dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Monday, 18 May 2009

I live, I laugh, I love...


I live only once, but if I make it right, once is enough...

Begitu bunyi motto hidup yang pernah disandang oleh seorang yang teramat sangat saya tempatkan spesial posisinya dalam daftar panjang sahabat saya. Kalau saja boleh membuat ranking dalam sebuah persahabatan, maka dia saya tempatkan di posisi pertama. Tapi untunglah, semua sahabat saya juara 1!! Karena mereka semua sungguh spesial, dan sangat berbeda ^^. Senang sekali menjadi sahabat kalian semuanya...

Nah, dan motto hidup sahabat saya yang baru pulang beberapa bulan lalu dari sebuah negara yang amat sangat ingin saya kunjungi sejak saya duduk di bangku kelas 3 SMP itu, malam hari ini menginspirasi saya untuk menulis (lagi).



A live... full with laugh... to have such a delicious love...


Tenang saja, kawan... Saya tidak akan segera ngomongin cinta melulu kok. Sudah agak sedikit eneg sama 'cinta' nih belakangan ini. Di manamana diomongin teruuuus. Di fesbuk dijadiin status, di lagu dijadiin judul, di arena kampanye dijadikan atas nama, di tepi jalan malahan dijadikan plang buat nama jalan. Bah. Apapaan itu? Bagi saya, cinta itu bisu. Ga bisa ngomong. Seperti bulan, bisu, diem aja. *Aih, ngapain jadi kebawa arus ngomongin cinta juga!?*


Oke oke. Sebetulnya malam ini saya ingin sedikit berbagi tentang fenomena bahasa, yang sadar tidak sadar, sering kita dapati dalam kehidupan seharihari ketika kita lagi ngobrol dengan temanteman. Sebuah fenomena pelafalan sebuah kata yang sound-nya sama, tapi punya makna berbeda. Seorang blogger, Wahyudi, yang pernah ikutan short course bahasa Inggris (English for Business Communication – Advanced) di UNSW, Australia, menyatakan bahwa salah satu temannya yang dari Mesir dan Turkey beranggapan: English is Crazy Language. Aha! How come? Sementara saya sangat yakin dan percaya: English is wonderful, meskipun ga dipake ketika diperiksa amalyauminya di akhirat nanti sama malaikat utusan Allah. *kayak pernah aja :p*


Lantas, dianalisalah beberapa faktor penyebab kenapa sang Mesir dan sang Turkey tadi bisabisanya mengatakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang gila. Saya juga penasaran, kawan. Soalnya, setau saya, Bahasa Inggris sama sekali tidak terdaftar dari partai manapun, ga stress tuh dia pas ga kepilih. Nah, maka dari itulah, saya hubungkan dengan hasil analisanya Wahyudi tadi, bahwasanya salah satu faktor penyebabnya adalah: beberapa kata dalam bahasa, in this case is English, memiliki bunyi sama tapi ternyata kata-katanya berbeda. Ini membuat kita ragu, kata mana yang disebutkan oleh pembicara, karena bunyi yang yang disebutkan tersebut kemungkinan berbeda dengan yang kita fahami, misalanya too, to dan two; whether and weather; hear and here; buy and by; there and their; witch and which; threw and through. Ini akan membuat kita salah memahami apa yang pembicara maksudkan.


Yeah, yeah. Just like when I said to you orally, "I laugh you", maybe when you pay no attention to what I said, you're gonna think that I was expressing my fully creamy delicious affection... But it wont be sooooo much different when it is stated as a very wonderful and attractive called: written utterance. Laugh is still spelled L.A.U.G.H and Love is still spelled L.O.V.E though I am absolutely deny your doubtfulness on what I was feeling about when saying so haha... nah, mulai dah ngomong cintaaa meluluuuu... apa memang dasar mulut melayuuuuuu... suka yang senduuu senduuuu *aiiih, lirik lagunyah Efek Rumah Kaca kenapa jadi saya acakin begini?*


So, people... wanna know what should we do when we have problem with this kind of language phenomenon? Yeah, masih mengutip Wahyudi lagi nih. Wahyudi (2009) berkata bahwasanya:


"Solusinya: Saya kira kalo kita sudah bisa memahami context yang dibicarakan persamaan bunyi tersebut tidak akan jadi masalah bagi kita. Usahakan untuk memahami context pembicaraan tidak dengan kata per kata tapi keseluruhan context yang pembicara bicarakan."


*serasa lagi nulis skripsi ajah T_T. Andaikan, nulis skripsi bisa sefleksibel ini, skripsi saya pasti sudah selesai sejak semester 3 lalu. Untunglah tidak boleh nulis seperti ini, karena kalo semester 3 saya udah selesai, barangkali sekarang saya udah punya 3 anak :p*


Begitulah, kawan... That's why I believe I live. When I live I have spirit to burst out my smile, then spreading it out happily into a luscious laugh, and finally at the time I will be blessed by the bliss of Allah for seeing me much far better than today, HE will be coming to me every second of my steps to let me joke flirtatiously with my great estuary, called L.O.V.E.


Baiklah, saya memang melayu... Ujungujungnya cinta lagih :D Eh, tapi tadi di awal kan saya dah bilank, 'saya tidak akan segera', artinya bukan berarti saya ga akan nyinggung tentang cinta kan? Yaaah, akui saja, kawan... Tak perlu gengsi begitu membuat pernyataan lisan maupun tertulis tentang ketajaman dan keakuratan alur berfikir this very mysterious lady :p

3 comments:

  1. hmm...just write about love if you wish to..no problem.. ^_^...paling jadi bahan pedebatan di fesbuk lagi, hehe..

    But I think, Dini would say the word "laugh" much-much-much-more than "love", hahaha...based on my deep research and observastion *lebay mode on*...Dini seems to find certain sensation when she laughs someone else..some kind of bringing a HUGE happiness into her life...hahaha.. kidding ..^_^v peace..

    ReplyDelete
  2. great sister, great observer!! congrats, sist.. u may get my total laughing today!! ahahahahahahahaha :p

    ReplyDelete
  3. I told you.. (see..I'm absolutely right.. he)

    ReplyDelete

Because sharing is caring