dhz tweets fb dhz dhz on pinterest dhz g+ dhz socmed dhz blogs dhz is ... Home Home Image Map

Tuesday, 2 October 2007

Minderkah Anda?

Idul Fitri sebentar lagi. THR sudah dibagi-bagi. Tapi saya males ah ngomongin THR melulu. Kasian perusahaan-perusahaan yang tersindir, yang tak sanggup membayar karyawannya dengan THR yang layak. Kasian pula beberapa karyawan yang meringis bingung dengan nominal THR yang seakan sedang puasa satu bulan *HEH! Katanya ga mau ngomongin THR, ya udah jangan disinggung!*. Oke, deh oke. Mari bicara tentang hal lain, dan kalau bisa jangan tentang mati lampu lagi. Yang itu juga sudah bosen. Kasian PLN, Perusahaan Negara yang barangkali juga butuh menjadi manusia, punya rasa punya hati, lelah tiap hari dicaci dan dimaki.

Barusan saja terlintas dalam benak saya tentang acara ngumpul blogger community bernama pesta blogger. Temen saya, Puspa Hanandhita, mengabari saya bahwa akan ada pertemuan para blogger se-Indonesia di Jakarta 27 Oktober 2007 nanti. Info lengkapnya silahkan ke sini atau di sini kalo ga salah itu alamatnya. Coba aja.

Nah, bicara tentang pertemuan itu tuh, blogger se-Indonesia, apakah saya termasuk blogger pula? Rasanya ga pantes deh. Melihat blog-blog lain dari blogrolling teman-teman via dunia maya ini, muncul perasaan minder aja. Blog saya tidak sekeran blog teman-teman. Blog thekupu ini tercipta secara iseng, ketika saya butuh tempat untuk menuangkan tulisan-tulisan saya selama bertahun-tahun sejak saya SMA. Dulunya saya pernah bikin 2 blog, berwarna pink juga. Saya sudah lupa username dan passwordnya, sehingga tak pernah lagi saya urus. Makanya, ketika saya ada waktu luang, saya sempatkan untuk ngeblog, bikin blog baru lagi.

Sekedar coba-coba gerakkan jari-jari di keyboard, klik ini itu lewat tangan kanan ini, mampir ke situs sana dan sini, copy dan paste, selesailah. Rasanya segitu saja proses saya berkreasi dengan blog ini. Masih cetek. Perasaan minder saya langsung muncul saat Puspa ngabari akan ada pertemuan blogger se-Indonesia di Jakarta nanti. Saya membatin, ”Count me out, I do not deserve to be one of them.”

Minder, tidak pede. Manusiawi tidak ya?

Itulah dia yang akan saya tulis sekarang. Tentang minder dan tidak pede.

Sebelumnya, izinkan saya membela diri karena memiliki rasa minder dan tidak pede untuk kasus blogger se-Indonesia ini. Saya merasa bahwa saya pantas untuk minder. Namun, saya sebenarnya sangat tidak suka dengan orang yang sering ke’minder’an, terlalu tidak pede dan terlalu sering merasa diri tidak pantas di antara jutaan umat manusia. *Eh, minder saya pantes loh ya à membela diri atau menusuk diri sendiri sih?*. Iya, sungguh saya tidak suka. Tapi, apa itu minder? Apakah minder itu tempat untuk menaruh kertas file? *beuuh, itu Binder euy bindeer*. Oke, ayo main bahasa.

Minder, dilihat dari sisi Bahasa Inggris, rasanya berasal dari kata ’Mind’. Diberikan suffix ’er’, menjadi noun, sehingga berarti ’Pemikir’. Namun, kalau dipindahkan ke Bahasa Indonesia, minder tidak lagi berfungsi sebagai noun, namun beralih fungsi menjadi adjective alias kata sifat. Ditilik dari kegunaannya, minder dinyatakan ketika ada seorang atau sekumpulan orang yang memelihara perasaan kurang percaya diri, cenderung ke arah rendah diri terhadap suatu individu atau suatu kelompok. Berbagai macam alasan yang menyebabkan manusia menjadi minder. Alasan paling kuat adalah rasa tidak percaya diri yang muncul akibat perasaan tidak memiliki apa yang dimiliki oleh orang yang diminderi *nah, sekarang mindernya sudah berubah fungsi lagi menjadi kata kerja, hehe main bahasa memang asik*.

Memperhatikan alasan minder yang paling kuat, yaitu tidak percaya diri, lalu berakibat pada rasa rendah diri, maka bisa disimpulkan bahwa minder bukanlah sifat yang layak dipelihara lebih lama lagi. Bukankah kita tidak dianjurkan untuk rendah diri? Bukankah rendah diri hanya kepada Allah saja, tidak kepada sesama manusia? Kalau rendah hati, iya harus. Tapi kalau rendah diri, waaah jangan terlalu lama dieram dalam diri, nanti capek sendiri.

Jadi, apakah saya sekarang masih rendah diri ya tentang blogger se-Indonesia itu? Hmmm, ada keinginan, tapi ke Jakarta sendirian kan sama aja nganterin jiwa raga dan harta *nah, kalo yang ini namanya shu’udzan ya?*. Belum beranak sudah ditimang, bagai menegakkan benang basah, tak ada gading yang tak retak, hehe hari ini semangat lingustic sedang mengalir dalam dada.

Ya sudah lah. Minder atau tidak minder, itu pilihan semua orang. Rendah diri itu kadang perlu, demi menjaga sifat sombong supaya tidak keluar dari koridornya. Saya kadang-kadang masih merasa bahwa diri ini terlalu sombong untuk ukuran manusia biasa. Izinkan saya minder hari ini.

7 comments:

  1. minder itu manusiawi kok din, kalo sampe ada orang yang gak punya rasa minder, keterlaluan itu orang...,boleh pe de tapi jgn bablas tetap ada norma dan etika yg harus di ikutin, namanya juga hidup bersosialisasi dan bermasyarakat, rasa minder itu pasti ada.( bawaan dari orok ) sekarang tinggal kitanya ajah yakin gak ama diri kita sendiri, bahwa kita bisa, bahwa kita mampu...!! setiapa manusia gak luput dari kesalahan dan di dunia tidak ada manusia yg sempurna ( no bodys perfect ), kalo kita merasa punya kekurangan, justru yg harus kita tonjolkan adalah kelebihan kita tuk menutupi kekurangan kita...!
    Masalah Pesta Blogger nanti, kalo dini yakin bisa dan punya niat tuk lebih ingin tahu dunia perbloggeran, gak usah minder..dateng ajah din..!! Insya Allah apa yg dini takutkan dan cemaskan gak akan terjadi, malah mungkin dini akan dapat lebih banyak pengalaman, pengalaman yang baik tentunya...,so..be your self body ! don't be afraid...

    ReplyDelete
  2. hmm, minder tuh memang biasa dirasakan bagi siapapun juga...
    tp yg penting gimana kelanjutannya jeung, apakah setelah minder kamu malah mundur atau move on? ^_^

    that's your choice...

    mengenai pesta blogger, aku ga bisa deh dateng. aku kan di malang, males aja kesananya. Seandainya aku di jkt mungkin pengen banget :)
    dinie ikut? kalo ia bagus lagi... dateng aja non :)

    mengenai Blog, have FUN aja jeung... jangan terlalu gimana-gimana mikirnya... ok ^_^

    ReplyDelete
  3. Setuju banged.

    Minder itu manusiawi dan lebih manusiawi lagi kalw rasa minder itu ada pada mba Dini. Kita pun begitu juga ada saatnya minder menunjukkan true colornya alias jati dirinya.

    Kekurangan akan ada disetiap orang. Jangan takut dengan ciri khas masing masing. Caiyooooooooooooooo

    ReplyDelete
  4. setuju sama semua pendapat teman2 :)

    ReplyDelete
  5. KITA KAN BLOGGER, DIN!!!


    ah, kauuuuuuuuuuuuu...

    ReplyDelete
  6. Minder, iya lah...pasti ada, tapi kedatangan saya ke sana justru untuk melawan rasa minder itu :) Dan barangkali kita menganggap 'mereka' terlalu tinggi sehingga bikin kita minder. Di sisi lain, saya juga yakin peserta acara tersebut sesungguhnya 'saling' merasa minder. :)

    ReplyDelete
  7. Saya cari dibeberapa website dan dapat tipsnya di website ini, terima kasih, mau dicoba oleh saya.

    ReplyDelete

Yang roaming dilarang masuk :p