dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Friday, 5 June 2009

thekupu: Novel Merah Jambu


Bahwa saya suka menulis sejak saya SMP adalah sebuah kenyataan. Entah angin apa yang membuat saya semakin yakin, suatu hari saya akan menulis novel, novel yang kisahnya berasal dari kisah hidup saya sendiri. Dengan ramuan sentuhan sastra, tentu saja :d. Dan entah kekuatan darimana juga yang membuat saya yakin, bahwa suatu hari novel saya itu akan penuh dengan jutaan kenangan indah sejak pertama kali saya tarikan jari jemari saya di benda petak kecil tubuh berlabel HP yang saya beri nama: Lappytawati Digitalansari. :y

Fluktuatif, itu sebuah sifat yang saya buat sendiri. Untuk menggambarkan bahwa: yea, saya seperti kupukupu. Bedanya, hari ini saya sungguh mengembangkan sayap dengan perkasa, tak seperti hari lalu yang masih dijatuhi prasangka dan curiga. Ah, bukan dijatuhi kok sebenernya. Sayanya aja yang punya frame pemikiran begitu, sehingga begitulah jadinya. Bukankah kita adalah seperti yang kita pikirkan? Allah pun pernah berkata, Aku adalah seperti yang hambaKu sangkakan. Iya kan ya? Well, well. Karena itulah saya selalu berusaha berprasangka baik pada Allah, sampai dengan hari ini, dan kalau boleh saya sampaikan, dimulai dengan lebih kencang lagi hari ini!!



Fluktuatif, gampang berubah, sugestif, mudah terpengaruh. Olrait. Saya sudah tau sifat saya seperti itu dan tidak ingin saya berganti menjadi saya yang 'takbaik' garagara sifat itu. Saya bukannya pede menganggap sekarang saya seakan sudah 'baik', kawan. Hanya saja, saya sudah sangat bahagia mendapati diri saya, pada akhirnya, berada pada posisi nyaman yang setelah sebelumnya saya berhasil keluar dari zona nyaman yang maya. Posisi nyaman ini berbeda dengan zona nyaman sebelumnya, kawan. Posisi nyaman dan zona nyaman, jelas berbeda dari sudut pandang kacamata saya yang baru saja bertambah minusnya ini. Zona nyaman waktu itu, bersifat maya dan penuh hedon. Sedangkan posisi nyaman ini, seperasaan saya mengecap nyamannya posisi ini, adalah sebuah posisi di mana saya belum pernah betulbetul meletakkan diri dengan serius di dalamnya *yang artinya saya pernah memilih posisi ini tapi tidak betulbetul*, dan pada akhirnya menemukan diri saya benarbenar diinginkan dan sangat special di mata para penghuni bumi!! Sangat nyaman…

Dulu, ketika saya tau bahwa saya adalah tipikal orang yang fluktuatif dan sugestif *dan juga eksplosif serta agresif, sepertinya :D*, saya betulbetul memanjakan diri dengan sifat saya itu. Membiarkannya mengalir kemanapun saya ingin mengalir, tanpa berpikir panjang bahwa ada begitu banyak pagar berjalan yang berusaha menangkap saya agar tidak terbang jauhjauh dari tempat di mana saya semestinya berada. Makadariitu, ketika usia saya menginjak angka layak untuk menikah *ini menurut saya loh ya :$*, dan ketika banyak asupan pencerahan pikiran agar warna dalam otak ini tak melulu pink saja, saya pun betulbetul berusaha untuk tak lagi menjadikan karakter extrovert ini sebagai alasan pembenaran untuk teriakkan semua yang sedang saya permasalahkan ke seluruh dunia. Pelajaran sabar yang sudah saya dapatkan sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, pada akhirnya, perlahan tapi pasti saya implementasikan hari ini, belakangan ini, dan semoga di hari depan nanti hingga saya tak lagi punya kekuatan menulis.

Pun begitu pula jika pada akhirnya, karena tulisan saya yang sebelumnya, dua orang saudara menyarankan pada saya agar menghasilkan cerita dengan ketikan tangan saya sendiri, melalui pengalaman pribadi saya sendiri, *terutama untuk bagian itu, ujar akh fakhrul ;)* maka dengan sangat bahagia saya katakan bahwa sesungguhnya, pengalaman saya yang di bagian itu *entah apa maksutnya ya bagian itu? hehe* untuk sementara ini masih saya anggap sebagai sebuah bagian masalampau yang hanya saya ceritakeun pada orang sangat special saja. Bukan berarti kalian tidak spesial, kawan. Kalian juga special :). Namun simaklah dulu alasannya mengapa belum juga saya kisahkan bagian itu’.

Yeah, saya tak menafikan saya memang punya pengalaman di ‘bagian itu’. Akan tetapi, kawan, izinkan saya menyimpannya dulu dalam memori ingatan buatan Allah, menuliskannya dalam sejarah, mengetikkannya dengan rapi dalam database digital ini dengan lebih bergairah, menceritakannya hanya pada saudara yang sangat saya sayangi dan saya percayai, barulah kemudian, jika tiba masanya nanti, akan saya bagikan dengan penuh suka cita melalui cerita novel orisinil tulisan saya tanpa copy-paste suatu hari, Insya Allah. Jangan khawatir, gratis untuk yang rikwes ;) Hmm, apakah judulnya nanti akan begini: thekupu, Sebuah Novel MerahJambu? Aha, belum tau. Toh saya sendiri juga belum bisa pastikan, apakah novel tersebut akan terbitk atau tidak.

Hanya satu hal yang berani saya paparkan: I don’t know how, but I believe ^_^.

Terimakasih sudah terus menanti tulisan saya, kawan. Dan para penggemar, tentu saja *masihnarsisdikitajaya.com* :p

19 comments:

  1. ana cobe jujur dan selugas mungkin
    ana pribadi nda terlalu suke novel walau tak bise dipungkiri telah melahap beriburibu halamannye
    ana sendiri mencoba menghindarkan diri agar nda membuat karya sejenis itu, walau godaannye cukup besar ^_^
    tentang alasannye, ana merase ada jalan yang lebih baik untuk mnuangkan makna. jika nda pingin mencoba membuat sebuah buku penuh ilmu ade baiknye membuat biografi je
    walah, tapi itu cuma usul sih ade baiknye juga klo mau difikirkan agak serius ^_^

    ReplyDelete
  2. hmm....*setelah membaca tulisan dini dan saran Kanada*....hmmm....*bingung.com*
    ............. -_-' ..... '-_-''
    kok sepertinya kali ini dini serius..hmm...
    begini..begini..menurut saya tidak ada yang salah dengan novel..karna sebutannya novel-lah, beberapa orang 'mungkin' menganggap benda itu tidak menjanjikan pelajaran yang nyata dan sarat makna..padahal..bisa saja kita menghadirkan novel yg berbeda, Laskar Pelangi misalnya, nah..karna ini kita...Laskar Tarbiyah, seharusnya bisa menghadirkan novel yang lebih lagi dari novel-novel picisan lainnya..
    menanggapi saran Kanada, sy tidak membantah, hanya menyanggah *loh ape bedenye? wkwkwk*..kalo Dini nulis biografi,sy mengkhawatirkan, manfaat yang diberikan bisa jauh lebih sedikit dari pada kalo dini menulis sebuah novel yang menurutnya, itu memiliki banyak pelajaran didalamnya. Coba pikirkan, berapa persen sih anak-anak muda sekarang yang mau menyisihkan waktunya untuk membaca? nah dari sekian persen itu, berapa persen lagi sih yang bersedia membaca atau sekedar membuka buku yang begenre biografi??
    Jikalau makna2 kehidupan dan segenap pelajaran2 kehidupan dini bisa Dini tuangkan dalam sebuah novel, dengan gaya yang ringan, ana rasa dan pikir, akan lebih banyak orang yang bisa mengambil manfaat..
    hmm...back to niyat...gimanapun, kita menulis untuk menambah manfaat bagi org lain, dg kemampuan dini yang cukup menguasai 'bahasa remaja' yang menarik dan ringan banget, ana pikir, dini lebih cocok menulis novel dan menuangkan ide berikut pengalaman2nya yg...yah...bisa saja membuat orang penasara..dengan dunia alien..dunia orang-orang asing...dunia tarbiyah...

    hmm...wallahu'alam..

    ReplyDelete
  3. for both:

    1. dini belum menemukan alasan tepat untuk membuat sebuah biografi bagi seorang dhz.. siapa dhz? siapa yang mau baca? *selain temanteman dan keluarga, barangkali* :D

    2. proses penuangan makna, bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Benarlah jika kita temukan, hadits Atentang 'niat' ditaruh pada tempat pertama. folosofinya, well well, mesti sudah pada paham semua :)

    3. bahwa novel ini, terbit saja belum tentu hehe.. eniwei, thanks for da suggestion and support, abangku yang baik dan kku yang cantik *sepertiku* :p

    semakin benarlah bahwa kita, dan temanteman yang membaca tulisan dan komen ini, adalah bagian dari jalan ini.. bahkan ketika memilih ataupun tidak.

    ReplyDelete
  4. hehe.. novel yah? menarik, manakala membuat frame dari judul dulu baru akan nulis :D

    ditunggu, sebuah karya merah jambu milikmu :P

    ReplyDelete
  5. just do it dek...lakukan apa yang antum cita-citakan...biar nanti kata-kata itu tak akan lagi terucap setelah mereka melihat hasilnya...sejauh itu adalah kebaikan dan memberi banyak manfaat untuk orang lain...kerjakanlah...karena kita diciptakan untuk terus beramal bukan berbicara...satu mulut...tapi ada 2 tangan...2 kaki...2 mata...2 telinga...

    ReplyDelete
  6. but...sebagai catatan buat dek dini...jika novel itu adalah kisah masa lalu yang penuh dengan warna kelam dan kelabu...jangan pernah kau tulis tapi lupakanlah...lupakan...atau jangan kau kemas yang kelabu itu menjadi warna pink yang indah...cukuplah yang kelabu itu kita buang jauh-jauh dari warna-warni kehidupan yang indah ini...karena jika kelabu itu berpadu dengan warna lain, maka warna lain itu juga ikut pudar...

    ReplyDelete
  7. Thekupu.....satu suara dari teteh untuk novel merah jambu myu dek din :) tulislah..tulislah..tulislah,,,
    eummm thekupu teteh boleh mnjdi salah satu yg request ya,,*biargratis.com* hi hi...^_^

    ReplyDelete
  8. wah, makasih buanyak banged untuk supportnya, kawan ^_^

    jazakallah khair ya bang fakhrul. Iyeap, akan ada konsultasi, tentu saja, sebelum novel ditulis agar bukan sisi kelabu yang tak layak yang keluar, melainkan warnawarni padu dan segar ^_^. Dan, yeah nantikan saja, seperti yang dini tulis di point: 3. bahwa novel ini, terbit saja belum tentu ;)

    but don't worry, I don't know how but I still believe. Sekarang sedang akselerasi preparation, temanteman.

    buat teteh, tenang teh, ntar dikirim langsung ke rangkasbitung kalo dah jadi dalam bentuk novel :D

    thanks a bunch skali lagi ya semuanya...

    ReplyDelete
  9. komen apa yah??? kita punya keinginan yg sama ko, menuangkan kisah dalam tulisan, bukan sekedar tulisan, tapi tulisan yg bermakna, meninggalkan kesan bagi pembacanya, juga memberikan ilmu yg bisa berujung pd tindakan menuju kebaikan (hihihi... sounds so muluk...). sedikit iri dgn kupu2 yg sudah rajin menulis di blog ini, sudah satu langkah lebih dekat menuju realisasi novelnya, aku mau nyusul aahhh... ;)

    ReplyDelete
  10. menunggu novelnya segera terbit :)
    cetakan pertama gratis yah, hehe.. bakal jadi bestseller nih tampaknya..

    ReplyDelete
  11. @ k' tika, aiiih kak tika teh bikin saya tersipu deh :$ olrait kak, mari menulis!!

    @ k'piew, amiiin ya Allah amiiin

    *untuk yang doakeun, novel plus tanda tangan kalo gituh* :s

    ReplyDelete
  12. sebenar'e saie termasuk org yg kurang suka bace.. kecuali tuh novel ad gambar²nye.. atau ade hot²nye ^_^

    tapi demi kreatifitas dan kemanusiaan
    saie dukung lah penerbitan novel nye
    tar jangan mahal² yeh..
    maribu jak satu eksemplar.


    idup penulis pontianak!!

    jangan sampe kayak pontianak teenager undercover

    ReplyDelete
  13. @ fery, aiiih novel lima ribu kesian penulisnyeh.. tapi, kalo semisal bise ma'ibu, apakah fery bersedia jadi publishernya? jadi, jika ada kerugian, kita tanggung bersama hoho..

    hidup penulis Pontianak!!

    tentu saja beda, will not like other novel, sure ;)

    ReplyDelete
  14. biar maribu, tp klo laku sampe ratusan juta eksemplar, pasti brek epen poin nye nyampe,lewat malah.

    make'e jual sampe ke negara tetangga.
    macam timor leste tuh

    :D

    ReplyDelete
  15. amiiiin ya Rabb..ijabahlah doa saudara hamba yang hobi ngeplurk tapi belon dapat emote **yahoo** dan kawankawan ini :s

    siap menjadi tim marketing untuk dibawa ke negara tetangga? yuuk mariii.. hoho..

    ReplyDelete
  16. Assalamualaikum. Insya Allah sangat bagus, inspiratif. Pokoknya jangan pernah surut untuk menulis, kita harus menulis sebelum tinta kehidupan kita terkikis dan habis. Kita harus menulis untuk mengabarkan "keberadaan" kita. Sukses yah. Terima kasih atas kunjungannya diblog saya.

    ReplyDelete
  17. syukron katsiran ya kak jaisy :) Makasih juga udah mampir ke blog saya, especially ngomen di blog saya. Salam silaturahim :D

    ReplyDelete
  18. Seseorang di dunia penerbitan pernah bilang, "you can't want to be a writer; you have to be one." Jadi, you can't want to compose a novel; you have to start writing one.

    Apa pun kisahnya, seputih apa pun atau sehitam apa pun atau bahkan semerah jambu apa pun kisahnya, pasti tetap ada makna di belakangnya. And with your flowing style of writing, surely it'd be a worth-reading one.

    I'd be glad to read yours one day *sambil berkata, "finally I can get to dig the merah jambu part of you", hehe*

    Buena suerte (good luck)!

    ReplyDelete
  19. aha, my great sister who's gonna soon get the happy pink *say green* marriage :x

    and I am starting to write one, here kak :)

    really nice to have such a wonderful spirit like this... smoga smakin banyak yang komen *seraya berharap saya beneran akan menulis novel yang diterbitkan*, smakin cepat Allah ijabah doa yang terlantun dari hati dan lisan saya, amiiin ya Rabb :)

    coz just for your information, people... novelnya akan saya tulis, dengan sebuah syarat dan ketentuan berlaku ^_^

    a bunch of thanks, once more.. untuk semuanya...

    ReplyDelete

Because sharing is caring