dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Thursday, 8 March 2012

Sentimen Pribadi

Terkadang kita lupa

Sebelum menulis postingan ini lebih lanjut, saya mencari terlebih dahulu pengertian 'Sentimen'. Repot juga nanti kalo salah makna. Dari wiktionary, saya dapatkan beberapa pengertian 'sentimen'.

Sebagai kata benda atau nomina, sentimen bisa berarti:

  1. pendapat atau pandangan yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu (bertentangan dengan pertimbangan pikiran)
  2. emosi yang berlebihan
  3. reaksi yang tidak menguntungkan

Sebagai kata sifat atau ajektiva, sentimen dimaknai sebagai:

iri hati; tidak senang; dendam


Kali ini, yang akan saya tuliskan adalah tentang sentimen pribadi. Silahkan dimaknai sendiri berdasarkan pengertian-pengertian di atas :D

Menurut saya, for certain cases, menyimpan sentimen pribadi itu sungguh merepotkan diri sendiri. Bagaimana tidak? Soalnya orang dengan sentimen pribadi memiliki beberapa ciri sebagai berikut:


  • Mencari-cari kesalahan sekecil apapun
  • Mengenyampingkan hal-hal baik yang telah dilakukan seseorang atau sekumpulan orang sehingga jadi lebih mudah untuk lost focus.
  • Mengabaikan azas praduga tak bersalah *udah mirip istilah yang belakangan dipakai oleh pengacara para koruptor ya? hihhi*
  • Senang dan bahagia melihat kekeliruan pada orang lain, bahkan pada teman atau saudara sendiri
  • Terindikasi mirip dengan musuh dalam selimut
  • Gelisah melihat teman yang disentimeni berjaya.

Wrapping it into a conclusion, orang yang menyimpan sentimen pribadi itu susah sekali berbuat adil. Mungkin masih terkendala dalam mengimplementasikan firman Allah di QS Al Maidah: 8:

"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Sehingga, akibat sudah terlanjur memiliki sentimen pribadi (baca: benci) terhadap suatu kaum, jadi sedikit sulit untuk mengedapankan prinsip tabayyun (konfirmasi) ketika mendapat berita tak menyenangkan tentang suatu kaum tersebut. Lupa dengan prinsip tabayyun: bukan membuktikan kesalahan melainkan mengurangi prasangka negatif.

Semoga kitakita yang masih menyimpan sentimen pribadi terhadap suatu kaum, ke depannya bisa melenyapkan atau setidaknya mengikis sedikit demi sedikit tabiat ini ya. Bukannya apa, kalau sudah menyimpan sentiman pribadi, biasanya jadi lebih sibuk caricari kesalahan orang daripada memuhasabah diri.

"Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib orang lain." (HR. Ad Dailami)

Mari kita fokus pada perbaikan diri, tak sibuk dengan aib-aib orang lain, apalagi kalau jauh dari niat saling cinta karena Allah, hingga memutus silaturrahim. Na'udzubillahimindzalik.

Wallahualam Bisshhowwab.

8 comments:

  1. semoga hati kita tak menyimpan sentimen pribadi pada siapapun...

    betul Din, fokus memperbaiki diri sendiri :)

    ReplyDelete
  2. Aamiin..

    ( '⌣')人('⌣' ) tosss kita kk :)

    ReplyDelete
  3. Hal hal semacam ini memang amat sensitif dan ini pola dinamika di masyarakat kita. Hal seperti ini kerap sering terjadi di dunia kerja, dimana yang namanya sindir menyindir , Asal Bapak Senang (ABS) , mafia kuitansi , sikut sana sini, pencitraan segala macem.

    Semuanya itu akan semakin mendewasakan diri kita, dan kita akan semakin diuji kesabaran dalam diri kita sendiri.

    Kesabaran memang ada batasnya, yah namanya manusia. Mencintai, marah, sedih adalah hal yang manusiawi, namun demkian fokus memperbaiki diri sendiri adalah hal utama, dan itu saya setuju banged Miss Syahdini.


    Happy Blogging

    ReplyDelete
  4. Betul beud tuh kang, ABS alias asal bapak senang itu sounds so 'menjilat' yah kang.. mafia kuitansi, hadeeeh seremmm.. kayak ga takut Allah deh :(

    thanks a lot for the comment :)

    ReplyDelete
  5. dengan tidak adanya sentimen tentu kita bisa lebih obyektif dalam melakukan penilaian. tapi bener di tulisan terakhirnya mending fokus perbaikan diri, keluarga, orang-orang terdekat. terkadang terlalu jauh mau mikirin perbaikan bangsa, anak sendiri akidahnya ndak diperhatikan, pendidikannya diserahkan sepenuhnya ke orang lain lantaran sibuk ngurusin negara misalnya.

    sengaje komen di sini jak, nak komen di tempat lain bekerut-kerut kening translate kan dulu ke bahase indonesia. :)

    ReplyDelete
  6. Pertamatama, saya bahagiaaaa dikunjungi same dian prawira yang lamaaaaa dah dak mampir ke blog kame huehuehehehe...

    betul beud.. sentimen hanya merusak objektivitas penilaian, ribet..

    ReplyDelete
  7. Saya jadi teringat kata Mario Teguh The Golden Ways yang pernah bilang agar kita jangan berkompromi penilaian negatif orang terhadap kita, tetapi perbaikilah diri kita. TIngkatkan kualitas diri agar orang lain memperbaiki penilaiannya kepada diri kita.

    Sungguh bijak memang. Tidak ada manusia yang sempurna dan ini merupakan ketentuan baku bagi manusia, ya kita kita semua. Benar kata Mr Dian Prawira justru dengan adanya hal semacam sentimen inilah kita bisa lebih obyektif.

    Ada baiknya juga mentertawakan diri sendiri agar bisa lebih instropeksi diri. Seperti kata Dahlan Iskan dalam bukunya "Ganti Hati" jela disebutkan agar kita mentertawakan diri sendiri. Karena itu tanda bahwa kita bisa instropeksi diri.

    Hmmm

    ReplyDelete
  8. Tambahan yang superrr! *Mario Teguh mode: on* hehe

    Jauh-juah hari Baginda Rasul shollahu 'alaihi wasallam memang sudah mengingatkan:

    "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib orang lain." (HR. Ad Dailami)

    ^^

    ReplyDelete

Because sharing is caring