dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday, 26 September 2011

Rezeki Allah tak terukur

Photo taken by: Ivvan Fardyan

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Alhamdulillaah saya masih bisa nulis lagi hari ini. Ah, sering sekali saya lupa bersyukur bahwa hari ini masih diberi nafas untuk mengukir sejarah baru, masih diberikan kenikmatan Islam yang tak tergantikan, terlebih lagi, masih diberikan nikmat iman yang tak semua manusia bisa rasakan. Sungguh, banyak betul kenikmatan dari Allah SWT yang sering kita lupakan. Terlupa karena kita terlalu sensitif dengan kekurangan yang ada pada diri kita sebagai manusia. Padahal, justru karena kekurangan itulah, maka kita disebut manusia, bukan malaikat.

Banyak sekali hal yang kita keluhkan, baik yang disadari dan yang tidak. Beberapa hari lalu, saya BBMan dengan teman sekelas saya waktu SMA. Saya berinisiatif untuk menyapa dia duluan, karena tiap liat recent updates yang dia buat, personal message-nya nyaris selalu mengeluh. Maka, ngobrollah kami. Saya sama sekali tidak memancing dia untuk mengeluarkan keluhannya ke saya. Berhubung dia ini adalah teman SMA, maka yang ditanyain ya halhal klasik seputar kehidupan, such as udah nikah ya? Iyeap, that's the first question I asked her after saying hello.

Orang yang sama-sama baru menikah, ya pertanyaan klasik berikutnya bisa ketebak donk ya hehe. Tinggal di mana sekarang, suami kerja apa, sudah hamil belum, bla bla bla bla. Ketika saya balik bertanya whether or not dia sudah hamil, dimulailah sesi pengeluaran uneg-uneg yang seringkali nongol di personal message BlackBerry-nya. Ternyata temen saya itu sakithati dengan omongan orang-orang di sekitarnya yang seringkali nanyain kenapa dia belum hamil. Saya pun jadi pengen tau, emang nikah udah berapa lama? Subhanallaah, ternyata sama dengan saya, Februari 2011.

Oke, saya mulai memposisikan diri sebagai dia. Mencoba memahami perasaan pengantin baru yang sudah menikah selama 7 bulan namun belum diamanahi Allah untuk hamil. Kecewa, sedih, cemburu melihat teman yang lebih lama nikah sudah hamil, pastilah perasaan seperti itu yang muncul dari hati. Perempuan normal mana sih yang ga pengen hamil setelah menikah dengan cara baikbaik dan halal? Baiklah, pasti itu yang temen saya rasakan. Menjadi semakin sakithati akibat omongan ga enak dari kiri kanan tentunya.

Saya pribadi pun sangat sering sekali ditanyai pertanyaan serupa. Sudah pernah saya bahas kan di postingan F.A.Q. beberapa pekan lalu? Yoih. Ingin sekali rasanya saya kasih jawaban: Alhamdulillaah, sudah. Tapi menurut Allah, kami berdua masih harus terus ikhtiar maksimal dulu sampai layak menjadi orang tua untuk anak-anak yang kami idamkan. Maka, belumlah Allah katakan 'kun' untuk pertemukan sel telur dan sperma dalam rahim saya. Toh, rezeki takkan tertukar. Kalau sudah waktunya wanita hamil, baik hamil yang halal maupun yang haram, maka hamillah seorang wanita.

Jika saja teman saya itu bertanya, pernahkah saya mendengar atau mendapat perlakuan miring dari orang lain perihal belum hamilnya saya? Alhamdulillah, TIDAK PERNAH. Atau setidaknya, tak saya anggap miring. Karena rasa-rasanya, tak ada guna memusingkan omongan atau perlakuan orang lain yang tak mengenakkan ke diri kita, kecuali kalau sudah sangat mengganggu kehidupan pribadi. Yang remeh temeh begitu anggap sajalah angin lalu. Kalikan nol, abis deh dia.

Nah, dari situ, sebetulnya kita bisa membuat check list untuk disyukuri setiap hari. Walaupun takkan pernah sanggup kita menghitung nikmat dari Allah, seperti firmanNya:

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).


tetap wajib toh kita bersyukur setiap hari? Maka bersyukurlah sekarang ini kita sudah menikah. Di usia yang relatif muda ini diberikan kelancaran menggenapkan setengah dien. Ketika beberapa teman kita di luar sana masih ada yang sibuk rampungkan studi, Allah berikan kelapangan untuk kita selesai lebih dulu. Saat di luar sana beberapa wanita sudah ingin betul menikah karena usianya sudah matang, Allah belum jua berikan jodoh untuknya. Atau, ketika setelah menikah masih ada beberapa pasangan yang belum bisa hidup berdua saja di rumah sendiri, Allah mampukan kita untuk itu.

Yang paling penting untuk disyukuri adalah: di balik belum hamilnya wanita yang sudah menikah secara sah, kita wajib bersyukur kepada Allah bahwa kita menikah tidak dalam kondisi hamil. Kasian anaknya euy kalo lahir dengan status hamil karena zina. Menurut para ulama, anak hasil zina tidak mendapatkan hak waris dan perwalian. Sehingga, kalo anak yang lahir perempuan, bapak kandungnya tak berhak menjadi walinya ketika menikah. Baca di sini ya :)

Ah, there are just too many things to be thankful. Terlalu banyak untuk saya tuliskan satu per satu di blog ini. So, kalau sampai hari ini masih juga merasa risau hati dengan hal-hal yang belum Allah beri, cobalah buat checklist untuk disyukuri setiap hari. Makin sering bersyukur, makin ditambah Allah nikmatnya. Itu janji Allah loooh:

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.s. Ibrahim: 7)

Last but not least, postingan ini saya persembahkan untuk teman-teman yang sedang menanti kehadiran penghuni baru dalam rumah tangga yang baru terbina, atau bahkan yang sudah bertahuntahun lamanya. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Tetap bersabar sambil berikhtiar yaaa.. Insya Allah, sebentar lagi :)

9 comments:

  1. Hallo The Kupu. Saya sudah artikel ini dari awal sampai akhir dengan hati hati. Satu hal yang ingin saya catat di sini adalah bahwa kelahiran, dan kematian adalah urusan Allah SWT. Kita tidak akan pernah tau. 7 Bulan menanti kehadiran buah hati yang belum kunjung tiba sebaiknya disikapi dengan bijaksana, dan sabar. Dan tentunya prasangka baik kepada Allah SWT.

    Saya sendiri baru mendapati istri saya hamil setelah usia pernikahan kami mendekati tahun ke 2 baru mendapatkan buah hati pertama. Kemudian berikutnya lahir anak kedua perempuan. Sekarang genap sudah sepasang buah hati kami di rumah. Nah bisa dibayangkan 2 tahun kami menanikan kehadiran buah hati bahkan diberi Allah SWT sepasang putra putri.

    Bersabarlah.

    ReplyDelete
  2. nice share, kang :)

    Sungguh Allah itu Maha Baik ya kang sama hambaNya, semoga nanti giliran saya n suami dapetnya langsung sepasang, kembar cewek cowok aamiin :D

    ReplyDelete
  3. Idem sama Kang Asep. Kakak juga harus nunggu The Daughter setahun lebih sedikit dulu (plus 'harus' ngalamin keguguran dulu sebelumnya), sementara kawan-kawan yang nikahnya belakangan setelah Kakak malah hamilnya pada duluan sebelum Kakak.

    Rasanya? Ada jealous sih ya, tapi ternyata ngalamin itu semua bikin rasa simpati dan empati ke orang dengan kisah yang sama jadi lebih besar. Juga bikin lebih aware sama gaya hidup sehat.

    Sehat terus ya, Din :)

    ReplyDelete
  4. Oh btw, baru kali ini lihat muka Pak Zamhur yang penuh haru gitu :)

    ReplyDelete
  5. @Diar Adhihafsari Thanks a lot kak diar :) Aamiin Insya Allah :D

    ReplyDelete
  6. hahaha..dilema kaum perempuan kayak gitu tuh Mbak! waktu belum nikah, orang pada nanya: Kapan Nikah?
    setelah Nikah, ditanya lagi: Udah punya anak belum?
    Setelah punya anak, ditanya lagi: Kapan mantu-an? halah..puanjang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh mbak. Yg ga berani ditanyain cuman "kapan nyusul?" pas lagi takziyah ya :)

      Delete
  7. Rezeki Allah itu selalu ada, terkadang kita saja yg hampir melupakan (termasuk kamek). Senang saja baca postingan dari mbak Dini.. Menginspirasi dan banyak memberikan pengetahuan. Alhamdulillah :)

    ReplyDelete

Because sharing is caring