dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Wednesday, 28 March 2012

10 Bahasa Terlangka di Dunia

Language


Bahasa memainkan peran besar dalam kehidupan setiap orang, meskipun kadang kita tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Bahasa adalah alat berkomunikasi yang nyata dibutuhkan. Bayangkan jika di dunia tidak ada bahasa, atau kita tidak menguasai sebuah bahasapun, atau semua orang disekitar kita berbahasa asing semua, wuiih repot pastinya. 

PBB menyatakan bahwa rata-rata, sebuah bahasa lenyap setiap dua minggu. Di seluruh dunia, hampir 6.000-an bahasa terancam kepunahan. Bahasa ini dengan cepat menghilang karena mereka yang memakai bahasa tersebut meninggal dunia, selain itu juga karena bahasa tersebut telah terintegrasi dengan bahasa lain. Faktanya adalah ada bahasa-bahasa yang lebih menonjol daripada yang lain, dan di dunia sekarang ini orang memandang penting untuk mempelajari bahasa populer lainnya, sehingga lupa dengan bahasa aslinya. Ngeri  ya, membayangkan bahwa kematian sebuah bahasa berarti kematian suatu budaya.

Dari 10 bahasa paling langka dan terancam punah dari seluruh dunia, tahukah teman-teman bahwa bahasa yang hampir punah ini juga ada loh di Indonesia. Cekidot:

1. Chamicuro (Chamekolo, Chamicolo, Chamicura)

Seluruh dunia hanya ada 8 orang yang berbicara Chamicuro, menurut sebuah studi 2008. Bahasa ini umumnya digunakan di Peru dan saat ini dianggap kritis, karena sebagian besar dari orang-orang yang berbicara bahsa ini sudah tua-tua. Tidak ada lagi anak yang berbicara Chamicuro karena daerah ini telah menggunakan bahasa Spanyol sebgai bahasa harian mereka. Namun, mereka yang berbicara bahasa ini mampu mengembangkan sebuah kamus istilah mereka. Ingin tahu bagaimana mengatakan beberapa hewan di Chamicuro? Ini dia beberapa contohnya: kawali (kuda,) polyo (ayam,) Pato (bebek,) katujkana (monyet,) ma’nali (anjing,) mishi (kucing,) waka (sapi.)

2. Dumi (Dumi Bo’o, Bro Dumi, Lsi Rai, Ro’do Bo ‘, Sotmali)

Dumi, biasanya digunakan di daerah dekat sungai Tekan dan Rava, Nepal. Juga diucapkan di wilayah pegunungan Kabupaten Khotang yang terletak di Nepal timur. Ini adalah bahasa Kiranti *mirip merek minuman pengurang rasa nyeri haid ya :p*, bagian dari rumpun bahasa Tibeto-Burman. Dengan hanya 8 orang berbicara itu di tahun 2007, bahasa ini dianggap kritis dan terancam punah.

3. Ongota / Birale

Pada tahun 2008, bahasa Ongota hanya dipakai oleh 6 orang penutur asli yang semuanya sudah berusia lanjut. Hal ini membuat bahasa ini kritis dan terancam punah. Namun, tidak seperti kebanyakan bahasa yang menghilang, sebenarnya ada seorang profesor di Universitas Addis Ababa di Ethiopia yang melakukan studi bahasa Ongota. Dia menyimpulkan bahwa bahasa ini mengikuti struktur subyek, obyek, dan kata kerja. Ongota adalah bahasa Afro-Asia yang diucapkan di Ethiopia di tepi barat Sungai Weito di sebuah desa kecil.

4. Liki (Moar)

Liki adalah bahasa kritis yang diucapkan di luar kepulauan pantai utara Sarmi, Kabupaten Jayapura, dan Kecamatan Sarmi, yang semuanya berada di Indonesia. Pada tahun 2007, studi menunjukkan bahwa hanya 5 orang berbicara bahasa tersebut. Di masa lalu, bahasa ini dituturkan oleh para pejabat gereja lokal yang tinggal di wilayah tersebut. Bahasa ini berasal dari gabungan bahasa Austronesia, Malayo-Polynesia, Timur Tengah, Timur Malayo-Polynesia, Kelautan, Barat Kelautan, North New Guinea, Sarmi-Jayapura Bay, dan Sarmi.

5. Tanema (Tanima, Tetawo)

Di Kepulauan Solomon, bahasa Tanema ini pernah digunakan di tempat-tempat seperti Pulau Vanikolo, Temotu Propinsi dan di sebuah desa Emua. Saat ini, bahasa ini hanya dituturkan oleh 4 orang saja menurut penelitian pada tahun 2008. Tanema adalah bahasa campuran Austronesia dan juga Melayu-Polinesia Tengah-Timur, dan Kelautan. Banyak dari mereka yang pernah berbicara Tanema telah beralih ke bahasa Pijin atau Teanu, keduanya merupakan bahasa yang sangat populer di kawasan ini. Ingin belajar bahasa Tanema? Cobalah: wekini (untuk mengaktifkan), laro (berenang), la vamora (untuk bekerja), dan la munana (untuk berbaring.)

6. Njerep

Njerep Bantoid adalah bahasa yang diucapkan di Nigeria. Bahasa ini pernah diucapkan di Kamerun tapi tidak lagi. Sekarang yang paling umum digunakan di dekat Mambila. Saat ini, bahasa Njerep telah digantikan oleh Mambila dengan dialek berbeda seperti Ba dan Mvop. Hanya ada 4 orang yang masih berbicara Njerep menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2007. Mereka yang berbicara dengan bahasa ini sudah berusia lanjut, sehingga kemungkinan besar Bahasa ini akan segera punah.

7. Chemehuevi

Chemehuevi, bahasa ini digunakan oleh Ute, Colorado, Southern Paiute, Utah, Arizona utara, bagian selatan Nevada, dan di Sungai Colorado, California. Sedangkan suku Chemehuevi meskipun masih ada namun jumlah orang yang fasih berbahasa ini sulit ditemukan. Sebuah studi pada tahun 2007 menunjukkan bahwa hanya 3 orang sepenuhnya berbicara bahasa ini dan semuanya orang dewasa. Jika teman-teman ingin membicarakan hal-hal alam di Chemehuevi, coba kata-kata seperti kaiv (gunung), hucip (laut), mahav (pohon), dan tittvip (tanah / tanah).

8. Lemerig (Pak, Bek, Sasar, Leon, Lem)

Bahasa yang digunakan di Vanuatu, sebuah pulau yang terletak di bagian selatan Samudra Pasifik sekitar 1.000 kilometer sebelah timur Australia bagian utara, Lemerig menduduki peringkat 3. Lebih khusus, bahasa ini dituturkan di Pulau Lava Vanua. Bahasa yang hanya memiliki dua orang yang bisa berbicara lancar, menurut penelitian tahun 2008. Lemerig terdiri dari setidaknya empat dialek berbeda, yang semuanya mungkin sudah punah.

9. Kaixana (Caixana)

Kaixana adalah salah satu bahasa yang terancam punah kritis banyak yang ada saat ini. bahasa ini pernah digunakan di dekat tepi Sungai Japura, yang terletak di Brasil. Seiring waktu, pemukim Portugis mengambil alih wilayah itu. Pada satu ketika, hampir 200 orang berbicara dalam bahasa tersebut. Tapi, sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa hanya tinggal satu orang masih berbicara Kaixana, sehingga terancam kritis dan ditakdirkan untuk menjadi punah.

10. Taushiro (Pinche / Pinchi)

Taushiro, bahasa asli Peru, diucapkan di kawasan Sungai Tigre, Aucayacu Sungai, yang merupakan anak sungai Ahuaruna. Dikenal sebagai bahasa isolat, yang berarti tidak memiliki hubungan nyata dengan bahasa lain. Mereka yang berbicara bahasa ini biasanya hanya berhitung sampai sepuluh, menggunakan jari mereka. Sebagai contoh, untuk mengatakan “satu” di Taushiro, maka kita akan berkata washikanto. Untuk mengatakan nomor di atas 10, kita mengatakan “ashintu” dan menunjuk ke jari kaki. Pada tahun 2008, sebuah studi yang dilakukan pada bahasa Taushiro menyimpulkan bahwa hanya satu orang yang lancar berbahasa ini. Bahasa ini telah terdaftar sebagai bahasa yang hampir punah.

Demikianlah. Semoga bermanfaat ya :D

Copas edit dari: kaskus

12 comments:

  1. Asep HaryonoMarch 28, 2012

    Waw unik sekali bahasa bahasa langka seperti ini. Hmm ini sangat menarik, apakah sudah ada riset dari badan PBB yang mengurus masalah kebudayaan seperti ini? Eh Bahasa itu masuk kebudayaan bukan sih?  Aseli, nda tau saya.

    Dalam konsep saya yang sederhana ini, yang namanya kebudayaan bisa berbentuk bahasa salah satunya.  Kan warisan dunia tidak selalu berbentuk cagar alam, keindahan pantai, candi candi. Bahasa tentu masuk dalam kebudayaan.

    Saya jadi ada ide, jika ada kampus di dunia, mungkin Amerika mau jadi pelopor, agar bahasa bahasa langka itu dijadikan Program Studi, atau Jurusan untuk gelar Strata 1-3. Wah ini pasti unik, selain melestarikan warisan budaya, juga bisa menambah peluang usaha baru. Mengajar bahasa langka.  Just an idea.

    Great Posting


    Asep Haryono
    simplyasep.blogspot.com
    www.asepharyono.com

    ReplyDelete
  2. Tentu sudah kang asep. Data bahasa terlangka ini pastilah didapat setelah melalui riset oleh PBB. UNESCO sebagai bagian dari PBB sepertinya ikut andil untuk urusan pelestarian budaya, termasuk soal bahasa yang memang merupakan bagian dari budaya. Jadi teringat kalimat ibu Endang, one of my beloved lecturer in FKIP Untan. She said, "learning language means learning the culture" :-D

    ReplyDelete
  3. Wah bahasa Kaixana harus dilestarikan tuh.. Mana tinggal satu orang lagi :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, amat sangat terancam punah deh tu bahasa kaixana.

      Delete
  4. wah bahasa orang nigeria ternyata juga termasuk bahasa langka ya mbak diniehz?  ada bahasa njerep juga teryata 
    saya pernah punya pengalaman chat di facebook sama orang nigeria dia pake bahasa hausa  (hausa language ) kita pernah sharing dan tukeran bahasa dia pengen bisa bahasa indonesia, dan hasilnya sangat terdengar aneh sekli dalam lafal pengucapan nya :) 

    berikut yang saya dapatkan dari dia 
    terima kasih banyak = nagode sosai  :D

    ReplyDelete
  5. Iya, awalnya pas baca bahasa njarep, saya kira itu bahasa indonesia loh. Ternyata nigeria.

    Wiiih, cool! Saya sudah lama ga chatting dengan orang asing di dunmay. Bahasa oranglain memang akan kedengaran aneh di telinga kita :-)

    Nagode sosai mas shofyan sudah berkenan mampir ke blog saya

    *langsung diimplementasikan hehe*

    ReplyDelete
  6. Mudah2an nanti bahasa Indonesia ngga jadi langka ya, dengan banyaknya orang yang berbicara campur bahasa inggris (eh termasuk saya deng) dan bahasa alay :D

    ReplyDelete
  7. Huwwwwa jangan sampai. Pusat bahasa tamkan membiarkan itu terjadi hehe.

    ReplyDelete
  8. Hahaha... mungkin nama obat pelancar datang bulan itu terinspirasi dari bahasa Kiranti yang akan punah :D
    Bahasa merupakan salah satu peninggalan sejarah nenek moyang kita, kalau tidak dilestarikan, bener2 bisa punah ya...
    Semoga bahasa daerah yg ada di negeri Indonesia ini tetap di lestarikan oleh para generasi mudanya :)

    ReplyDelete
  9. bisa jadi tuh mba hihihi..

    aamiin, peran orang tua yang asli daerah juga penting mba, karena jaman sekarang banyak orang tua yang cenderung tidak mengajarkan bahasa daerah mereka kepada anak-anaknya dan lebih memilih menggunakan bahasa indonesia ketika ngobrol di rumah..

    ReplyDelete
  10. Wah-wah, ternyata ada juga ya bahasa kaum minoritas kayak gitu. Kalo saja bahasa itu dipake buat berkicau di twitter mungkin bisa jadi bahasa gaul ya sob. Hehehe ^^

    ReplyDelete
  11. @Sajakrerindu

    hehehe, bisa-bisa ngetwit sendirian kalau berkicau pake bahasa yang nyaris punah begitu xD

    ReplyDelete

Because sharing is caring