dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Friday, 16 July 2010

Tanggal Baik dan Tidak Baik


Well, to the point.

Menurut saya, adanya frame of mind mengenai tanggal baik dan tidak baik adalah salah satu langkah syaithon untuk mengurungkan manusia menjalankan niat baiknya. Contoh realnya adalah: pernikahan. Tentang yang satu ini, saya masih sering melihat *dan belakangan merasakan sendiri* bahwa masyarakat kita masih terkungkung oleh pola pikir tanggal dan bulan baik.

Oleh sebagian orang, bulan shafar dianggap sebagai bulan tidak baik untuk menikah, karena menurut shiroh, perang banyak terjadi pada bulan shafar di zaman Baginda Rasulullah SAW. Bulan yang panas, katanya. Bulan Muharram juga dianggap tak baik untuk dipilih sebagai bulan untuk melangsungkan pernikahan. Sungguh fenomena menyedihkan. Tauhid sebagian masyarakat kita masih diragukan. Simaklah hadits ini:

"Termasuk perkara-perkara yg menodai tauhid adalah anggapan bhw menikah di bulan Safar adalah kurang baik. Dan ini dalam ilmu Tauhid disebut dengan thiyarah atau tathayyur (merasa sial) yang dilarang dalam Islam." Dalilnya: "At-Thiyarah syirkun" (Thiyarah/merasa sial adalah syirik) -HR Ahmad

See? Sedangkan menurut Islam, semua hari adalah baik. Dulu pada jaman Jahiliyah, masyarakat Arab mempercayai bahwa menikah di bulan syawwal atau bulan-bulan haram seperti muharram akan mendatangkan malapetaka. Rasulullah s.a.w. kemudian mengikis kayakinan tersebut, beliau menikahi Aisyah r.a. pada bulan syawwal. Beliau juga menikahkan puterinya Fatimah pada bulan shafar dan sebagian riwayat mengatakan awal bulan Muharram.

Sudahkah orang-orang yang hingga era milenium ini masih percaya dengan bulan baik dan bulan tidak baik itu membaca shiroh di bagian ini?

Ada apa memangnya dengan Muharram? Bukankah Muharram adalah bulan pertama di tahun Hijriah? Muharram adalah saat hijrah, pindah, mengubah diri ke arah yang lebih baik, lebih keren, lebih positif. Lantas, mengapa takut melakukan ibadah di bulan Muharram? Sedangkan shafar, bukankah shafar berarti berpergian atau perjalanan? Apa yang salah? Kalau kemudian saya ingin memaknai shafar sebagai perjalanan menjemput impian, what so ever? Saya pribadi beranggapan bahwa pada dasarnya, semua tanggal dan hari itu baik. Tinggal bagaimana tiap individu mengisinya dengan perkara yang Allah ridhoi.

Manusia. Dengan beragam pola pikirnya. Keputusan terbaik tetap yang berdasarkan syari'ah: Alqur'an dan As Sunnah.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rosul dan taatilah pemimpin (penguasa) diantara kalian, apabila kalian berselisih pendapat tentang segala sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur'an) dan Ar Rosul (As Sunnah) (Q.S An Nisa ayat 59).

Wallahualam.

4 comments:

  1. @ m.husin, begitulah..

    @ kang asep, ikuti terus perkembangan blog ini. Siapa tau ntar tiba-tiba rilis undangan :D

    ReplyDelete
  2. Saya rencana mau bangun di bln ini baiknya hari apa yaa??

    ReplyDelete

Because sharing is caring