dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday, 19 April 2012

Jadi PNS Demi Ortu

Ridho Allah Ridho Ortu

Jika suatu hari teman-teman mendapati saya menjadi PNS, mungkin inilah alasan utamanya: karena orang tua. Hampir senada dengan sebuah artikel yang saya dapat dari grup di facebook: "Jadi Pengusaha itu Wajib"

Jika diadakan survei pendaftaran CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), ”Mengapa Anda mendaftar CPNS?”. Saya berani bertaruh, lebih dari 50% jawabannya adalah karena dorongan orang tua. Alasan yang paling klasik adalah jaminan hari tua (pensiun) dan keamanan kerja. Dengan segudang proteksi peraturan yang ada, sangat sulit PNS diberhentikan.

Alasan kedua adalah suatu kebanggaan bagi orang tua, jika anaknya dapat diterima sebagai pegawai negeri, karena belum tentu 1000 banding 1 yang diterima. Alasan yang ketiga, (mudah-mudahan tidak ada lagi yg berfikir seperti ini) penghasilan boleh kecil, namun ceperannya gedhe. Kalo ada alasan yang keempat, tapi semoga tidak berlaku lagi, kerjanya baca koran dan bisa jalan-jalan, sembari gaji tetap jalan. Yah, semoga alasan ketiga dan keempat sudah dibumihanguskan di jaman reformasi ini.

Di sisi lain, seorang kawan pengusaha di Pekanbaru. Usianya baru menginjak 27 tahun, namun telah memiliki omset usaha lebih dari 100 juta perbulan, dengan keuntungan bersih rata-rata 20 juta perbulan. Setelah berusaha lebih dari 2 tahun lamanya, dengan penghasilan jauh diatas gaji seorang manajer bank, ayahnya masih menginginkan ia untuk mendaftar CPNS. Namanya juga kultur ‘timur’, orang tua harus ditaati. Jadi mendaftarlah ia mengikuti tes CPNS. Memang dasarnya ‘brilian’ otaknya, diterimalah ia menjadi calon pegawai negeri. Pertanyaannya, apa yang ia akan kejar? Gaji? Dibawah 2 juta perbulannya, alias 10 % dari apa yang ia dapatkan dalam bisnisnya. Gengsi? Apa yang mau digengsikan dengan penghasilan seperti itu? Paling-paling cukup buat nyicil motor. Itupun kalau dia belum berkeluarga dan makannya berhemat ria. Yang terpenting, buat apa ia melakukan itu semua? Demi orang tuanya!

Sekarang kita telusuri apa yang menjadi motif sang orang tua, terutama ayahnya. Usut punya usut, sang ayah memandang ‘gejolak’ seorang pengusaha yang naik turun penghasilannya. Memang di usia usaha baru 2 tahunan, wajar saja penghasilan ia naik turun. Tapi, jika diakumulasi, apa yang ia capai selama 2 tahun, dengan aset yang ia miliki, rumah dan mobil, mana mungkin dibeli dengan 10 tahun gaji pegawai negeri? Kecuali korupsi! Ok, kita fokus aja ke ‘tujuan’ sang ayah memerintahkan anaknya jadi pegawai negeri, yaitu ‘KESEJAHTERAAN’, titik! Jadi menjadi ‘pegawai negeri’ bukanlah tujuan utama dari sang ayah, namun hal itu merupakan sarana (yang ayah ketahui) untuk mencapai tujuan (sejahtera). Anda menangkap maksud saya? Jika kita fokus ke tujuannya, caranya bisa jadi flexible.

Bayangkan jika kita memaksakan sesuatu yang tidak anak kita sukai, untuk dikerjakan. Menjadi pegawai negeri itu kan impian sang bapak bukan impian sang anak? Berapa banyak kasus orang tua memaksakan impiannya kepada anak-anaknya. Bukan hanya menjadi pegawai negeri, mungkin juga menjadi dokter, akuntan, arsitek, insinyur dan apapun itu, jika itu bukan obsesi si anak, mengapa kita ‘tega’ merebut kebahagiaan mereka? Dengan alasan ‘demi kebaikan mereka’, betulkah? Bukan demi ‘kenyamanan’ orang tua, biar nggak pikiran anaknya akan jadi apa?

Jika memang melihat anaknya sejahtera dan bahagia adalah tujuan orang tua, ya biarkanlah mereka “menjadi diri mereka sendiri”, bukan orang lain. Kecuali, anaknya masih belum punya arah yang jelas atau melenceng, itu lain perkara. Saya sering diminta pendapat oleh kawan-kawan yang mendapat kasus ‘pemerkosaan profesi’ seperti ini. Apa saran saya? Saya tanya dulu, yang penting kan tujuannya sejahtera, ya buktikan bahwa kamu bisa sejahtera dengan cara yang kamu yakini. Timbang aja resikonya,”Apakah jika kamu membangkang memilih profesi yang orang tuamu inginkan, kamu diusir dan dianggap durhaka?” Jika jawabannya ‘tidak’, ya lakukan saja sesuai keinginanmu. Toh suatu saat mereka akan melihat, bahwa apa yang kamu lakukan adalah ‘benar’. Tapi itu semua harus digarisbawahi,”Komunikasikan dengan cara yang santun dan tepat saatnya”.

Bukan berarti saya menganggap menjadi PNS bukan sesuatu yang membanggakan loh ya. Saya justru sangat salut dengan teman-teman PNS. Sebagaimana yang ditulis oleh Mbak Temi, menjadi PNS itu adalah salah satu ladang amal. Mengabdi pada negara, disiplin bekerja pagi hingga sore, senin sampai jumat bahkan ada yang sampai sabtu, apel tiap senin, hal-hal yang bertahun-tahun dilakukan oleh kedua orang tua saya *karena bapak dan ibu saya adalah PNS*, yang saya sendiri tidak yakin akankah saya sanggup melakukan itu semua dengan lapang dada?

Apalagi, menjadi PNS yang jujur saat ini penuh tantangan. Salah seorang murabbiyah saya yang seorang PNS bahkan sempat ingin berhenti karena tidak tahan dengan banyaknya hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya. Tapi, seperti kata Pak Hidayat Nur Wahid di twitter beliau dengan tagar #PNSMuda, bertahan untuk tetap jujur dalam sistem saat ini adalah jihad bagi PNS Muda reformis. Kata beliau, "Selama yang kita lakukan adalah kebaikan, kondisi akan berubah". Insya Allah.

Maka, jika kemudian suatu hari kelak saya mendaftar CPNS, itu saya lakukan tak lain tak bukan adalah demi orang tua saya yang selalu penuhi permintaan saya. Dan jika kemudian saya lulus, maka itu adalah berkat doa mereka jua.


14 comments:

  1. hiks hikssss...

    btw mantap gak tu pak Zamhur aktif nge-chat hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks senasib kite *peluk*

      Bukan chat tu, sms. Hihihi.

      Delete
  2. Wooo pemikirannya brilian :) eh bukannya sekarang PNS itungannya kontrak yah. Ga kaya dulu sampe kapanpun. Kalo ga salah aku denger. Kalo ibuku terserah anaknnya yang penting sifatnya baik buat kemakmuran dan kebaikan hidup anaknya^^

    ReplyDelete
  3. Oh ya? Semoga bener jadi ada alasan untuk menolak keinginan ortu hehe..

    Selamat! Yang penting kerjanya halal ya faizal. Lebih baik lagi kalau sanggup mencintai pekerjaan :)

    ReplyDelete
  4. everything I do do it for Ortu... eaaaa...


    mari dobrak mindsett dan attitude tak baek yg ad di Jiwe PNS selama ini. *lg bijak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mareeee. Cemungudd (•̀_•́)ง

      Delete
  5. citra pns kan ga ok, aku pernah ke kantor kementrian and mereka kerjanya kongkow doang, berkas menumpuk aja gitu di mejanya, tapi.. ridho orang tua ridhonya Ilahi Rabbi, memang kadang tdk sesuai dengan keinginan diri sendiri tapi selama yang diinginkan ortu tidak bertentangan dengan norma yaa gpp deh dicoba ikutin dulu, mumpung masih bisa menyenangkan hati mereka, :)

    ganbatteee ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, di sini juga banyak yang gitu walopun ada juga yg rajin. Sama yg malas ini, bzzzt sebel liatnya.

      Begitulah mbak, ambil berkah dari keinginan ortu :')

      Delete
  6. gak ada yang salah dengan pns atau pengusaha. setiap orang kan memiliki pilihan mereka masing-masing. dengan alasan apapun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. True!

      Yang salah adalah koruptor :p hehe

      Delete
  7. Sebagai seorang suami yang memiliki istri sebagai "pelayan negara" (baca : PNS), saya mendukung niat tulus miss Syahdini untuk bertarung dalam seleksi CPNS.

    Berjuang sekuat tenaga, dan hasilnya pasrahkan kepada Allah SWT. Semoga cita cita dan harapannya dikabulkan oleh Allah SWT Maha Kuasa Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Doa kami sekeluarga selalu


    Asep Haryono

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya rabb

      Terima kasih Kang Asep :)

      Delete

Because sharing is caring