dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Wednesday, 26 January 2011

Gaji Abu Bakar dan Gaji SBY

Tulisan ini saya rilis dalam rangka memperingati rencana kenaikan gaji untuk Presiden yang saat ini sudah mendekati angka Rp. 62 juta/bulan. Waktu dengar berita di TV, biaya operasionalnya nyampe milyaran yah? Wallahualam. Yang pasti, gaji Rp. 62 juta/bulan mungkin belum dianggap layak bagi sebagian kalangan. Mengurusi negara yang rakyatnya banyak maunya, meskipun pejabatnya pun sama banyak maunya juga ya. Para pejabat itu bilang, mereka mau rakyat sejahtera, tapi saat itu juga ada pejabat tak bertanggungjawab yang menyunat uang rakyat demi kantong pribadi, memenuhi hasrat duniawi anak istri. Berat ah ngomongin pejabat. Saya belum cukup berkapasitas. Nanti deh, 2014 kalo ada yang milih, saya mau berjuang jadi anggota legislatif, wanita pertama mewakili daerah saya hehehe.


Baiklah. Saya merasa saat ini adalah momen yang cukup tepat untuk mempublish tulisan ini. Saya dapat dari milis kalo ga salah. Tapinya lupa apa alamatnya. Tanpa bermaksud plagiat, hanya berniat sharing, Insya Allah. Silahkan dinikmati cerita tentang Khalifah Abu Bakar berikut:


Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a. terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakar sekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. “Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan…” sentil Umar.

Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya singkat. “maka aku harus bekerja.”


Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yang lain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.

Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya.


Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, “Aku ingin membeli sedikit manisan.”

Abu Bakar menyahut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.”

Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu.”

Abu Bakar menyetujuinya.


Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.


Namun Abu Bakar berkata, “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.


Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.” (sa/berbagaisumber)

1 comment:

  1. keren keren. Namun kesannya sih:

    1.Presiden Tidak Bermaksud Minta Naik Gaji
    Dalam statemen Presiden di depan rapat pimpinan TNI di Jakarta yang dengan lantang mengeluhkan gajinya yang belum naik selama 7 tahun terakhir ini tidak dimaksudkan untuk minta kepada bawahannya (Menkeu-red) untuk menaikkan gajinya. Hal ini memang sebaiknya ditanyakan langsung kepada pak SBY apa substansi maupun maksudnya dengan mengatakan bahwa gajinya belum naik selama 7 tahun terakhir ini. Menurut hemat saya, apa yang disampaikan bapak SBY sifatnya normatif, dan dia hanya menceritakan kepada umum bahwa gajinya belum naik selama 7 tahun terakhir ini.

    2.Presiden Merasa gajinya kurang
    Dengan kalimat yang disampaikan seperti itu, penafsiran lainnya adalah benar bahwa Pak SBY merasanya gajinya yang sekarang sekitar 62 juta rupiah itu masih dirasakan kurang. Dalam berbagai sumber informasi dana taktis SBY saja sudah mencapai angka 2 Milyar. Dan itu saja belum termasuk dengan fasilitas nomor satu untuk Presiden dari negara. Nah ukuran cukup maupun tidak cukup setiap orang tentu berbeda beda. Namun yang bisa kita tarik dari kesimpulan penafsiran kedua ini adalah gaya hidup. Gaji anda tinggi namun jika ongkos dan gaya hidup anda mewah, maka berapapun besar gaji anda tidak akan cukup.

    3.Presiden Bermaksud Menyindir
    Nah penafsiran saya yang ketiga adalah bahwa statemen atau sebut saja keluhan pak SBY bahwa gajinya belum naik adalah bermaksud untuk menyindir aparat pemerintahannya yang sering tidak memfokuskan diri pada rakyat. Banyak pejabat negara yang dirasakan kurang fokus perhatiannya kepada rakyat mendapat sindiran dari pak Presiden. Beliau berharap para menterinya tanggap dan tidak membuang uang rakyat dan tetap fokus pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Ini loh presidennya aja belum naik gaji, masa para menteri sudah jor joran dengan fasilitas tapi tidak fokus para rakyat

    4.Presiden Mencoba Mengalihkan Isu
    Ini yang rame lagi dibicarakan oleh lawan lawan politik beliau. Penyebutan secara gamblang bahwa gaji presiden SBY yang belum naik selama 7 tahun terakhir ini adalah upaya untuk mengalihkan isu yang sekarang lagi ramai dibicarakan. Kita semua tahu berbagai kasus keadilan, dan persoalan hukum dan mafia di Indonesia sudah pada tingkat yang parah. Isu penggelapan pajak oleh super Gayus, kasus bank Century, serta masih banyak lagi PR PR yang belum diselesaikan oleh pemerintah. Penyebutan gaji presiden yang belum naik dianggap sebagai upaya untuk "memindahkan" perhatian rakyat kepada isu gaji. Mengalihkan isu yang lagi hangat di masyarakat.

    ReplyDelete

Because sharing is caring