus pengumuman kepada kerabat bahwa ini loh, kami sudah resmi menjadi suami istri, jadi kami ingin berbagi kebahagiaan dengan temanteman sekalian. Begitu, kan? Tapi kenapa bisa jadi begitu complicated di era milenium ini? *btw, apakah sekarang masih milenium?*



Well, tak ada keharusan untuk memotong pemikiran semacam itu dari kepala saya, juga kepala temanteman yang punya pemikiran serupa. Tapi, My GOODNESS!!! Hadapilah fakta betapa repot dan mahalnya pernikahan masa kini. Dari googling internet serta interview ringan sanasini pada mereka yang sudah melangsungkan walimah tentang nominal biaya yang harus dipersiapkan, saya mendapatkan jawaban hampir serupa. Butuh dana paling tidak Rp. 15-50 juta untuk sebuah pernikahan amat sangat sederhana sampai semi-mewah *untuk ukuran saya*. Uh yeah.. Barangkali hal beginilah yang menyebabkan banyak ikhwan, karkun, pria, lakilaki, serta sejenis kaum adam lain yang memilih untuk lebih memperbanyak puasa sekaligus memperbanyak tabungan. Demi sebuah walimah masakini.

Sebuah hal yang kedengarannya jadi klasik betul ya kalo jaman sekarang kita mengajukan sebuah kalimat: "Pernikahan ngga perlu mewah, belum tentu juga kalo nikahnya mewah trus hubungannya awet sampe kakek nenek", atau kalimat lain yang bersifat lebih spirituil dan berdasarkan data serta fakta. Biasanya, kalimat begitu malah akan kalah oleh kalimat yang tak kalah klasiknya, "Pernikahan kan ngga setiap hari, cuman sekali seumur hidup. Apa salahnya keluar uang banyak sekalisekali", atau kalimat lain yang bersifat lebih tradisionil dan berdasarkan gengsi sosial, biasanya.

Baiklah, kawan. Saya tidak sedang membahas perkara persiapan mental maupun spiritual yang tentu saja jauh lebih penting daripada persiapan finansial menuju pernikahan. Tapi paling tidak, urusan persiapan finansial untuk menikah ini adalah salah satu faktor yang paling sering muncul dari pihak ikhwan, karkun, pria, lakilaki, serta sejenis kaum adam lain yang tadi saya katakan memilih untuk lebih memperbanyak puasa sekaligus memperbanyak tabungan. Jelas saja ini harus dipikirkan. Karena alasan "pernikahan merupakan *dan mudahmudahan* moment sekali seumur hidup" tidaklah salah. Pun tak bijak juga menjadikan alasan itu sebagai dalih untuk membuat sebuah walimah menjadi kelewat mewah. Maka, mari melihat beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk sebuah walimah masa kini.

1. Bagi yang tak mau repot memberesi rumah sebelum, selama, apalagi sesudah pesta pernikahan, sewa gedung adalah sebuah pilihan yang pada akhirnya mungkin saja menjadi satu-satunya opsi. Gedung manakah yang bisa digunakan untuk sebuah pesta pernikahan tanpa mengeluarkan biaya sewa? Persiapkanlah ini, teman. Jika merasa lebih nyaman walimah di rumah, tetap saja butuh biaya minimal untuk dekorasi dan tenda.

2. Kalau saja manusia masa kini bisa merasa cukup mendapat pengumuman akan dilangsungkan pesta walimah via speaker masjid, via sms, atau mouth to mouth, maka undangan bukanlah hal penting. Sayang sekali, jaman sekarang sepertinya sudah tercetak dalam kepala masing-masing manusia bahwa undangan walimah adalah salah satu tolak ukur 'nilai' dari sebuah pesta pernikahan. Menyedihkan sih sebetulnya. Lebih banyak pohon harus ditebang untuk dibuatkan beratusratus surat undangan yang pada akhirnya dibuang ke tong sampah sesudah walimah usai. Adakah seorang manusia penguasa yang bisa mempengaruhi semua orang tak keberatan kalau diundang tanpa surat undangan? Oh, budaya...

3. Pos pengeluaran paling besar ada di catering. Belakangan malah bisa menjadi jauh lebih banyak lagi dana yang harus dikeluarkan karena rasarasanya cukup banyak manusia yang kurang puas dengan hanya menyediakan 1 macam menu saja saat walimah. Minimal nasi lengkap dan bakso. Kalau perlu, tambah roti cane, pempek, siomay, mie ayam, mie kocok, sop kikil, duh laper.

4. Begitu baiknya orang Indonesia sehingga jika melangsungkan walimah, maka para undangan akan pulang membawa oleh-oleh. Saya kurang tau apakah di luar negeri juga ada istilah souvenir walimahan. Yang jelas, Indonesia sepertinya puts on demand mengenai urusan ini. Banyak banget situs online penyedia suvenir pernikahan bertebaran, mungkin sama banyaknya dengan penyedia suvenir pernikahan yang ga bikin web buat jualan. Siapin ini juga loooh kalo walimahnya nanti mau dikasi nilai sebagai walimah masa kini.

5. Pernikahan, mulai dari ijab kabul hingga proses walimahnya memang moment sekali seumur hidup. Tentu saja pasangan pengantin sebaiknya tidak tampil biasabiasa saja. Perlu kostum khusus, plus make up, terutama untuk pengantian akhwat, wanita, perempuan, atau woman yang menurut banyak kaum adam adalah jenis manusia yang sulit dimengerti. Untuk urusan kostum dan make up, saya sepakat bahwa memang sebaiknya pengantin wanita tampil istimewa, meskipun tak harus mahal. Walaupun pada akhirnya, tetep aja perkara kostum dan make up untuk pengantin wanita lebih banyak dan mahal daripada pengantin pria.

6. Sekali lagi, bahwa pernikahan beserta perangkatnya adalah moment sakral yang terjadi sekali seumur hidup. Adalah penting mengabadikan moment semacam ini ke dalam bentuk .jpeg dan/atau .mpeg. Berarti, dana berikutnya yang harus dipikirkan adalah dokumentasi. Semua orang menginginkan sebuah dokumen gambar dan video yang berkualitas. Tapi tidak semua orang punya dana lebih untuk menyewa jasa pengambil gambar atau video yang berkualitas.

7. Cukuplah 6 saja ya. Biarlah urusan transportasi, administrasi, entertainment dan halhal lain yang belum disinggung di atas dipikirkan bersama keluarga jelang hari H. Lagipula, yang terpenting adalah berkah sebuah pernikahan tak terletak pada meriahnya sebuah walimah.

Maka, untuk temanteman yang sudah berniat menikah kemudian jadi urung hanya garagara tulisan rincian finansial ini, maka simaklah sebuah hadits berikut:

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Well, well. See? Jika temanteman berniat menikah karena Allah, ingin menyegerakan pernikahan demi menjaga diri, maka saya ucapkan selamat!! Karena temanteman tergolong manusia yang Insya Allah berhak mendapatkan pertolongan dari Allah. Jadi, kenapa harus ragu dengan janji Allah?


Sunday 6 December 2009

Keadilan dalam lingkaran koin


Beberapa orang sempat tidak percaya jumlah dukungan untuk Pak Bibit Samad Rianto dan Pak Chandra M Hamzah bisa mencapai target sejuta sebagaimana judul grup tersebut. Tapi faktanya adalah: lebih dari sejuta facebookers mendukung. Sungguh fenomenal. People power by cyber world! Tak terbendung, beragam kemarahan rakyat Indonesia terhadap wajah hukum di negara ini. Kondisi keadilan yang juga bikin saya sangat amat gemes banget. Ga perlu lah saya paparkan lagi bagaimana hukum di Indonesia memang betulbetul seperti pisau dengan bagian bawahnya saja yang tumpul, sedangkan bagian bawahnya tajam banget.

Selesai cerita Bibit-Chandra melalui sebuah dukungan dunia maya, muncul lagi dukungan yang menurut saya jauh lebih fenomenal dari grup sejuta fesbuker itu. Grup facebook bernama KOIN PEDULI PRITA. Grup yang terbentuk atas dasar kepedulian terhadap keadilan. Berusaha menyampaikan luka hati terhadap pengkhianatan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencincangcincang keadilan tanpa ampun! Direpresentasikan oleh banyak rakyat Indonesia melalui gemerincing koin untuk Prita Mulyasari.



Sebuah fenomena menarik. Mengingatkan saya pada pelajaran PMP *Pendidikan Moral Pancasila* yang kemudian berubah nama menjadi PPKn *Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan* ketika saya masih SD dulu. Materi toleransi dan tenggang rasa, serta materi persatuan dan kesatuan. Contoh kasusnya Ibu Prita ini, dengan bantuan dan inisiatif orang-orang yang bahkan sama sekali ga kenal dengan bu Prita ini, bolehlah dimasukkan ke dalam kurikulum baru untuk mata pelajaran serupa. Saya ga tau sekarang pelajaran kayak PMP dan PPKn itu namanya apa di sekolah-sekolah.

Toleransi, tenggang rasa. Saya bisa bayangkan bagaimana ratusan ribu bahkan barangkali jutaan rakyat Indonesia ikut merasakan kebingungan yang dirasakan Ibu Prita. Rp. 204 juta itu bukan angka yang sedikit. Kalo dipake buat bikin brownies cokelat kukus bisa dapet berapa cetak tuh? Weleh weleh. Malah bisa sekalian buka usaha rumah brownies hehe.

Maka, demi jumlah rupiah yang bagi banyak rakyat Indonesia bukanlah angka kecil itu, kemudian muncullah rasa toleransi dan tenggang rasa. Meskipun Ibu Prita masih akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung untuk kasusnya, tapi sama sekali tak menyurutkan jiwa toleransi rakyat Indonesia *apalagi rakyat Indonesia yang punya rasa keadilan sangat tinggi* untuk ikut merasakan apa yang dirasakan Ibu Prita, lalu mengeluarkan sisi sosial paling peka untuk membantu Ibu Prita dengan bantuan sekecil apapun yang dimiliki.

Efek yang kemudian muncul, tentu saja persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia *terutama yang bertoleransi dan memiliki rasa keadilan tinggi tadi*. Sampai dengan jari saya mengetik tulisan ini, sudah ada 9 posko yang dengan sukarela membantu terkumpulnya koin-koin untuk Ibu Prita. Baru 2 hari, sudah 2 juta, di 1 posko saja. Belum lagi nanti inisiatif dari teman-teman lain di berbagi daerah yang pastinya akan dengan senang hati menolong sesama rakyat Indonesia seperti Ibu Prita. Sungguh persatuan dan kesatuan yang luar biasa. Wajarlah jika Mahfud MD pernah berkata: "Jangan sekali-sekali melawan arus suara rakyat/people power".

Fenomena ini juga mengingatkan saya pada penjelasan guru SD saya ketika pelajaran PMP atau PPKn yang kurang lebih begini bunyinya: "Anak-anak pernah liat sapu lidi ndak? Nah, coba ambil lidinya 1 batang, bisa ndak 1 lidi itu dipake untuk nyapu? **Ndak bisaaa buuuu** Ndak bisa kan.. Seperti itulah yang disebut persatuan dan kesatuan. Kalau bersatu padu, maka akan lebih kuat"

Well. Untuk para pengajar moral di sekolah-sekolah, barangkali analogi terbaru yang bisa dipake ketika menjelaskan tentang makna persatuan dan kesatuan yaitu dengan koin. "Anak-anak, punya uang sebuah koin? Coba dijatuhkan ke tangan, sakit gak? **Nggaaaak buuuuu** Ngga sakit kan? Nah, coba kumpulin koin sekarung, trus dijatuhkan ke punggungnya oknum penegak hukum, sakit gak?"

Heheh, contoh yang berbahaya ya. Don't try this at class, kalo gitu. Try this to irresponsible people who have lost their sense of justice!!

Saturday 5 December 2009

Menulis hobi

Saya barusan saja selesai mengoreksi paper salah seorang sahabat, yang memang meminta saya untuk koreksi paper-nya. Outline judul, tepatnya. Kedengarannya seakan-akan saya sangat berbakat di bidang menulis essay ya? Hehe. Padahal tidak juga. Tapi tak juga tidak sama sekali. Sedikitsedikit, bisa lah nulis essay, walopun taste akademiknya dikit banget hehe. Nah, selesai 'merevisi' paper temen saya itu, saya jadi kepengen menuliskan salah satu hobi saya: MENULIS!!

Pernah saya rasakan sebuah moment ketika saya sepertinya kok bukan saya ya. Sebuah moment saat tulisan saya ga ada rasa dhz-nya, begitu.



Well. Menulis memang hobi saya. Meskipun, tentu saja, jenis tulisan saya bukanlah jenis tulisan rapi, teratur, dan sistematis. Suka mutermuter dan agak kurang fokus, kadangkadang *aih, bukannya karakter tulisan saya emang suka muter ya ihihi*. saya kepengen tulisan saya bisa sebagus tulisannya blogger favorit saya yang anggun ini ;) Penulis hebat yang membuat sebuah kesenangan menjadi bagian besar dalam hidup. Ah great. Menghasilkan uang dari tulisan, why not?

Saat ini belum, sepertinya. Menulisnya saya masih sekedar hobi, sekedar salurkan ide diri, sekedar keluarkan sedikit perkara hati. Masih belum seperti Andrea Hirata yang menulis karena janji. Yeah yeah, saya memang pernah berkeinginan *dan kedengarannya agak sedikit berjanji ya?* untuk menulis yang tak hanya salurkan hobi, tapi juga lebih menghasilkan ghirah Islami, syukur-syukur kalo disertai pundipundi. Semoga saja; karena keinginan itu hanya akan saya wujudkan jika dan hanya jika syarat dan ketentuan yang berlaku benarbenar terpenuhi. Sementara ini, seperti apa syarat dan ketentuan itu biar saya aja yang tau yaaaa hehe..

Yang pasti, saya memimpikan suatu hari saya akan duduk melingkar dengan penulis-penulis besar, taraf nasional saja dulu, bertukar ide, saling memberi testimoni untuk hasil tulisan masing-masing, menjadi jembatan bagi beberapa orang untuk membuka hatinya menerima hidayah, wah menyenangkan sekali sepertinya!!

MENULIS, itulah salah satu hobi yang saya tuliskan setiap kali mengisi formulir yang ada bagian 'hobi'.

MENULIS, sebuah hobi yang saya lakukan dengan model bohemian, mut-mutan, dan agak rentan dikejarkejar penerbit buku kalo emang sampe jadi penulis beneran. Waduh, mengerikan.

MENULIS, saya tetap hobi meskipun nanti harus dikejar-kejar penerbit buku. Kalau saya ga betah lagi main kejarkejaran sama penerbit buku, saya buka bisnis baru aja: Book Publishing, dengan saya sebagai Presiden Direkturnya hehehe.

MENULIS, sebuah aktivitas yang semua orang bisa lakukan, namun dengan hasil berbeda. Aktivitas yang bisa mengubah dunia!!

MENULIS, yang terpenting, dan mohon dicetak tebal, adalah media sangat potensial dan berharga untuk berdakwah.