dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Tuesday, 5 April 2011

Air mata bapak

Wow, sudah lama sekali saya vakum menulis. Apa karena sudah menikah? Ah, ga usah cari-cari alasan deh dini. Dari dulu sejak sebelum menikah juga saya sering males nulis kok hehehehe. Yayaya baiklah. 'Malas' adalah alasan saya lama tak muncul di blog ini.

Anyway, sebagaimana yang saya janjikan di postingan saya sebelumnya, kali ini akan saya ceritakan pekan-pekan pertama kami menjalani rumah tangga. Karena ini saya yang nulis, maka saya hanya akan menuliskan yang saya rasakan. Sedangkan suami saya? Biarin aja dia nulis sendiri. Punya blog juga kok. *Ayooo ayooo mari kita nulis lagi pak Priana Ashri*

2 pekan setelah akad nikah dan walimah, saya dan suami masih di Pontianak. Kenapa di Pontianak? Salah 1 alasannya adalah karena sepekan setelah walimah, bapak dan ibu saya harus terbang ke Malang untuk ujian tesis mereka. Maka, kami pun temani 2 adik saya di Pontianak. Konsekuensinya, kami lebih banyak habiskan waktu dengan wisata kuliner. 2 pekan pertama belum ada masakan spesial yang saya sajikan untuk suami selain kopi radix setiap pagi. Oh, dan juga sepiring spaghetti.

Sepulangnya bapak dan ibu saya dari Malang, kami sudah siap pindah ke Sekadau, ke tempat di mana saat ini suami saya menjalankan usahanya. Nah, di sinilah atmosfir hati saya mulai berubah. Berubah jadi jauh lebih mellow. Belum ada gambaran sama sekali tanah baru yang akan saya pijak setiap hari nanti. Suasana seperti apa yang akan saya hadapi, juga belum tergambar dengan jelas tiap kali saya memikirkan akan pindah. Sedih, sangat amat sedih saat itu. Bercampur baur.

Sedih karena ini adalah pertama kalinya saya akan hidup jauh dari orang tua saya, adik-adik saya, para sahabat saya, semua yang saya cintai dan mencintai saya. Seneng juga iya, rasa syukur karena Allah menganugerahi saya dengan suami yang sabarnya luar biasa. Entahlah jadi apa saya sekarang kalau suami saya tak sesabar beliau. Jangan-jangan udah disuruh balik Pontianak. Kenapa eh kenapa?

Nah, hari pertama kami menuju Sekadau, keluarga saya ikut antar. Serumah ikut nganterin, ditambah tante saya dan 2 sepupu saya yang luculucu. Pulangnya, ya saya ditinggal donk. Di sini inilah momen yang amat sangat mengharukan bagi wanita yang baru 2 pekan menjadi istri, dan baru pertama kali injakkan kaki di tanah orang.

Ketika turun, keluar dari mobil, dada saya seperti akan meledak menahan tangis. Yang paling berat adalah menerima kenyataan harus pisah sama bapak. Begitupun bapak, paling berat pisah dengan anak-anaknya, apalagi pisah dengan saya yang satusatunya anak perempuannya. Ketika saya melambai, sedikitpun bapak tak kuasa menoleh. Ya, beliau tak mau saya melihatnya menahan air mata *ngetik sambil berkacakacaka hikzhikz*. Waktu itu, tidur siang pun saya masih bersimbah airmata. Bangun tidur, malah nangis lagi. My goodness. Betapa cengengnya ya.

Saya pikir, sehari itu saja saya akan semellow itu. Ternyata, besoknya lagi masih mewek. Malah kian menjadi karena bapak menelpon saya sambil nangis juga. Seumur hidup, rasanya baru kali itulah saya mendengar bapak nangisin saya. Saya yang *konon* sangat tegar ini, jadi ikut menangis juga, besok dan besoknya lagi. Sungguh terlalu. Terlalu mellow. Nah, bayangkanlah kalau suami saya tidak cukup sabar menghadapi kemellow-an saya. Allah memang Maha Adil kan ya...

Alhamdulillah, besoknya lagi saya sudah mulai berjalan di atas tanah. Kemarennya kan masih terbang-terbang gitu deh, belum benar-benar bisa menerima fakta dan realita bahwa saya telah tinggalkan Pontianak tercinta. Momen 'perpijakan kaki di atas tanah' itu kami gunakan untuk hunting barang guna ditempatkan di ruko tempat kami bernaung. Dan dimulailah episode-episode baru saya sebagai istri.

Nah, demikianlah kisah pindah kami setelah walimah. Untuk temanteman yang akan segera berumah tangga, baik dalam waktu dekat atau belum direncanakan, persiapkanlah mental dan batin sesiapsiapnya untuk menghadapi perubahan status dari anak menjadi istri atau suami. Apalagi kalau setelah nikah akan pisah kota dengan orang tua. Yeah, kecuali kalau memang sudah terbiasa, kemungkinan untuk mengalami cerita mellow kayak saya tentulah kecil hehehe.

Last but not least, thank you to read and stop by to my blog :)

10 comments:

  1. Air Mata Bapak....Kalo dulu Air Mata Ibu...
    Semoga Bahagia selalu mbak........(^_^)

    ReplyDelete
  2. @eel, ibu malah ndak nangis hehe

    @bella, i've been oke dear :)

    ReplyDelete
  3. mungkin adalah hal yang wajar ketika berada di situasi baru dan jauh dari orang2 tersayang. kisah yang menarik, menjadi masukan juga buat saya kelak ketika tlah mengarungi bahtera rumah tangga. **haru**

    ReplyDelete
  4. @maswir, jadi kapan la ni? Hehehe.. Nti kalo dpt calon yg jauh dari tanah kelahirannye, sabar2 ye ngadapinye..

    ReplyDelete
  5. Hehehe ya ya selamat selamat menempuh Kota Sekadau. Kota yang baru. Perjuangan baru saja dimulai. Jalani saja dulu. Suka duka pasti ada. Itulah romantika hiheiheiheihiee. Semangadsssssssssssssssssssssssssssss

    ReplyDelete
  6. salute untuk bapak n suami dini, tentunye kau juga din....

    ReplyDelete
  7. @kang asep, thanks a lot kang :)

    @izhan a.k.a oji, tengkyu ye keee.. Cepatlah lamar kawan kame tu hehehe :p

    ReplyDelete

Because sharing is caring