dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Tuesday 28 April 2009

thekupu disangka tersangka


Saya kaget!! Terbangun dengan kaki tersentak di ujung tempat tidur!! Waaargh, ada apa dengan thekupu? Aih, rupanya saya terperanjat dengan bunga dunia khayal, kawan. Tapi sungguh menarik sekali. Saya disangka sebagai tersangka garagara tulisan saya kemarin! Weleeeh... Mimpi yang mendebarkan sekali, kawan. Tapi seru juga siy punya mimpi kayak gitu. Nambahin pengetahuan saya tentang hukum, terutama pasal tentang pemilihan umum. Yeah, walopun saya sempat ngimpi bikin partai sendiri, dan samasekali tidak pernah berusaha mewujudkan mimpi itu, namun melalui bunga dunia khayal kali ini, saya mendapat beberapa bekal kalaukalau suatu hari nanti saya udah ga ada urusan lain, dan satusatunya di dunia ini yang bisa saya lakukan hanyalah bikin partai *kemungkinannya adalah 1: ~, mission impossible*.

Nah, trus kenapa gitu saya bilang mimpinya seru dan menambah pengetahuan? Uwm, susah nyeritainnya pake paragraf panjang begini. Narasi kali ini, boleh ya saya sajikan dalam bentuk dialog. Tokohnya, kita namai dulu biar ga kepanjangan ntar diceritanya. Jadi, ga perlu pake kode dalem kurung segala macem hanya untuk kasi liat kalo tokoh dalam cerita udah berhasil diketahui namanya. Langsung aja yah, siapa yang muncul dalam bunga dunia khayal saya, terkait postingan saya kemarin yang disinyalir melanggar pasal pemilu yang UndangUndangnya bisa di donlot di sini.

Baiklah. Tokoh-tokoh dalam kisah itu adalah: pahlawan keadilan *dalam hal ini diperankan thekupu*, pahlawan kesiangan *diperankan oleh pihak yang menjadikan saya tersangka*, dan pahlawan pemerang kebathilan *diperankan oleh, tentu saja, pihak yang membela saya*.



Pahlawan keadilan: Bagaimana mungkin!? Sangkaan yang tidak masuk akal!

Pahlawan kesiangan: Begitu mungkin, amat sangat mungkin. Apa anda belum membaca pasal yang tertulis dalam buku ini dengan jelas!? *sambil menyodorkan sebuah buku kecil yang bisa di download di sini.* Jelas, nona!? *suara tegas tapi tak keras*

Pahlawan keadilan: *membaca, dan tibatiba merasa pusing* Di bagian mana bisa muncul wacana saya melanggar aturan dalam buku ini!?

Pahlawan kesiangan: *menghela nafas panjang, keras kepala dan emosional sekali perempuan ini!, pikirnya*. Ke halaman belakang. Jangan mengulur waktu! For your information, nona. Saya bertipikal koleris, dan jangan mainmain dengan kesabaran saya!

Pahlawan keadilan: *mulai merasa membuat inflasi darah, maksutnya udah mulai ngerasain nih orang bakalan marah, dan segera menyadari taktiknya mengulur waktu kurang oke dan tidak pada tempatnya* Ah, baik. Hmmm, "Setiap orang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota untuk masing-masing Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82, dipidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling sedikit Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) atau paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)." Apakah tulisan saya waktu itu pun, disebut kampanye!? Saya tau saya menerbitkannya jauh setelah masa kampanye berakhir, sangat paham.

Pahlawan kesiangan: Nah, lantas kenapa masih anda terbitkan juga tulisan beraroma partai, bahkan menyinggung profesi di pihak pemerintah segala!? Apa motif anda? Anda bisa terkena pasal berlapis!

Pahlawan keadilan: *Santai, dan tetap tenang, cuek dan tetap tersenyum manis, bahkan sangat manis*

Pahlawan kesiangan: Ngapaian senyumsenyum tak jelas begitu!? Jawab pertanyaan saya!

Pahlawan keadilan: *Masih senyum* Maaf, bapak yang terhormat. Lucu sekali rasanya tuduhan ini. Bapak sepertinya belum membaca tulisan saya itu dengan jeli dari awal. Just for your information juga niy ya pak, Bapak bisa saya tuduh balik dengan pasal pencekalan terhadap hasil karya *ngomong ga pake referensi, entah ada atau ngga ya pasal begituan?*

Pahlawan kesiangan: Judul tulisan anda sudah terhitung mempromosikan sebuah partai, dan di luar masa kampanye! Apanya yang anda sebut sebagai hasil karya?

Pahlawan keadilan: Bapak, apa bapak tidak mengeluarkan sedikit saja sukma estetika dari dalam diri Bapak ketika membaca tulisan saya? Apa menurut Bapak, dengan menceritakan kejadian yang terjadi di akhir masa kampanye terbuka yang baru saja terjadi kemarin, adalah sebuah pelanggaran? Bagaimana mungkin saya akan menulis dan menerbitkan kejadian kemarin pada hari kemarin juga! Tulisan saya hanyalah rekaman kejadian dari observasi saya pada apa yang terjadi di ruas jalan! Kalau saja saya melihat lembar kain iklan sepeda motor itu lebih cepat 1 hari dari masa akhir kampanye yang bapak maksutkan, pasti tulisan saya akan terbit satu hari sebelumnya.

Pahlawan kesiangan: *masih tidak mau menerima fakta* Bagaimanapun juga, Anda bersalah. Sangat jelas tertulis di pasal yang sudah Anda baca tadi, peraturannya sudah jelas sekali, sangat jelas. Anda yang tidak peka dengan peraturan yang dibuat pemerintah. Anda kami tetapkan sebagai tersangka!

Pahlawan keadilan: Ah, terima kasih bapak. Senang sekali disangka tersangka. *masih tersenyum*

Pahlawan kesiangan: Silahkan keluar dari ruangan ini! Cape saya liat kamu senyum.

Pahlawan keadilan: *Makin senyum* Foto-foto dulu dong pak sebelum saya keluar. Buat kenangkenangan.

Pahlawan kesiangan: *menghela nafas amat sangat panjang, kenapa perempuan ini walaupun menyebalkan, tapi sulit sekali berkata 'tidak' untuk tiap permintaannya* Satu kali saja! Tidak boleh d.e.l.a.p.a.n kali!

Pahlawan keadilan: ihihihi Bapak pilih PKS juga yaaaa... *melihat air muka pahlawan kesiangan mulai berubah* Oke oke. Mari foto. 1....2....3... say: 'peaceeeee'.

Cklik *bunyi kamera*. Dan fotonya pun sudah jadi. Sedangkan konsultasi sharing dan sidang penetapan hukuman untuk thekupu yang masih merasa tak bersalah karena memang tidak bersalah, akan dibuktikan bersama sang pemerang kebathilan, dalam episode berikutnya.

*mulai deeeh nyinetron lagi*

Para penggemar, eh ngga, kali ini para peserta sidang yang dirahmati Allah, harap sabar menanti.

Sunday 26 April 2009

PNS atau PKS


Masa kampanye sudah lewat, sudah lama, dan malah sudah ada hasil pemilunya. Dan asal tau saja, kawan. Saya tidak sedang kampanye, kok. Saya sedang akan menghasilkan tulisan dari otak saya yang selalu ingin berotasi pada porosnya, sesuai porsi.

Judul postingan kali ini pasti deh menarik perhatian anda, iya kan kawan? Sudahlah, mengaku saja. Saya ga akan narsis lagi kok. Sekarang saya lebih mengedepankan fakta bahwa mendustai perasaan sendiri sama saja dengan membuat diri sendiri menjadi kelelahan memaksakan diri menunjukkan kesempurnaan. Lebih baik terus berjalan sambil tetap berusaha untuk dapatkan yang terbaik. Nah, sekarang pertanyaannya, apakah menjadi PNS adalah yang terbaik? Sebelumnya, izinkan saya kirimkan ucapan mohon maaf sebanyak 8 kontainer raksasa kepada temanteman yang sudah menjadi PNS.

Baiklah. Apa latar belakang munculnya postingan ini?



Latarnya sangat sederhana sekali, kawan. Hanya beberapa lembar kain iklan yang berjejer di tepi ruas Jalan Ahmad Yani, tepatnya di kawasan lampu merah bundara Universitas Tanjungpura. Sayang sekali sore itu, pas saya lewat situ saya ga bawa kamera digital saya, jadinya ga bisa ngasi gambar. Anyway, di lembaran kain yang dipasang pake kayu sekitar 3 meter itu *aih, heheh asal banget nebaknya*, ada tulisan begini: PNS gratis angsuran 1x. Iyak, itu adalah iklan kendaraan bermotor merek Jepang. Begitu mbaca bagian 'gratis angsuran buat PNS itu', saya langsung mikir, kok enak betul jadi PNS ya...

Kenapa saya bisa mikir begitu? Ya iyah, kawan. Coba deh, tiap bulan, kerja ga kerja dapet gaji. Libur juga dapet gaji. Cuti juga digaji. Tanggal merahnya banyak. Dapet duit tunjangan ini itu. Dan lain sebagainya, yang semuanya membuat beriburibu manusia berpola pikir sama di muka bumi ini pada berebutan buat jadi PNS. Apakah saya berpola pikir sama? Iya, saya juga pengen jadi PNS.

Tapi, jika boleh memilih *halah, kayak ada yang ngelarang milih aja*, saya sebetulnya ingin menjadi wanita yang nge-rumah, tapi ga melulu di rumah. Paham, kan? Artinya, saya ngerjain sesuatu di rumah, tapi teteup bisa menjalankan citacita saya yang muncul sejak saya kelas 3 SMP, yaitu menjadi seorang dosen *dan alhamdulillah citacita itu sudah dikabulkan Allah*. Nah, apakah bisa ya? Bisa dooonk. Saya buat kampus sendiri nanti ^_^.

Trus, hubungannya sama judul postingan kali ini, apah? Kenapa bawabawa PKS segala? Begini ceritanya, kawan. Saya ini, adalah seorang wanita pencinta tarbiyah, yang mencintai metode yang ditawarkan oleh tarbiyah. Termasuk juga di dalamnya, saya merupakan simpatisan sebuah partai, yeah dah pada tau kan ya, toh udah sering saya buat postingannya di blog saya ini. Simpatisan, sampai akhirnya diberi kepercayaan sebagai kader. Sebuah kepercayaan yang ingin saya jaga erat. Toh, saya juga suka ikutikutan beraktivitas di situ. Mulai dari curicuri waktu buat ikutan DS walikota, bertanyatanya tentang hal terkait sama seorang teman, trus malah pernah ikut sebar amunisi di wilayah yang di luar wilayah kekuasaan saya. Hehe, maksutnya begini, kawan. Saya ini kan hitungannya Kota, wilayah barat. Nah, penyebaran amunisi waktu itu terjadi di wilayah Kubu Raya. Jauh keluar batas wilayah tuh, hoho. Anyway, emangnya sebar amunisi (baca: DS, dakwah) terbatas tempat dan waktu? Sure, it is not.

Nah, my beloved father seringkali grecokin saya dengan berkata bahwa, "Susah loh ntar jadi PNS kalo maen partai". Walopun sebenernya bapak hanya guyon, tapi kok rasarasanya guyonan itu tertangkap serius di telinga saya. Aih, rupanya bapak belum tau lubuk hati anaknya ini berkata apa. Kemudian, kawan... hari itu, Kamis 9 April 2009, pagipagi sekali saya sudah bersiap untuk jadi saksi di tps duadelapan deket rumah. Lagilagi, bapak saya ngomong begitu, "Mau PNS atau PKS niy", dan betapa senangnya saya serta merta Ibu saya menjawab dengan diplomatis, "Biarin aja kenapa sih anaknya mengembangkan diri dulu di partai!". Aih, I do love my mother ^_^.

Well, well, people. Mau PNS atau PKS, lihat saja nanti. Saya belum bisa memberikan today's prediction meskipun diajukan sebuah IF Question. Untuk kasus ini, saya menanti today's prediction lain dari IF Question yang saya ajukan pada My Line in Sand. Intinya adalah: kita tak pernah tau apa yang akan terjadi setelah hari ini, sebergerak apapun kita. Final decision tak ditentukan dari seorang karyawan PNS maupun kader PKS. Final decision terbit dari pemilik sah garis dan pasir di belahan bumi manapun.

Wednesday 22 April 2009

Optimis dan Realistis


Selamat saya ucapkan kepada kalian, kawan... Untuk yang sudah berhasil melewati beragam fase rumit di kehidupan yang sangat indah dan menyenangkan ini, tapi jadi hitam dan menyakitkan kalau kurang piawai menyikapi hidup *ah, kedengeran dewasa belon?*. Yeah, saya cukup senang menjadi seorang perempuan yang bahkan ketika Hari Kartini sudah berlalu pun, masih diperhitungkan sebagai perempuan yang layak 'ada' di atas 'muka bumi' ini.

I am so special. Begitu kata seorang baik hati yang saya posisikan di tempat khusus dalam hati. Okeh, kawan. Kalimat berwarna ungu itu tak perlu terlalu dipertanyakan begitu. Jangan memprediksi yang bukanbukan. Biarkan saya saja yang tau tempat khusus macam apa yang saya lowongkan. Yang penting adalah alasan mengapa saya begitu spesial. *Nah, yang warna biru ini boleh ditanggapi, barangkali dengan pertanyaan: dhz, makin hari kok makin narsis ya? ihihihi*

Baiklah. Why am I so special?



Kawan, ingatkah pertama kali blog ini diluncurkan, apa perihal yang saya bicarakan? Jika harus mereview semua isi postingan blog ini, malu sekali sebetulnya. Isi tulisannya sungguh jatuh bangun, turun naik, keluar masuk. Memalukan 'muka bumi' yang selalu ingin saya pijaki. Yeah, wanita embrio tentu selalu ingin menggapai cahaya hingga kilaunya pudar ketika sayapnya harus lemas, jatuh perlahan sambil menyebut mesra namaNya.

Lalu, apanya yang spesial? Apa hubungannya dengan isi blog thekupu yang selalu pink ceria ini? Yeah, lihatlah dengan seksama, kawan. Cukup lihat saja. Karena hanya saya yang bisa rasakan betapa sempurnanya saya disayangiNya, melalui beragam bentuk perhatian dari sekitarkupu, yang lama maupun yang baru. Betapa jatuh bangun, turun naik, keluar masuk, aroma fluktuasi dan dinamika abadi yang sudah sunnatullah itu menunjukkan kuasaNya bahwa berkalikali kesempatan masih diberikan pada saya untuk tak pernah menyerah menantikan cahaya, melepas lelah sebagai wanita embrio menjadi wanita dewasa paling bahagia di dunia dan akhirat. Tentu saja bersama para wanita lain yang mencintaiNya.

Dengan kesadaran penuh, seperdelapan, seperempat, setengah, bahkan nol, Mereka semua sesungguhnya sedang ambil bagian untuk mendewasakan dan menjaga saya.

Betapa optimisnya saya. Ya, itu OPTIMIS, bukan narsis! Keoptimisan itu, lantas hanya akan jadi debu berlalu tertiup asap knalpot motor saja kalau saya sendiri tidak cerdas mengelola sukma ini. Iya, kan? Telah terilhamkan, bahwa beruntung mereka yang mensucikannya dan merugi mereka yang mengotorinya. Ah... betapa rasanya lama sekali saya rugi. Saya tak mau rugi lagi. Karena itulah saya pun harus bersikap REALISTIS!

Saya sekarang duduk diam, dengan tetap mempekerjakan 10 jari pada petakhitamkecil di tubuh lappy, sambil berusaha menyatukan hati dan otak yang konon katanya sulit bersatu padu. Sekaranglah saatnya, memadupadankan mereka berdua, dan bersikap realistis. Tak akan pernah berhenti berusaha. Azam itu akan terus tertanam kuat dalam hati. Akan terus tercatat dalam sejarah hidup saya dengan baik. Akan tersimpan dalam space memori saya yang kapasitasnya mendapat tempat lebih khusus dari seorang baik hati tadi. Akan mencatatnya dalam buku harian saya. Terus mengazamkan dalam ruang hati.

Teringat lagi pesannya: "Kita suatu kali boleh tersandung, tapi tak boleh sampai terjatuh. Karena besok dan besok lagi kita masih harus menuliskan sejarah di hidup kita. Sedangkan lusa kita masih harus belajar menjadi seseorang yang berharga bagi dunia"

Yeah, kawan. Bisakah sekarang kau saksikan betapa spesialnya saya? Belum lagi tampak jelas? Baiklah, kuberitau ya kawan *kayak bahasanya Andrea Hirata ga sih, hehe*, saya dan kita semua adalah spesial, karena kita semua adalah manusia berharga bagi dunia, jika dan hanya jika kita bisa terus optimis serta tetap realistis!

MARI BERJUANG BERSAMA! LANJUTKAN!!

*aih, sudahkah positif koalisi mereka?*


Cerita tentang anak yang optimis dan realistis ada di sini.

Tuesday 21 April 2009

Ambilkan bulan, bu...


Tenang, kawan... tenang... Tak usah khawatir. Saya masih normal dan realistis kok. Saya ga akan beneran menyanyikan lagu Ambilkan Bulan, Bu apalagi sampe beneran meminta mama saya untuk ngambilin bulan.

Judul itu cuman saya jadiin bulan bulanan aja buat mengungkapkan rasa tawa *hah, tawa itu rasa gitu?* terhadap sebuah program televisi pagi ini, yang dibawakan dengan lucu oleh pria selebriti favorit saya bernama: Ringgo Agus Rahman. Masih gemes aja sama lakilaki freak dan gila itu. Untung aja skarang dah ga bisa nyubitin dia lagi heheh... Judul itu juga menjadi pengingat bagi saya, bahwa bulan ini udah masuk bulan terakhir, tanggal tua. Jadi, mohon sedikit berhemat ya dhz...

Tapi intinya, pagi tadi saya dibuat tertawa sama vidklip buatan tim kreatif program acara di TV swasta itu. Aih, lagu yang dirikwes juga bikin saya kangen. Lagunya Doel Sumbang dan Nini Karlina. Lagu yang asik, dan liriknya deh coba di s.i.m.a.k yang s.e.r.i.u.s!!



Kalau bulan bisa ngomong Dia jujur takkan bohong Seperti anjing melolong Tiap hari ku teriakkan namamu, ya namamu Kalau bulan bisa ngomong Ada cinta yang terlalu Ada rindu yang terlalu Semua serba terlalu padamu, ya padamu Aku kehabisan kata dan hampir tak dapat bicara Dalam hati hanya ada rasa yang tak dapat kuwakilkan pada sajak lagu atau bunga Demi kamu aku pamit Sebentar aku ke langit Akan kugendong rembulan Kukantongi bintang-bintang Segera kubawa pulang (untukmu,) ya untukmu Kalau bulan bisa ngomong Sayang bulan tak bisa ngomong Coba kalau bisa ngomong Dia pasti tak akan bohong tentang cinta, cinta kita

Weleh... macem macem ajah. Malem ini males ah ngomentarin lirik lagu. Belum terlalu merasa perlu untuk bikin tafsir sukasuka saya atas lagu ini. Menurut saya, liriknya masih comprehensible... Ngapain ditafsir segala!?

Saturday 18 April 2009

Wanita embrio II


Rekayasa Allah SWT selalu indah, tak pernah salah, dan pasti penuh berkah. Itulah sebabnya, mengapa wanita embrio selalu menanti, menanti sampai ia mati. Takkan berhenti dan tak ingin berkata kalah. Takkan peduli gejolak ombak. Takkan hiraukan gemulai badai. Takkan berhenti, meskipun tiada penghujung di dunia ini.

Penantian dalam begitu banyak keterbatasan, demi 3 kata: Berubah, Lebih Baik, Jati Diri. Ah, siapa sebenarnya mereka, 3 kata itu? Mengapa mereka begitu diinginkan oleh si wanita embrio? Lalu, apa hubungannya dengan pengembangan pancaindra untuk melihat cahaya? Mengapa wanita embrio begitu ingin mematangkannya dalam dunia-rahim demi kelahiran kedua? Baik, kita simak setelah yang berikut ini *eh, ini postingan versi serius, dini! Jangan maen-maen!*

Baiklah, baiklah... Mari kita mulai, mencari tau terlebih dahulu, siapakah atau apakah yang sesungguhnya dinantikan oleh sang wanita embrio.



Mari mulai dengan kata: BERUBAH.

Tak ada yang akan memberikan sangkalan pada pernyataan bahwa semua orang pasti berubah. Bahkan telah diyakini, tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Pun, begitu dengan apa yang terjadi pada wanita embrio. Kedua matanya yang ikut menantikan cahaya, melihat dengan baik fakta ini, dan tak kuasa untuk tak menjadi dewasa dengan cara menolaknya. Itu fakta, kan kawan? Bukankah akan menjadi sangat tidak dewasa ketika sang wanita embrio menolak fakta bahwa segala sesuatu pasti berubah? Itulah sebabnya, sang wanita embrio menanti perubahan, pada dirinya, pada hidupnya, di semua lini.

Mari lanjutkan dengan kata: LEBIH BAIK.

Sang wanita embrio sangat sakit sekali. Sungguh sakit ketika ditampar, dibangunkan dengan kasar, dan dilemparkan ke tepi istana penuh singgasana. Terlempar, tapi terbangun sadar! Pantaslah saya ditampar! Rupanya, perubahan yang saya agungagungkan waktu lalu, tidak berjalan sesuai dengan filosofi perubahan bayi. Wanita embrio kemudian menyimak sebuah suara: ada tangisan, ada ucapan terbatabata berbunyi "Umi umi, abi abi, mama mama, papa papa" yang menggemaskan hati, ada teriakan riang di tengah lapangan rumput hijau, hingga kegelisahan suara remaja untuk berbelok ke kanan atau ke kiri. Wanita embrio tersadar oleh suarasuara itu. "Tamparan tadi pastilah karena perubahanku terjadi tak mengarah pada sebuah kemajuan", ujar wanita embrio, melanglang buana jauh ke dalam hati. Rupanya, tamparan itu sangat tepat hari ini. Wanita embrio mulai paham, bahwa perubahan saja tidak cukup. Harus dilengkapi dengan kata: Lebih Baik. Maka, tertatihlah wanita embrio berjalan, menuju perubahan yang lebih baik.

Mari, akhiri ia dengan kata: Jati Diri.

Wanita embrio mulai merisau lagi. Sudah hampir lelah berjalan, mencaricari cahaya, yang pelanpelan mulai tiba di hatinya, tapi kenapa masih saja merisau? Cari apalagi, wahai wanita embrio? Perjalanannya sudah benar, tujuannya sudah ada, meskipun pasti nanti akan dihalangi dan terhalangi beragam bentuk duri. Duri itukah yang membuat risau? Ah, tidak rupanya. Wanita embrio melihat, sebuah tanda besar setinggi cakrawala: Jati Diri. Apa lagi itu? Dalam perjalanannya, wanita embrio hanya melihat beberapa buah pohon berjejer, dan ada label: POHON JATI. Apakah ia semacam pohon?

Lantas, lexical otak sang wanita embrio mulai bergerak. Otaknya berputar pada porosnya. Apa hubungannya perubahan yang lebih baik dengan sebuah pohon? Ia pun mencaricari, apa itu jati. Eureka! Jati, berasal dari kata sejati, rupanya. Sejatining Diri. Jati diri. Diri yang sejati. Diri yang bukan tiruan. Diri yang tak dibuatbuat. Yang paling penting: Diri yang pas dengan sang wanita embrio. Ya! EUREKA! Itu dia jati diri!!

Wanita embrio kini tersenyum, senyuman sangat manis sekali. Senyuman yang membuat orang di sekelilingnya tersenyum pula. Bahkan, senyuman yang membuat mereka yang belum menemukan jati diri pun tersenyum. Mereka saling bertanya: apakah wanita embrio sudah menemukan jati dirinya? Wanita embrio kemudian mengajak mereka menonton sebuah film berjudul Means Girl. Dengan diplomatis, dipaparkannya seorang tokoh bernama Cady Heron yang bermetamorfosis dari gadis lugu menjadi gadis populer. Dengan runtut, diceritakannya bahwa proses Cady dalam kisah itu, tak dibarengi dengan prinsip be yourself. Diperlihatkannya langsung melalui film itu, Cady dijauhi teman-temannya dan merasa tak nyaman dengan diri Cady yang baru.

Sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis. Wanita koleris sudah selesai menonton film, dan sekarang sedang berada di perpustakaan. Ia mengobservasi 4 kalimat menarik itu. Sanguinis, dengan ciri khasnya. Koleris, dengan ciri khasnya. Melankolis, dengan ciri khasnya. Plegmatis, dengan ciri khasnya. Jantung sang wanita embrio berdegup sangat kencang ketika sampai pada bab Sanguinis. "Ah, kenapa penulis buku ini membicarakan diri saya?", tanya wanita embrio dalam hati. Sedikit degupan juga dirasakan ketika wanita embrio menelaah bab Koleris, Melankolis, dan Plegmatis. Wanita embrio kembali tersenyum, senyuman manis, sungguh sangat manis. Rupanya di sana ia berada. There she is, with fully creamy smile.

Cukupkah sebegitu? Wanita embrio masih merasa kurang. Ia sekarang mencari cara untuk mengintegralkan 4 kalimat yang ada dalam bab buku tadi. Tujuannya adalah agar integrasi mereka bermuara pada rangkaian kalimat indah: Berubah menjadi Lebih Baik dan sesuai dengan Jati Diri. Wanita embrio sekarang tersenyum lagi, sambil bertanya dalam hati: "Sudahkan aku temukan yang aku cari?"

TO BE CONTINUED....

*semakin seperti sinetron ya? weleh, saya ga suka sinetron. Ya udah, kalo gitu 2 episode cukup. Silahkan simpulkan sendiri ^_^*


Para penggemar, terima kasih sudah menyimak dan bersabar menantikan kisah wanita embrio. Salam Senyum Setiap Saat.

Wanita embrio I


Sudahkah saya paparkan, kawan? Sudah? Ah masa iya? Yakin, sudah? Coba kasi liat di mana? Memang tidak ada, kawan. Baru sedikit saja. Baru sebaris, berbunyi: diary365metamorphoself. Hadiah untuk saya sendiri, pada tanggal 8 Oktober 2007.

Sudah lama ya, kawan... As the title, bukunya berjudul: diary. Yah, ia adalah sebuah diary. But as the additional title: 365metamorphoself. Isinya adalah serangkaian penuh kalimat motivasi, agar saya tak lupa tujuan hidup yang takkan pernah saya temui penghujungnya di dunia ini: Berubah, Menjadi Lebih Baik, dan Sesuai Jati Diri.

Ah, kenapa tiada penghujungnya, kawan? Baiklah, akan saya paparkan, dari kacamata seorang wanita yang beraniberaninya menyatakan dirinya sebagai wanita, padahal ia masih embrio kecil yang selalu inginkan cahaya semangat itu terus mengalir dalam tiap denyut nadinya.



Tiada penghujung, kecuali setelah saya tak lagi hirup udara segara dari kebun kenikmatan di dunia ini. Taman Bunga. Mari sesekali datang ke sana. Lihatlah, sepasang sayap indah, lembut, berwarna-warni. Ah, cantik sekali bunga-bunganya. Makhluk kecil lucu yang punya sayap itu, juga lucu sekali. Cantik. Mulut mungilnya menghisap madu, pelan-pelan, lembut, tidak tergesa-gesa. Wanita embrio ini masih mengaguminya, sampai di penghujung hidupnya. Bentuknya indah, ya kawan. Ah, tapi apa itu yang ada di daun? Menjijikkan.


Wanita embrio terus memperhatikan. Kecil, menjijikkan. Minutes to minutes, hours to hours, days to days, wanita embrio terus memperhatikan sampai terkadang tertidur kelelahan. Untung saja hanya tertidur. Allah Maha Penyayang, memberi kesempatan kepada wanita embrio untuk menyaksikan dengan matanya sendiri *walaupun makin hari minusnya sepertinya semakin menjadi*, sebuah keajaiban dunia tingkat tinggi: ulat itu hilang lenyap pergi, berpuasa sekian hari, menjelma menjadi kupukupu cantik!

Ah, rupanya kupukupu cantik itu dulunya menjijikkan! Wanita embrio semakin terpana. Subhanallah. Sabar sekali ulat kecil menjijikkan itu. Larva, kepompong, imago. Proses nimfanya juga, membuatnya cantik luar biasa, meskipun wanita embrio itu mengerti, pembesaran dan pergantian kulit di proses nimfa, luar biasa sakitnya. Tapi imagonya sungguh indah! Cantik, mempesona.

Wah, ulat kecil menjijikkan itu barangkali sudah belajar tentang tiga hal: Berubah, Lebih Baik, dan Jati Diri. Wanita embrio itu mulai berfikir. She is contemplating. "Harus sampai kapan menjadi embrio?". Ah, tapi sejenak ia teringat katakata Jalaluddin Rumi: Bergeraklah seperti embrio! Kembangkan pancaindra yang dapat melihat cahaya. Matangkan dalam dunia-rahim ini, dan persiapkan untuk kelahiran keduami dari dunia menuju ketakterhingaan.

Wanita embrio terdiam, menarik nafas perlahan, tersadar. Rupanya ia mendapat selintas cahaya! Ah, sayang sekali hanya selintas. "Tak bisakah ia melintas sekali lagi?" harap wanita embrio dalam hati. Wanita embrio terus menanti. Menanti dalam ketidaksadarannya, menanti dalam kelenaannya akan dunia, menanti dalam kasih sayang Allah Pembolak balik hati, terus menanti, tak pernah berhenti.

TO BE CONTINUED....

*biar seru, kayak sinetron ihihii...*

Para penggemar, harap bersabar ^_^.

Thursday 16 April 2009

Thursday Thankful


Sudahkah saya dan anda bersyukur hari ini?

Ternyata, ya... sehari yang 24 jam, yang 1.440 Menit, yang 86.400 Detik, kita jarang sekali mengucap syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa. Waktu upacara bendera hari senen aja, sepenggal kalimat berbunyi: "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." merefleksikan rasa syukur bangsa Indonesia sudah bebas dari penjajahan, dan merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur *aih, kok jadi ikutan ngundang-ngundang dasar inih*.

Nah, maka dari itu, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri, untuk memperbanyak rasa syukur saya *dan juga teman-teman ya* pada Allah SWT, untuk apa saja yang sudah kita miliki, apa saja yang sudah kita rasakan, apa saja yang sudah kita alami, apa saja yang sudah terjadi, apa saja yang sudah masuk ke dalam hati, dan apa saja yang tak terungkap, maupun apa saja yang diungkap dengan cara yang salah.

Nah, di bawah ini adalah beragam bahasa untuk ungkapkan rasa syukur kita pada Allah, maupun ungkapkan rasa terima kasih pada sesama.


1. Bahasa Inggris : Thank You, Thanks, Thank You Very Much

2. Bahasa Prancis : Merci, Merci beaucoup

3. Bahasa Jerman : Danke

4. Bahasa Spanyol : Gracias

5. Bahasa Jepang : Arigato, Arigato Gozaimasu, Arigato Gozaimashita

6. Bahasa Belanda : Dank Je

7. Bahasa Italia : Grazie

8. Bahasa Portugis : Obrigado

9. Bahasa Korea : Gamsa-hamnida

10. Bahasa Mandarin : Xie-xie

11. Bahasa Arab : Syukron

12. Bahasa Ibrani : Toda

13. Bahasa Afrika : Dankie, Baie Dankie

14. Bahasa Mesir Kuno : Dua Netjer en ek(ke cowo), Dua Netjer etj (ke cewe)

15. Bahasa Yunani : Sas efharisto, efcharisto

16. Bahasa India : Danyavad, Dhanyawaad, Shukriya

17. Bahasa Islandia : Takk, Takk fyrir

18. Bahasa Finlandia : Kiitos, Kiitoksia

19. Bahasa Wales : Diolch yn fawr

20. Bahasa Tagalog : Salamot

21. Bahasa Thai : Khwap khun, khwap khun khrap

22. Bahasa Tibet : Tujechhe

23. Bahasa Scotlandia : Thank ye, Thenk Ye

24. Bahasa Sansekerta : Anugurihiitusomi

25. Bahasa Rumania : Multumesc

26.Bahasa Jawa : Matur Nuwun

27. Bahasa dhz: tararengkyu, ma'aseh yee, 



Punya bahasa sendiri untuk berterima kasih? Yuuk ditambahin di sini :)

Wednesday 15 April 2009

My fallin' star, my line in sand


Sudah lama saya ga bikin postingan berlabel buble... Bukan gelembung, beda. Buble, my everything... Iyeah, Michael Buble, yang nyanyi lagu Everyhting.

Saya menyukai lagu ini seakan saya sedang berada dalam keindahan bulan July. Di profil saya juga sudah pernah dipaparkan betapa Michael Buble adalah my most played song when I am on the air. Lagu ini mengena, belakangan... Sangat menyenangkan.

Ingin tau tafsir sukasuka saya terhadap lagu ini? Yuk, mari...



You're a falling star,
Bintang jatuh, konon katanya *walopun kedengarannya takhayul hehe namanya juga tafsir sukasuka, tah?* saat yang tepat untuk make a wish. Yang mengabulkan bukan bintangnya, tapi penciptaNya, tentu saja. Nah, so I wrap up into conclusion that You're a falling star is like a granting request, if a prayer is too much to say ^_^.

You're the get away car.
Mobil buat kabur, yang biasanya kalo orang di wilayah bagian barat sana, pas lagi ada trouble sama emak bapaknya, ato lagi eneg sama kehidupan di rumahnya, ato lagi ada masalah apa aja dah, maka akan ambil kunci mobil, trus melompat masuk ke mobil, dan membawa mobil kabur ke mana aja yang bisa membuat perasaannya sedikit lebih lega. Nah, so I wrap up that You're the getaway car is like a right shelter to unleash the invisible rope of the problem.

You're the line in the sand when I go too far.
Line, garis. In the sand, di pasir. Sebuah batas di pantai. Pantai, samuderanya luas, kita tak pernah tau ada bahaya macam apa di sana jika kita keasikan bermain dengan riak gelombang yang kelihatannya kecil. Allah yang Maha Adil sudah membuat sebuah garis yang menjadi pembatas antara pasir dan air. Tak tampak memang oleh mata telanjang, karena hanya bisa dirasakan lewat hati yang ikhlas memberikan cinta dan kasih sayang saja ;) Yeah, karena sayang itulah, makanya kita takkan dibiarkan jatuh dalam bahaya yang barangkali akan menyakiti kita. Nah, so I wrap up that You're the line in the sand when I go too far is like an effective reminder for this haughty head and imperfect act.

You're the swimming pool, on an August day.
August Day, summer. Panas. Nyebur ke kolam renang kayaknya enak beneeeer. Kepala yang panas jadi dingin. Sukursukur kalo hati yang panas juga ikutan adem. Nah, I wrap up into conclusion that You're the swimming pool, on an August day is like a shelter to get of cherry when feeling hot in head and mind.

And You're the perfect thing to say.
Perfect thing, bukan human being. Langsung aja deh, I wrap up into conclusion that it is as what it's stated.

And you play it coy, but it's kinda cute.
Coy, shy but actually having no power to ignore. Ah, really cute. I wrap it up as an unspoken words, for whatever the words are.

Ah, When you smile at me you know exactly what you do.
Kayaknya ga perlu dikasi tafsiran deh ya. Intinya, waktu senyum, tau deh lagi sharing apa ke saya, gitu barangkali.
Baby don't pretend, that you don't know it's true.
Jangan kurakura dalam perahu dah, kasian... Mendustai perasaan kan sakit.

Cause you can see it when I look at you.
Yeah, walau kadang tak terlihat, tapi paling tidak masih bisa terdengar.

Lirik yang dibawah ini, especially bagian chorus, rasanya tak perlu saya tafsir, dan belum saatnya saya kasi tafsirannya.

[Chorus:] And in this crazy life, and through these crazy times It's you, it's you, You make me sing. You're every line, you're every word, you're everything.

*sebenernya yang di bawah ini mau saya paparkan juga tafsiran sukasuka versi saya. Tapi berhubung lagi ga mood, jadi nantinanti aja deh ya*

You're a carousel, you're a wishing well,
And you light me up, when you ring my bell. You're a mystery, you're from outer space, You're every minute of my everyday. And I can't believe, uh that I'm your man, And I get to kiss you baby just because I can. Whatever comes our way, ah we'll see it through, And you know that's what our love can do. [Chorus:] And in this crazy life, and through these crazy times It's you, it's you, You make me sing You're every line, you're every word, you're everything. So, La, La, La, La, La, La, La So, La, La, La, La, La, La, La [Chorus:] And in this crazy life, and through these crazy times It's you, it's you, You make me sing. You're every line, you're every word, you're everything. You're every song, and I sing along. Cause you're my everything. yeah, yeah So, La, La, La, La, La, La, La So, La, La, La, La, La, La, La

Oke, sekian reviewnya. Semoga tulisan saya kali ini, bisa lebih melegakan diri saya sendiri daripada tulisan saya sebelumnya. Terima kasih banyak untuk menjejakkan tanda indah di antara air dan pasir, sehingga saya tak perlu terseret ombak yang terus mengalir, jauh di dalam sana.

Tuesday 14 April 2009

Your smile reflects my happiness


We’ve just finished the direct election. Great result, unpredictable them all. The impact of this public party is so much surprising, especially if we take a look to the case of the direct election mental disorder.

Seeing the fact that they are not intended enough by the public, even close around their area, some of ashamed legislative candidate was starting to release their mask, showing who they actually are! Any kinds of cases are announced, starting from those who have mental disorder coming to mental rehabilitation, those who ask the public to reimburse the material things, till ones who finally take a very deep breath in peace, leaving this world forever.

Well, listeners. Those things shouldn’t have happened, only if they had owned ability and power to explore sincerity, to always put a very sweet smile in their face, even when noticing they are not elected by the public. The cases I’ve just mentioned happen, some of the factors are because they may be actually not ready yet to face a very tight competition, as well as they didn’t learn about sincerity when accepting the fact they must be a loser. We do really wish they had the power, so now we still can see them smile.



A smiling, Like the power of electricity, your smile is full of electric energy. Sending warm currents of joy everywhere it's released. The Power Smile will show you how to influence the world and take back your future.

It's in your smile…
The depth of what kind of person you are is in your smile. If we could ask Leonardo Da Vinci about the magic of the Mona Lisa he'd probably never tell, but the secret is… it's in her smile. There trapped underneath the skin and locked in the muscle is a secret that's been hidden for generations inside that little smile of yours. So if you have a minute, I'd like to introduce you to my little friend that is more influential than a dozen Mona Lisa's in all the museums in the world.

How the smile influences…
These days, everybody's talking about influence from Dr. Robert Cialdini, who wrote the book "Influence" to my friend Dave Lakhani author of "Persuasion". But the way you influence the world, your life, and your entire future are all rolled up and hidden inside that smile of yours. All of your joy, all of your happiness, and every bit of your enthusiasm can be unleashed at your own will. You have so much control over where you're going and how fast you'll get there, you might be surprised.

Get your smiling benefits…
So what are the benefits of the Power smile? There are many, but one major influential benefit is that you can change and alter your emotional state. That's right you can influence how happy you are. Everywhere I speak to audiences they're impressed to know they control the ---Happy Meter--- inside of themselves. Soon you'll be practicing this virtually unknown little secret all the time. When people ask me why I smile so much, I tell them "because smiling triggers and releases endorphins in the brain". And that release sends a wave of happiness through out your entire body.

Power smiling builds your self-esteem
There are many times you'll be standing in front of a mirror today so let those be the moments you Power Smile. In the bathroom at home, school or work, look at yourself… Power smile and accept that you're changing your future smile by smile. Each smile at yourself builds inner confidence, and every smile at anyone else builds stronger relationships. Now when others smile back at you you're on the road to greatness. Soon enough, you'll find yourself smiling all the time and feeling so much better. Smiling carries with it the Law of Sowing and Reaping and the Law of Attraction. As you sow smiling you reap the harvest of smiles from others, and this in turn builds up your self-esteem. You begin to attract to yourself those who smile and I've found those who smile often are so much easier to get along with because they're happier.

Are You Smiling yet?…

Smile Power
Like a flower with a pleasant scent, your smile can draw people close enough to see inside you. That's Smile Power. A smile has the power to radiate the qualities that make you beautiful on the inside - kindness, friendship, honesty, respect, patience, and self-control.

Give smiles away like flowers. Let your smile be an invitation for others to get to know the great person behind the smile. Then let people see that your smile doesn't stop at your mouth. It goes all the way to your heart.


Be like a flower. Let your Smile Power bloom!
Dr. Fulton recognizes that patients have greater needs than straight teeth. She and her team are committed to letting each patient know that he or she is more than just an orthodontic case.

Every patient is treated with respect, compassion and sensitivity to his or her individuality.
Through her personal interaction with her patients, Dr. Fulton emphasizes the importance of personal excellence. She is especially devoted to promoting positive qualities of character in children - an expression of inner beauty she calls Smile Power.

Young people are exposed to millions of messages about who they are and how they should relate to others. Many of those messages do little to encourage the development of characteristics such as kindness, courtesy, honesty and self-control. In both words and actions, the people in Dr. Fulton's office seek to exemplify Smile Power while encouraging patients of all ages to do the same.

Dr. Fulton and her orthodontic team work to promote a family atmosphere in her office that makes each patient feel valued. Children enjoy the warmth and personal interest that Dr. Fulton and her assistants demonstrate. Adults appreciate the personalized care they receive as their case progresses. A commitment to serving the patient with excellence and understanding is the cornerstone of Dr. Fulton's practice.

Enter Smiling
What is the best way to walk into a crowded room by yourself? The answer is simple: take something very important with you - a smile. Wearing a smile when you are among strangers is the best way to invite them to get to know you. A smile sends a message that you are friendly and easy to like. It tells people that you have a positive outlook and that you are smiling and attractive on the inside. Your face is the first thing people look at when they meet you for the first time, so why not let it advertise what a great person you are? Why not turn on your Smile Power?

Now let's talk about using Smile Power in a room full of strangers. Do you know how to mingle? It's really not that hard, especially if the first thing that people see is a smile on your face. Look around the room until you see a group of people who look interesting - looking for other smiles is a good place to start. When you spot a group of friendly looking people, go up to them and say, "Hi." Then tell them your name. You may want to ask a question, such as, "I'm new to this place. What should I do to be a part of what's happening here?" People love to give advice, so you will give them a chance to be friendly toward you if you ask a question like this.

If you find that this group is unfriendly or doesn't share your interests, tell them it was nice meeting them and move on. Sooner or later you'll find people whom you want to be around and who will welcome you to their group. The secret is letting your Smile Power shine through.

Kindness: Your Inner Smile
"Beauty, unaccompanied by virtue, is as a flower without perfume."

-- French Proverb
Virtue is an "old-fashioned" term that means moral excellence or goodness. A virtuous person possesses certain character traits, or values, that society considers worthy of admiration. Honesty, compassion, courage and kindness are some of the values that make us good in the eyes of others.

Like a flower with an pleasant scent, people who exhibit virtue in their daily lives attract admirers. They are respected by their friends and family, valued by their employer and embraced by their community. They make the world a better place. People who are beautiful on the outside may be pleasing to look at, but people with inner beauty leave a sweet fragrance in the lives of everyone they meet.

Of all the different values a person can possess, kindness is a special quality that generates tremendous power. It uplifts heavy hearts, brightens dark situations, heals hurt feelings. Hatred and anger are no match for the power of kindness. And perhaps best of all, every act of kindness gives you a warm glow in your heart that nothing else can match. You are best to yourself when you are good to others.

Being kind doesn't require much effort. In fact, the smallest acts of kindness often mean the most. Letting someone go ahead of you in line, writing a note to a discouraged friend, offering to do a simple chore for a family member - kindness is a gift of great value that costs you very little.
Remember, kindness is an excellent measure of your smile power.
Do all the good you can,
By all the means you can,
In all the ways you can,
In all the places you can,
At all the times you can,
To all the people you can,
As long as ever you can.
-- Ian MacLaren

Words of Wisdom

"The greater thing in this world is not so much where we stand as in which direction we are moving." -Oliver W. Holmes


A smile is a curve that helps to set things straight.
If you meet a man who has no smile, give him yours.

"Happiness equals discipline and confidence" - Benjamin Franklin

"Little crocodile ...
How cheerfully he seems to grin,
How neatly spreads his claws,
And welcomes little fishes in
With gently smiling jaws"
- Lewis Carroll

"All right," said the [Cheshire Cat]; and this time it vanished quite slowly, beginning with the end of the tail, and ending with the grin, which remained sometime after the rest of it had gone.

- "Alice's Adventures in Wonderland"


Source: here and here.

Broadcast on English Teletalk, April 14th 2009, Tuesday by dhz.

Wednesday 8 April 2009

Award lagi


Nah, dapat award lagi, setelah september lalu dapat award sebagai blog brilliant. Sebuah award bertuliskan: Your Blog is My Inspiration, dikasi langsung sama bang kana. Aih, benarkah blog saya menginspirasi beliau? Atau, hanya karna ga ada orang laen aja yang pantes dikasi award, makanya awardnya dikasi ke saya *weleh weleeeh, positive thinking atuh dhz*



Well, well. Terima kasih banyakbanyak dah buat bang kana. Trus, berdasarkan rule yang ditetapkan untuk penerima award ini, kita harus cari downline *nepukjidat, keinget MLM ihihihi* untuk meneruskan ke blogger berikutnya, yang mana blognya menginspirasi. Hmmm, artinya saya harus jalanjalan sebentar niy, nyari blog sapa ajaaa ya yang dah ngasi saya inspirasi...

*thekupu kembali selepas jalanjalan*

Uwm, tadi awalnya mau ngasi award ini ke mbah mbel. Blog jelek dan sesat, begitu kata pemilik blog penganut mazhab bocor alus itu. Anyway, walopun dianya sendiri berkata bahwasanya blog dia jelek dan sesat, tapi komennya buanyak dah, dan tentunya menginspirasi. Cuman, saya agakagak ragu juga mau ngasi niy award ke dia. Soalnya, dia orang penting, orang sibuk, dan orang edan hehe.. Tapiiii.. ya dah deh. Saya kasi awardnya ke mbah mbelgedez, yang pertama. Okeh, selamat mbel! Dapet award!

Trus, blog berikutnya yang juga menginspirasi saya adalah blognya mba Mitra. Bahkan, beberapa tulisan mba Mitra, ada yang saya copy looooh. Untuk referensi ^_^. Dah lama juga ga sapasapa mba Mitra. Kalo gitu, selamat buat mba Mitra. Terimalah award dari saya.

*ehm, brapa orang gitu ya yang dikasi award ini? nyontoh bang kana dah, 4 orang, artinya 2 blog lagi*

Olrait, berikutnya yang menginspirasi saya adalah kumpulan tulisan di blog Pak Syamsul. Yeah, walopun saya ragu, apakah beliau akan membuat postingan tentang award ini ato ngga di blognya, tapi gapapa deh, kasih aja. Toh di sini saya ga mau memaksa yang dapet award untuk melanjutkan award ini *bukan MLMers hehe*. So, congrats buat pak Syamsul ^_^.

Trakhir, saya persembahkan award ini, untuk sebuah blog spesial, sangat spesial, yaitu...... blog saya sendiri hehe. Pada belon berkunjung kan kemari? Ya udah, ga usah aja. Isinya juga narsis semua kok hihihi.

Oke dah. Congratulation untuk semua yang dapet award.

Monday 6 April 2009

I love you...


Malam ini sangat menyenangkan. Kelas yang penuh gairah, penuh semangat. Mereka membuat saya berapi-api, walaupun tampang mereka tadi terlihat lelah sekali. Tapi sungguh, kelelahan yang terpancar dari wajah mereka, berusaha mereka lepaskan pelanpelan tepat saat saya masuk kelas dan berkata: "Well, today might be our last meeting, here".

Mengajar... pernah menjadi suatu hal yang ingin saya lepaskan dari kehidupan saya, yang masih berjalan kurang dari seperempat abad ini. Lucu sekali kalo mereview postingan saya waktu itu. Sampaisampai berkata: 'bye bye being lecturer' hehe. Even today, I get my since-3rd-grade-of-juniorhighschool ambition ^_^, being an English Lecturer *though I myself recently still count as student-who-will-leave-college soon!*. Betul sekali statement ini, "kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari... karena itu berusahalah mempersiapkan hari esok yang lebih baik" ya, kawan...



Kali ini, mereka yang saya maksut memang berbeda dengan mereka yang ada di sini. Waktu itu, mereka yang ada di situ adalah, siswasiswi saya berasal dari tempat mengajar yang berbeda. Tempat mengajar pertama, yang memberi banyak pelajaran berharga. Nah, mereka yang malam ini adalah, mereka yang berasal dari tempat mengajar berikutnya, lembaga kedua, berjudul SIS alias Solusi Interaktif SSC yang lokasinya di belakang Masjid Al-Jihad Pontianak *sekalian promosikan tempat ngajar, bole kan hehe*.




2 kelas ngajar malem ini, weleh... Duaduanya menyenangkan, dan selalu saja begitu. Mereka ini, baikbaik, bandel juga, tapi yang paling bikin saya senang adalah, mereka selalu mendengarkan setiap kalimat yang saya keluarkan. Mengajar udah bukan kayak ngajar, tapi lebih seperti ngobrol santai, malah kayak saya lagi ngemsi. Yang lebih spesial lagi, malam ini saya berdiri di depan kelas udah kayak orang lagi kampanye!

Aih aih... Ini garagara ujian nasional yang tinggal 14 hari lagi untuk yang SMA *ya, saya ngajarnya yang kelas 3 SMA, karena ga sanggup ngajar anak SMP hoho*. Nah, pas di depan kelas donk saya bilang gini: "Well, dah ga sabar kan nungguin ujian ya? Empatbelashari jelang ujian! 3 hari lagi pemilu!", kata saya. Dan dengan spontannya, seorang siswa menyambung, "Jangan lupa Pojok Kanan ataS kan, miss?". Wah, saya dipancing! Untung saja ga terpancing... Saya senyum aja, trus membalas, "Well, well. Kita lanjutin latian soalnya, sebentar lagi hampir jam d.e.l.a.p.a.n", yeah, tentu saja dengan DELAPAN yang saya mainkan nadanya sedemikian rupa, sehingga siswasiswi saya senyumsenyum juga hehe *btw, hari ini 2 siswi dan 1 mahasiswi saya bertanyatanya pada saya, apa yang terjadi pada saya kenapa hari ini banyak senyum sendiri :p*

Betapa... saya mencintai mereka, mencintai siswasiswi saya, terutama mereka yang malam ini, sebuah malam terakhir menikmati kebersamaan di dalam kelas, yang entah kapan lagi bisa ngerasain perasaan seperti yang saya rasakan malam ini. Besok lusa, sepertinya bisa ^_^

Friday 3 April 2009

Tak berhenti berharap


"Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Akhwat Sholihah bak mutiara di dasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Di dalam cangkangnya dia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda. Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya. Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya."

Saya nyimpen kalimat yang juga hasil copy-an itu, pada tanggal 20 Maret 2009. Saya waktu itu hanya menggarisbawahi kata: terkadang terbungkus lumut...

Susunan kalimat yang dalam sekali maknanya...



Anyway, walopun maknanya begitu dalam, saya rupanya masih belum berani mengajukan analisa makna terhadap kalimat itu. Klise, sebenarnya.

Nah, walopun saya ga berani melakukan penganalisaan *apaan sih? analisis, din! ga pake pe-an!* terhadap kalimat itu, paling tidak ada 3 kata yang saya garis bawahi: terkadang terbungkus lumut. Saya memaknainya sebagai: kesalahan manusia, yang disengaja dan tak disengaja.

Yeah sure. Lumut. Mengotori cangkang. Dosa. Mengotori jiwa manusia. Tapi saya sangat meyakini, bahwa kesalahan (baca: dosa) itulah yang merupakan pertanda bahwa manusia, disebut manusia. Soalnya, kalo ga ada dosa, namanya malaikat kalo ga salah...

Okey, kawan. Bukan berarti trusannya saya melakukan pembelaan klasik dengan mengatakan bahwa manusia tak luput dari kesalahan loh ya. Kalimat itu terlalu truistic untuk diajukan sebagai argumentasi. Undeniable. Inti dari semua ini adalah SEBUAH HARAPAN. Mengapa? Well, rupanya mata saya masih ingin membuat garis bawah pada kalimat: menyelam untuk menemukannya.

Ya, menyelam. Menyelam yang dalam, sangat dalam. Menyelam hingga rasanya oksigen dalam tabung pun takkan cukup lagi untuk bekal naik ke permukaan, sampai rongga dada terasa sesak, membuat mereka yang tak punya bekal cukup gairah semakin merasa mendapatkan alasan untuk berhenti menyelam, segera naik ke atas, agar nafas bisa dihela kembali.

Saya sedang mengalami posisi itu, kayaknya. Kadangkadang muncul rasa, tidak ada motivasi lagi untuk mencari 'klik' agar bisa total di dalamnya. Seperti yang pernah saya paparkan, Saya sangat mencintai Tarbiyah dan berkeinginan kuat untuk benar-benar bisa aplikasikan rasa cinta saya lewat refleksi sikap yang sedang saya cari penguatan kaitnya dalam diri saya. Iya, kawan. Penguatan kait. Karena 'kakak' pernah berkata, sebuah kalimat yang saya maknai seperti ini: "Jangan tunggu ikhlas itu muncul, karena kau akan sulit bergerak. Carilah motivasinya, agar bisa sampai pada Motivasi yang sesungguhnya, yang sejati"

Maka dari itu, kakak... dan kawan... Saya tidak berhenti berharap, sampai harapan itu melenyapkan dirinya dari hadapan saya. Karena rupanya cermin itu pun tak sanggup menghindari fakta, saya adalah perempuan lemah yang SELALU butuh motivasi, untuk benarbenar mencapai MOTIVASI yang sesungguhnya.

Untuk kakak, smsnya tidak salah kak. Itu dari hati. Semoga digetarkan.

Terima kasih, kawan... Terima kasih untuk menjadi motivasi bagi saya, meskipun *entahlah* kau menyadarinya atau tidak...