dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday, 17 October 2011

Senang Saling Mengingatkan

Senang Saling Mengingatkan
Berinteraksi di dunia maya itu sungguh membuat perasaan campur aduk. Kadang kala senyum sendiri baca timeline beberapa teman, tak jarang pula merasa cukup kesal. Yap, karena list following saya terdiri dari beragam macam manusia yang latar belakang, usia dan isi kepalanya beda-beda: aktivis dakwah, penulis, penyiar radio, PNS, guru, siswa/i dan mahasiswa/i, beragam deh pokoknya. Dengan variasi manusia tersebut, tentu saja isi timeline jadi sangat berwarna.

Selayaknya manusia biasa, di balik warnawarni timeline saya pun kadangkala terselip khilaf dari para pekicau. Hanya saja yang membuat saya 'manas tak belawan' alias kesal gregetan dan tak kuasa mau berkata apa adalah kesalahan yang muncul tapi di sengaja. Nah! Ini tak cuma terjadi di dunia twitter saja toh? Yoih. Dalam hidup seharihari pun yang seperti ini terjadi juga. Bahkan barangkali pernah kita *ya, kita: saya dan temanteman* lakukan. Seseorang yang mukallaf (sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah) memilih untuk berbuat/ucapkan yang salah. Sedih ya :(

Contoh kecil deh. Sudah tau kalo shalat 5 waktu itu wajib hukumnya, fardhu 'ain. Masih pula sengaja tak dikerjakan. Atau contoh yang lebih sederhana lagi. Sudah tau 'Alhamdulillah' itu seharusnya ya 'Alhamdulillah', eeh malah sengaja ditulis salah-salah. Yang lebih menyakitkan lagi, sudah tau Rabbnya adalah Allah bukan owwoh, tapi kenapa sering sekali salahnya itu diulang-ulang? Apa dipikirnya lucu mempermainkan nama Rabb yang memberikan nafas untuknya setiap waktu? Tak khawatirkah Allah murka?

Firman Allah: 
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)
Na'udzubillah, tsumma na'udzubillahimindzaliik. Jangan sampai kita jadi bagian dari kaum yang bersenda gurau dengan Allah, dengan ayat-ayatNya dan RasulNya. Hal ini barangkali terkesan sepele untuk beberapa orang. Tapi perhatikanlah konsekuensi dari apa yang dianggap senda gurau dan olok-olok itu: 'kamu telah kafir sesudah beriman', Astaghfirullahal'adziim. 

Hal lain yang menyedihkan adalah, kesalahan yang disengaja ini dilakukan dengan riang gembira, menyesal sedikitpun tidak sesudah ditegur. Maka saya pun bertanyatanya tadi malam: Masih perlukah kita koreksi yang demikian ini? Saya berusaha untuk berpegang pada firman Allah Q.S Al Ashr ayat 1-3 yang dulu bersama temanteman sekelas saya baca setiap akan pulang sekolah. Watawwa shaubil haq, watawwa shaubis shabr. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan mereka yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
Juga dalam QS.Ali Imran:20, Asy-Syura:48, An-Nahl:82, Al-Anfal:38, An-Nahl:125, Al-Ma'idah:92, At-Taghabun:12. Semuanya tentang kewajiban menyampaikan yang lurus, yang haq:
QS.Ali Imron:20 "....KEWAJIBAN kamu hanyalah menyampaikan" 
QS.Asy-Syura:48 "...KEWAJIBANMU tidak lain hanyalah menyampaikan"
QS.An-Nahl:82 "... KEWAJIBAN yang dibebankan atasmu hanyalah menyampaikan "

QS.Al-Anfal:38 "KATAKANLAH PADA ORANG-ORANG KAFIR ITU"
QS.An-Nahl:125 "...SERULAH pada jalan Tuhan-mu dengan hikmah & pelajaran baik"
QS.AlMaidah:92 "...KEWAJIBAN Rasul Kami, hanyalah mnyampaikan dengan terang"  
QS.AtTaghabun:12 "...KEWAJIBAN Rasul Kami hnylah mnyampaikan dengan terang"
Namun sepertinya tak semua manusia MAU menerima firman Allah itu. Ketika diingatkan malah marahmarah, 'Ngapain lo ngatur-ngatur idup gue, atur aja sana idup lo, dasar sok alim lo'. Saya jadi ilfil kalo digituin. Huhuhu, emang agak kurang tangguh sih ya. Tapinya kalo sudah sekali, dua kali, tiga kali dikasi tau masih begitu juga, maka saya istirahat dulu lah ngasi taunya. Kasi giliran orang lain untuk mengingatkan. Toh saya sudah lakukan yang sebaiknya saya lakukan. Sisanya, urusan yang bersangkutan dengan Rabbnya. Jika Allah berkenan lembutkan hatinya untuk ambil hidayah yang sudah tersedia, yah pasti nyangkut. Kalo tidak, eh bukan tidak, mungkin belum. Mungkin tersentuhnya dengan cara lain.

Memang tak seorang manusiapun sempurna. Tapi bukan berarti kalimat truistik itu jadi alasan kita untuk enggan memperbaiki diri kan ya :) *ah ini sebetulnya ditujukan untuk saya sendiri juga, note to myself :D* Well. Kalau sudah dalam kondisi seperti itu. Saya pasrah sajalah. As people said, life is truly a choice. You decide what to do, and face the risk of what you have done :)
Anyway, melalui tulisan ini saya juga pengen ngasi tau kalo saya senang sekali kalo diingatkan. Sekali lagi, DIINGATKAN ya, bukan DISINDIR hehehe. Kan lebih enak kalo kita saling mengingatkan ya daripada saling sindir, sama-sama senang. Oh, dan jangan lupa *ngingetin lagi deh hehe* QS Asy Syams 8-10: Allah mengilhamkan suka kebaikan dan ketakwaan. Beruntung bagi yang mensucikannya. Merugi bagi yang mengotorinya. Wallahualam.

14 comments:

  1. Diingatkan atau disindir menurut pendapat saya substansinya adalah sama. Hanya saja sindiran adalah bentuk reminder (pengingat) bersifat kualitatif dan lebih keras dari sekedar diingatkan.

    Disindir sebenarnya tidak perlu merasa "gerah" atau "marah" kalaw substansi sindiran itu adalah kebenaran. Hal yang mungkin bisa kita lakukan terhadap sindiran orang terhadap diri kita adalah mendiamkannya tapi memperhatikan apa pesannya dalam sindiran itu. Jika itu mengandung kebenaran, sejatinya kita disindir orang berarti diingatkan orang dengan cara yang ekstrim. Namun tidak semua orang berkenan dengan sindiran, sebagaimana juga ada orang yang tidak ingin dingatkan. Semua terpulang kepada diri kita sendiri

    ReplyDelete
  2. Yoih kang, setuju. However, in my opinion, nyindir *especially in personal case* malah berpotensi besar memunculkan sakit hati ke yg disindir. Apalagi perempuan yg sensitif perasaannya. Lebih elegan kalo ditegur langsung daripada disindir, lebih berada. Ini kalo personal case dan di ranah publik.

    Cuman, kalo konteksnya lebih besar, such as menyindir pemerintah, itu mungkin lebih bisa diterima berhubung memang diperlukan beragam teguran mulai dari yang lembut sampe sindiran keras.. Begitu :D

    ReplyDelete
  3. Wah jadi inspirasi ide tulisan blog saya hari ini "Disindir VS Diingatkan" di URL http://simplyasep.blogspot.com/2011/10/disindir-vs-diingatkan.html

    xixixixixie

    ReplyDelete
  4. wah hari ini saya tulis puanjang banget, judulnya "Bapak rumah tangga" Repot dan asyiknya mengurus 2 orang anak siapa tau bisa menjadi referensi kelak jika sudah menjadi ibu/bunda bagi anak anaknya kelak, Aminnn

    ReplyDelete
  5. kalo ke pemerintah saya rasa sudah ada adabnya sendiri yah untuk menegur atau memberi saran. #masihbelajarjuga.

    ReplyDelete
  6. @kang asep, wah thanks a bunch to share.. Saya ke tkp via pc yes nanti :)

    @maswir, betul. Skrg banyak sarana: socmed, media cetak, elektronik, beragam macam. Tinggal bgmana yg mau kasi masukan mengemas teguran utk pemerintah..

    *halah, nape jadi agak tingkat government ni bahasan perkomenan :p

    ReplyDelete
  7. btw, ngape pulak potone potone pak wali?

    ReplyDelete
  8. Hihihi ahernye ade yg nanya ngp pasang foto itu :p

    Itu pura2nye pak wali agik mengingatkan bapak kame *yg paling kiri* "Pak Zamhur, ingat2 gak jage berat badan tu", lalu pak penghulu *yg paling kanan* tertawa mendengar nasihat tersebut. Karna bpk org yg senang diingatkan, bapak pun ikut tertawa.

    Demikianlah cerita dibalik pemajangan foto tsb :p

    ReplyDelete
  9. Eh tebalek (doh)

    Pak Zamhur yg paling kanan *yg gemuk*, pak penghulu yg kiri. Sedangkan yg tengah, seperti yg kita ketahui, adalah Bapak Sutarmidji, SH, M.Hum.

    ReplyDelete
  10. ooo ceritenye pak walikote kite datang pas akadnye?? hee... walikote yang memasyarakat yeh... :)

    ReplyDelete
  11. Yoih, jadi saksi nikah :) beliau datang 1 jam lebih awal dari acara, tak pake dikawal pulak.. Yaiyalah, emang penganten, dikawal..

    ReplyDelete
  12. luar biasa. hidup berteman memang harus saling mengingatkan, kalo gak bisa dg cara halus, ya dg cara menyindirnya juga bisa

    ReplyDelete
  13. kakak sayah numpang promoh

    www.atapmerah.wordpress.com

    ReplyDelete
  14. @Rusydi, begitulah :)

    @dinnchan, wokeh okeh...

    ReplyDelete

Because sharing is caring