dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday, 10 October 2011

Tentang Anjing


Tak terasa, sudah sekitar 7 bulan saya tinggal di Kabupaten Sekadau. Tapi waktu 7 bulan ini belum membuat saya benar-benar mengenal daerah ini seutuhnya. Yaiyalah, sehari-hari saya lebih banyak di rumah. Mau kemana-mana mikir berkali-kali. Jalanan di Sekadau yang notabene jalan provinsi ini sungguh mengenaskan kondisinya. Kalau kemarau, debunya udah mirip kabut asap. Kalau turun hujan, jalanan berubah jadi mirip danau. Penuh lumpur. Malesin kan :(

Anyway, berhubung saya juga punya aktivitas di sini *walaupun tak sebanyak di Pontianak sih*, tetap saja harus keluar sesekali. Selain risih dengan debu dan jalanan yang aduhai, risih juga dengan keberadaan anjing-anjing yang jumlahnya lumayan banyak, dan entah siapa yang memeliharanya. Kenapa risih? Yaah, kalau yang melihara bisa menjaga anjingnya dengan baik dan benar sih oke-oke aja kali ya. Masalahnya adalah, hampir setiap hari anjing-anjing tak bermajikan itu warawiri di depan hunian kami, di belakang hunian kami, aiih pokoknya nongol dimanamana deh.

Meskipun begitu, risih saya terhadap hewan-hewan itu bisa ditolerir kok. Hanya sedikit khawatir kalo sampai dikejar aja hehehe. Selama si anjing ga maksain masuk dan minta pelihara sama saya, tiada mengapa deh. Soalnya kan, as we know together:

Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing atau gambar (dari makhluk yang bernyawa)” (HR. Bukhari no. 448)

Lebih lengkapnya mengenai hal ini diceritakan dari Aisyah bahwasanya pada suatu ketika Malaikat Jibril berjanji kepada Nabi Muhammad SAW untuk menemuinya pada suatu waktu yang telah ditentukan. Namun pada saat waktu tersebut datang, Malaikat Jibril tidak juga datang. Kemudian Rasulullah berkata, “Tidak pernah Allah SWT dan utusannya (Malaikat Jibril) memungkiri janji.” Setelah itu Nabi Muhammad SAW melihat ada anak anjing di bawah meja dan bertanya kepada Aisyah, “Aisyah, kapan anjing ini masuk ke sini?” Aisyah menjawab, “Saya tidak tahu Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk mengeluarkan anjing tersebut. Tidak lama setelah dikeluarkan, Malaikat Jibril datang. Rasulullah pun bertanya kepada Malaikat Jibril, “Yaa Jibril, engkau berjanji kepadaku untuk datang dan aku telah menantikan kedatanganmu tapi engkau tidak juga datang di waktu yang telah ditentukan.” Malaikat Jibril pun menjawab, “Di dalam rumahmu ada anjing, dan itulah yang menghalangi saya untuk masuk. Kami (malaikat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar (dari makhluk yang bernyawa).” (HR. Muslim no. 5246)

Begitu, temanteman. Khawatir malaikat enggan masuk ke dalam rumah. Yaaah, bahkan tanpa anjing di dalamnya pun, belum tentu malaikat bersedia masuk. Tapi setidaknya, kita minimalisir sebab-sebab yang menghalangi malaikat untuk masuk, setuju? :D

On the other hand, walaupun anjing masuk kategori hewan yang liurnya adalah najis mughaladoh, dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, diceritakan tentang seekor anjing yang sekarat karena kehausan di padang pasir, lalu seorang pelacur lewat dan muncul rasa iba dalam hatinya melihat Makhluk Allah *anjing makhluk Allah juga toh?*. Lalu dia mencopot muzzah/sepatu botnya, kemudian dia turun ke lembah yang jauh untuk mencari air lalu dia kembali ke bukit tempat anjing itu kehausan.

Diberinya air minum untuk si anjing hingga lepas dahaganya. tanpa disadarinya ada malaikat yang memperhatikan perbuatannya. Diceritakan di hari kiamat, si pelacur sudah nyaris dilempar ke dalam api neraka karena dosa-dosanya, ketika sang malaikat menjadi saksi di hadapan Allah akan kebaikan budi si pelacur, dan si anjing pun dipanggil untuk dimintai saksinya. Akhirnya karena Sifat Rahman Allah, si pelacur pun masuk surga. Wallahualam.

Well then. Anjing tetaplah makhluk ciptaan Allah yang keberadaannya dilengkapi dengan maksud dan tujuan tertentu. Kitakita yang manusia ini tentunya harus pandai-pandai memperlakukan makhluk Allah yang satu ini sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku *eaaa jadi kayak iklan provider hihihi*. Yah, maksud saya, sesuai dengan landasan yang kita pegang, yaitu Al Qur'an dan Sunnah :)

Last but not least, thanks a lot again untuk Eel Pecidasase yang udah rikwes untuk menulis tentang anjing. Walaupun bukan seperti yang dirikwes di twitter, semoga tulisan ini menambah ilmu kita bersama :D

5 comments:

  1. Di tempat kamek ade tu yang muslim melihara Anjing... lebih dari satu ekor malahan.. agak risih juga sih keberadaan nya.. kl malam hari lewat sering di kejar.. ngeri...

    ReplyDelete
  2. Waduh, muslim pelihara anjing? Kena hadits ini nih:

    “Barang siapa memelihara anjing kecuali anjing penjaga ternak / anjing berburu / anjing penjaga ladang, maka amalnya setiap hari akan dikurangi satu Qirath.” (HR. Muslim hal. 686)

    ReplyDelete
  3. Anjing!!!! itu kan juga makhluk Allah.... kenapa harus didiskriminasi.... mereka memang berbeda, tapi bukankah perbedaan-lah yang menjadikan dunia ini indah.....????

    ReplyDelete
  4. @Ikhsanul Khosasih

    Duh, keliatan nih ga baca postingan sampe abis hihihi...

    ReplyDelete
  5. @Ikhsanul Khosasih

    "Well then. Anjing tetaplah makhluk ciptaan Allah yang keberadaannya dilengkapi dengan maksud dan tujuan tertentu. Kitakita yang manusia ini tentunya harus pandai-pandai memperlakukan makhluk Allah yang satu ini sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku *eaaa jadi kayak iklan provider hihihi*. Yah, maksud saya, sesuai dengan landasan yang kita pegang, yaitu Al Qur'an dan Sunnah :)"

    Bagian ini udah dibaca?

    ReplyDelete

Because sharing is caring