dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Saturday, 18 April 2009

Wanita embrio II


Rekayasa Allah SWT selalu indah, tak pernah salah, dan pasti penuh berkah. Itulah sebabnya, mengapa wanita embrio selalu menanti, menanti sampai ia mati. Takkan berhenti dan tak ingin berkata kalah. Takkan peduli gejolak ombak. Takkan hiraukan gemulai badai. Takkan berhenti, meskipun tiada penghujung di dunia ini.

Penantian dalam begitu banyak keterbatasan, demi 3 kata: Berubah, Lebih Baik, Jati Diri. Ah, siapa sebenarnya mereka, 3 kata itu? Mengapa mereka begitu diinginkan oleh si wanita embrio? Lalu, apa hubungannya dengan pengembangan pancaindra untuk melihat cahaya? Mengapa wanita embrio begitu ingin mematangkannya dalam dunia-rahim demi kelahiran kedua? Baik, kita simak setelah yang berikut ini *eh, ini postingan versi serius, dini! Jangan maen-maen!*

Baiklah, baiklah... Mari kita mulai, mencari tau terlebih dahulu, siapakah atau apakah yang sesungguhnya dinantikan oleh sang wanita embrio.



Mari mulai dengan kata: BERUBAH.

Tak ada yang akan memberikan sangkalan pada pernyataan bahwa semua orang pasti berubah. Bahkan telah diyakini, tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Pun, begitu dengan apa yang terjadi pada wanita embrio. Kedua matanya yang ikut menantikan cahaya, melihat dengan baik fakta ini, dan tak kuasa untuk tak menjadi dewasa dengan cara menolaknya. Itu fakta, kan kawan? Bukankah akan menjadi sangat tidak dewasa ketika sang wanita embrio menolak fakta bahwa segala sesuatu pasti berubah? Itulah sebabnya, sang wanita embrio menanti perubahan, pada dirinya, pada hidupnya, di semua lini.

Mari lanjutkan dengan kata: LEBIH BAIK.

Sang wanita embrio sangat sakit sekali. Sungguh sakit ketika ditampar, dibangunkan dengan kasar, dan dilemparkan ke tepi istana penuh singgasana. Terlempar, tapi terbangun sadar! Pantaslah saya ditampar! Rupanya, perubahan yang saya agungagungkan waktu lalu, tidak berjalan sesuai dengan filosofi perubahan bayi. Wanita embrio kemudian menyimak sebuah suara: ada tangisan, ada ucapan terbatabata berbunyi "Umi umi, abi abi, mama mama, papa papa" yang menggemaskan hati, ada teriakan riang di tengah lapangan rumput hijau, hingga kegelisahan suara remaja untuk berbelok ke kanan atau ke kiri. Wanita embrio tersadar oleh suarasuara itu. "Tamparan tadi pastilah karena perubahanku terjadi tak mengarah pada sebuah kemajuan", ujar wanita embrio, melanglang buana jauh ke dalam hati. Rupanya, tamparan itu sangat tepat hari ini. Wanita embrio mulai paham, bahwa perubahan saja tidak cukup. Harus dilengkapi dengan kata: Lebih Baik. Maka, tertatihlah wanita embrio berjalan, menuju perubahan yang lebih baik.

Mari, akhiri ia dengan kata: Jati Diri.

Wanita embrio mulai merisau lagi. Sudah hampir lelah berjalan, mencaricari cahaya, yang pelanpelan mulai tiba di hatinya, tapi kenapa masih saja merisau? Cari apalagi, wahai wanita embrio? Perjalanannya sudah benar, tujuannya sudah ada, meskipun pasti nanti akan dihalangi dan terhalangi beragam bentuk duri. Duri itukah yang membuat risau? Ah, tidak rupanya. Wanita embrio melihat, sebuah tanda besar setinggi cakrawala: Jati Diri. Apa lagi itu? Dalam perjalanannya, wanita embrio hanya melihat beberapa buah pohon berjejer, dan ada label: POHON JATI. Apakah ia semacam pohon?

Lantas, lexical otak sang wanita embrio mulai bergerak. Otaknya berputar pada porosnya. Apa hubungannya perubahan yang lebih baik dengan sebuah pohon? Ia pun mencaricari, apa itu jati. Eureka! Jati, berasal dari kata sejati, rupanya. Sejatining Diri. Jati diri. Diri yang sejati. Diri yang bukan tiruan. Diri yang tak dibuatbuat. Yang paling penting: Diri yang pas dengan sang wanita embrio. Ya! EUREKA! Itu dia jati diri!!

Wanita embrio kini tersenyum, senyuman sangat manis sekali. Senyuman yang membuat orang di sekelilingnya tersenyum pula. Bahkan, senyuman yang membuat mereka yang belum menemukan jati diri pun tersenyum. Mereka saling bertanya: apakah wanita embrio sudah menemukan jati dirinya? Wanita embrio kemudian mengajak mereka menonton sebuah film berjudul Means Girl. Dengan diplomatis, dipaparkannya seorang tokoh bernama Cady Heron yang bermetamorfosis dari gadis lugu menjadi gadis populer. Dengan runtut, diceritakannya bahwa proses Cady dalam kisah itu, tak dibarengi dengan prinsip be yourself. Diperlihatkannya langsung melalui film itu, Cady dijauhi teman-temannya dan merasa tak nyaman dengan diri Cady yang baru.

Sanguinis, koleris, melankolis, plegmatis. Wanita koleris sudah selesai menonton film, dan sekarang sedang berada di perpustakaan. Ia mengobservasi 4 kalimat menarik itu. Sanguinis, dengan ciri khasnya. Koleris, dengan ciri khasnya. Melankolis, dengan ciri khasnya. Plegmatis, dengan ciri khasnya. Jantung sang wanita embrio berdegup sangat kencang ketika sampai pada bab Sanguinis. "Ah, kenapa penulis buku ini membicarakan diri saya?", tanya wanita embrio dalam hati. Sedikit degupan juga dirasakan ketika wanita embrio menelaah bab Koleris, Melankolis, dan Plegmatis. Wanita embrio kembali tersenyum, senyuman manis, sungguh sangat manis. Rupanya di sana ia berada. There she is, with fully creamy smile.

Cukupkah sebegitu? Wanita embrio masih merasa kurang. Ia sekarang mencari cara untuk mengintegralkan 4 kalimat yang ada dalam bab buku tadi. Tujuannya adalah agar integrasi mereka bermuara pada rangkaian kalimat indah: Berubah menjadi Lebih Baik dan sesuai dengan Jati Diri. Wanita embrio sekarang tersenyum lagi, sambil bertanya dalam hati: "Sudahkan aku temukan yang aku cari?"

TO BE CONTINUED....

*semakin seperti sinetron ya? weleh, saya ga suka sinetron. Ya udah, kalo gitu 2 episode cukup. Silahkan simpulkan sendiri ^_^*


Para penggemar, terima kasih sudah menyimak dan bersabar menantikan kisah wanita embrio. Salam Senyum Setiap Saat.

No comments:

Post a Comment

Yang roaming dilarang masuk :p